"Bagaimana pertemuanmu dengan Alex?" tanya Sintia saat ia bertandang ke rumah Freya di sore hari setelah selesai dari wawancara kerja.
"Jangan tanya!" Freya membuang tabloid di tangan, membiarkan benda itu mendarat di meja dengan mengenaskan.
"Hah? Apa maksudmu?" Sintia yang tak terlalu memahami kekesalan temannya, mengambil brownis di atas piring, menghabiskan satu potongan dalam waktu singkat.
"Pernah denger nggak sih, istilah 'Like mother, like son' ini mungkin juga berlaku 'Like husband, like wife'." Freya mendesah panjang, menatap langit-langit ruang tengah dengan pandangan tak berdaya. "Pasangan itu mungkin cerminan kali ya. Helen berselingkuh dengan laki-laki lain. Dan Alex ternyata nggak berbeda jauh dari Helen!"
Sintia yang baru saja menghabiskan satu gelas air putih, duduk di sisi Freya dan menatap temannya dengan bingung. "Bentar-bentar, aku jadi bingung. Ceritain dulu hasil pertemuanmu dengan Alex!"
Melihat temannya yang penuh rasa ingin tahu, Freya akhirnya mengungkapkan apa yang terjadi pada pertemuannya dengan Alex, termasuk tawaran tak masuk akal dari Alex yang merendahkan Freya. Mendengar semua ini, kening Sintia berkerut dalam. Dia mengutuk Alex yang ternyata sama bejatnya dengan Helen, dalam hati memahami bagaimana sepasang suami istri gila itu ternyata bisa bersama dalam sebuah pernikahan.
"Suami istri yang sama-sama abnormal. Yang satu selingkuh, yang lain menawarkan perselingkuhan." Sintia mencibir, sedikit jijik. "Bener kata Papa. Papa bilang saat kita ingin mendapatkan pasangan yang baik, satu-satunya cara adalah memperbaiki diri kita sendiri. Karena kualitas pasangan itu sebanding lurus dengan kualitas kita!"
Mata Sintia menyipit, kemudian mendesah panjang. "Mungkin itu tidak berlaku selamanya!"
"Kenapa?" tanya Freya tak mengerti.
"Karena kamu yang menurutku termasuk wanita baik-baik, bagaimana bisa terjebak dengan Banyu yang ternyata suka berbuat curang?"
Mendengar ini, mereka berdua sama-sama terdiam. Hidup selalu memiliki hukum keadilan tertentu. Freya jadi bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah di masa lalu ia pernah berbuat dosa yang membuat Tuhan memberikannya suami seperti Banyu?
…
Dua minggu berlalu. Tak ada yang banyak berubah dari hari-hari Freya. Ia tetap melakukan aktifitas normal seperti biasanya, berhubungan dengan Sintia secara berkala, menghabiskan waktu di cafe ujung kompleks yang baru saja dibuka dua bulan lalu beberapa kali, dan meninjau dua pondok makan miliknya yang berada di Thamrin dan daerah Blok M.
Satu-satunya yang berbeda adalah ketidakhadiran Banyu.
Sore hari ini, Freya duduk di bangku teras, menikmati lemon tea hangat dalam gelas kristal tinggi. Layar ponsel menampilkan suatu gambar khusus yang baru saja seseorang kirimkan, membuat Freya tenggelam dalam kekacauan.
Dalam gambar itu, tampak Banyu sedang merangkul Helen dari samping, dan satu gambar lagi menunjukkan mereka memasuki kawasan hunian pribadi.
Freya memejamkan mata, menutupi rasa sakit di dalam hati. Proses pemotretan yang Banyu katakan nyatanya menjadi "proses lain" yang memiliki makna lebih dalam lagi. Suatu makna yang Freya sendiri enggan mendiskripsikannya.
Ponsel tiba-tiba berdering nyaring, menampilkan nomor asing di layar utama. Freya jatuh dalam kebimbangan. Nomor asing itu adalah nomor yang memberinya bukti foto terkait Banyu. Setelah menimbang selama beberapa detik, akhirnya Freya menerima panggilan.
"Freya, akhirnya aku bisa menghubungimu!"
Mendengar suara tak asing ini, Freya ingat dia adalah Sonya. Sepupu sekaligus orang yang paling berani membuat keributan dalam keluarga Hardiansyah lima tahun yang lalu.
"Sonya?"
"Ya. Memangnya siapa lagi? Aku butuh waktu lama untuk mencari kontak barumu! Freya, aku mendengar beberapa kabar tentangmu selama tiga tahun ini. Aku dengar kamu mengikuti jejakku!"
"Ya, bisa dibilang begitu!" Senyum Freya tampak getir.
Kisah Sonya hampir mirip dengan Freya. Mereka sama-sama menikah dengan orang biasa, tanpa latar belakang sama sekali. Perbedaannya mungkin hanya satu. Suami Sonya, Raka, seorang pekerja keras dan sangat setia. Sedangkan Banyu … kesetiaannya patut dipertanyakan.
"Aku mendengar dari Rina tentang suamimu. Namanya Banyu, kan? Aku melihat foto Banyu beberapa kali dari ponsel Rina!" Rina sendiri adalah adik Sonya, sepupu sekaligus kerabat Freya yang masih berhubungan dengannya cukup baik.
"