Sepanjang hidup Freya, dia telah belajar banyak hal. Sains, matematika, manajemen, bahkan pengembangan karakter diri. Namun, dari semua pengajaran yang ia peroleh, Freya belum pernah menemukan materi yang membahas tentang cara menyampaikan informasi perselingkuhan pada suami wanita lain. Terlebih lagi, objek perselingkuhan wanita itu adalah suaminya sendiri.
Jadi, mau tak mau Freya hanya bergantung pada instingnya sendiri dalam bertindak. Hanya saja, tampaknya segala sesuatu tidak semudah yang ia harapkan. Alex tampaknya terlalu rumit untuk dipahami Freya.
"Apakah kamu punya bukti perselingkuhan istriku?" Suara Alex terdengar malas, menggoda, seolah-olah suaranya memang diciptakan dengan efek kenakalan khusus yang memikat lawan jenis.
Mendengarnya, Freya teringat dengan musik opera yang ditemani dengan secangkir arak yang memiliki kandungan alkohol berat. Ya. Seperti itulah perandaian yang Freya ciptakan untuk mendeskripsikan suara maskulin Alex. Merdu, indah, menggoda, dan memabukkan.
"Aku melihat langsung suamiku dan istrimu berada di sebuah vila daerah Bogor. Mereka menghabiskan waktu berdua di sana." Menarik napas panjang, Freya menggertakkan gigi, menahan emosi yang mengancam bobol. Setiap kali teringat bayangan Banyu bersama Helen, retakan luka yang tergores di hatinya semakin bernanah memilukan.
"Apakah berada bersama di sebuah vila berarti mereka selingkuh?" Alex menaikkan sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
Meskipun sekilas Alex mempertanyakan kredibilitas informasi Freya, tapi jelas nada suaranya dipenuhi ketidakpedulian dan terdengar acuh tak acuh. Seolah-olah Alex tak ingin tahu kebenaran sama sekali. Menyadari kenyataan ini, Freya menggigit bibirnya dengan sedikit frustasi. Benarkah Alex tidak memiliki kepedulian yang cukup pada pernikahannya sendiri? Apakah dia tidak memiliki respek nyata sebagai seorang suami?
"Aku melihat mereka b******u. Bermesraan. Berpelukan. Dan …." Tak bisa melanjutkan, Freya menggelengkan kepalanya tak berdaya. Mengingat semua itu masih membuat hatinya yang retak semakin rusak memilukan.
Tangan Freya yang terkepal menekan keningnya, memaksa pengendalian dirinya tetap terkontrol dengan baik. Setelah beberapa detik berlalu, dia mendongakkan kepala, menatap Alex dengan sepasang mata rapuh yang menawan.
"Mereka berselingkuh, itu adalah kenyataan yang tak mungkin aku buat-buat. Bisakah kamu melakukan sesuatu agar istrimu bisa menjauh dari suamiku?"
Bukannya Freya tidak mencoba. Dia beberapa kali mencoba. Menggapai suaminya lagi, membenahi pernikahannya yang mulai retak. Namun, hasil akhirnya hanya satu. Perdebatan yang kian memanas.
Mungkin, pernikahan itu seperti porselen. Sekali jatuh, akan tercerai berai. Meskipun setelah itu direkatkan kembali, jejak retaknya akan tetap ada, tidak mungkin terhapus. Saat tragedi pengkhianatan mulai terjadi, hubungan yang seharusnya manis berubah pahit dan penuh rasa sakit.
"Kamu yakin perselingkuhan itu nyata? Dengan mengandalkan kata-kata saja tanpa bukti, apa yang kamu harapkan aku lakukan?" Alex bersandar nyaman, mengangkat kaki kirinya, menopangkan di atas kaki lainnya dengan gerakan anggun.
Cara lelaki itu menatap Freya, caranya mengamati, bahkan caranya merespon, penuh dengan kemalasan yang menggoda. Sosoknya seperti singa yang sengaja bermain-main dengan rusa. Sengaja diam melihat tingkah lakunya, sesekali memancing keagresifan mangsa, hanya untuk bersenang-senang dan bermain sesuka hati.
"Apa kamu tidak mempercayaiku? Aku tidak pernah menyampaikan informasi palsu. Kita dua orang yang dicurangi oleh pasangan kita masing-masing. Apa kamu tidak ingin mempertahankan rumah tangga yang sudah kamu bangun? Telitilah hati-hati siapa istrimu sesungguhnya. Mungkin wanita yang menemanimu tidak sebaik yang kamu kenal selama ini!"
Mengepalkan kedua tangannya, Freya menarik napas panjang, mengembuskannya kembali, dan menahan sekuat hati agar amarah yang siap meledak di dalam hati tetap terkendali.
Pengkhianatan Banyu selalu menjadi noda yang mengotori jiwa Freya, menolak hilang tidak peduli berapa kali pun dia mencoba menghapus. Hati adalah sesuatu yang mampu mengingat lebih baik dari otak. Sekali tersakiti, memori itu akan terekam selamanya.
"Jika istriku selingkuh—"
"Istrimu benar-benar selingkuh. Ini bukan perandaian!" Ujung jari-jemari Freya ditekuk membentuk sudut sembilan puluh derajat, menekan tepi meja kerja berlapis kaca. Terdengar suara gesekan samar, jejak-jejak kuku Freya menggores permukaan meja.
Dilihat secara sekilas, Freya tahu Alex pasti memiliki kemampuan menyelidiki kecurangan Helen. Hanya masalah waktu saja lelaki itu menyadari sejauh mana kecurangan istrinya telah terjadi.
"Kita adalah dua orang yang tersakiti. Kita adalah dua orang yang jatuh dalam kebohongan pasangan. Jika ingin keluarga kita bertahan, setidaknya, bantu aku dengan cara mengendalikan istrimu. Helen tidak mendengarkanku, tapi dia mungkin mendengarkanmu!" Freya menatap lantai marmer yang berwarna gelap, segelap suasana hatinya saat ini. Wajahnya penuh kesuraman. Ada kekalahan di sorot matanya, kekalahan yang sebenarnya masih berusaha ia tolak dengan mati-matian.
"Aku mohon. Tolong, cobalah berbicara dengan istrimu, jangan biarkan dia mendekati suamiku. Jangan biarkan …." Suara Freya tercekat, jatuh dalam keputusasaan. "Jangan biarkan dia menghancurkan rumah tanggaku."
Freya telah mengalami banyak jenis kehilangan. Keluarga, kekayaan, pamor, bahkan identitas diri. Tapi satu hal yang tak pernah bisa ia tanggung. Dia tak akan sanggup jika kehilangan Banyu. Lelaki itu adalah napasnya, detak jantungnya, oksigen dalam hidupnya yang gersang.
Alex memainkan bolpoin hitam di antara jari tengah dan jari telunjuk, memutarnya berulang kali secara periodik. Bibir tipisnya membentuk garis lurus, sementara matanya menyipit lama, memikirkan sesuatu. Sorot mata Alex tampak rumit.
"Freya Hardiansyah?" Alex menyebut nama Freya, dengan sedikit getar di ujungnya. Nadanya lembut, hati-hati, hampir seperti belaian lembut seorang kekasih pada pasangannya.
Tanpa sadar, Freya bergidik ngeri. Untuk sesaat, dia merasa terancam oleh sikap Alex yang terlalu santai.
"Ya." Anggukan Freya mengonfirmasi kata-kata Alex.
Petugas resepsionis tadi telah menyebutkan nama Freya secara sekilas. Menyadari bagaimana Alex masih mengingatnya, Freya langsung menggolongkan Alex sebagai manusia berdaya ingat tinggi.
"Aku akan menyelidiki informasi ini dengan baik. Jika apa yang kamu katakan benar, kenapa kita tidak melakukan hal yang serupa?" Alex mengangkat sudut mulutnya, memunculkan senyum memikat paling sempurna.
Freya mengerjapkan matanya beberapa kali, ekspresi wajahnya menunjukkan kebingungan. Bibirnya yang sewarna ceri bergetar samar.
"Hal yang serupa?" Freya membulatkan matanya, penuh ketidaktahuan.
"Bukankah balas dendam yang paling baik adalah melakukan tindakan balasan serupa?" Alex memutar bolpoin dengan gerakan yang terkesan ceroboh. Tapi gerakan yang ceroboh ini, tampak membawa rasa krisis di hati Freya. "Kenapa kita tidak membalas perselingkuhan mereka dengan perselingkuhan juga? Bagaimana jika kita menjalin hubungan dan menciptakan kesenangan baru?"
Alex menatap profil wanita yang duduk di depannya dengan seksama. Ada ketertarikan yang muncul di sorot matanya, perlahan bergulung menjadi minat yang besar dan berhasil menarik minatnya.
Ada aura khusus yang Freya pancarkan, seolah-olah mengundang obsesi lawan jenis dengan cara yang unik. Bahkan di mata Alex yang penuh dengan pengalaman, pesona Freya masih memiliki efek yang kuat.
"Apa Bapak bercanda?" Tubuh Freya kaku, punggungnya setegak papan.
"Apa kamu tak berani mengambil tawaranku? Seperti yang kamu lihat, aku memiliki banyak hal-hal baik. Dekat denganku juga membawa banyak manfaat! Jadilah penghangat ranjangku!" Senyum Alex terlihat main-main, tapi matanya yang sekelam malam menunjukkan keseriusan nyata. Tak ada jejak humor dari nada suaranya. Tak ada lelucon sama sekali.
Freya menatap Alex cukup lama, mengepalkan kedua tangannya, dan menyuarakan kata hatinya.
"Maaf, nilai saya lebih tinggi dari yang Bapak pikirkan. Sayangnya, saya bukan wanita yang bisa Bapak ajak main-main. Orang yang berani bermain api, pada akhirnya dia akan terbakar dan berakhir tragis!"
***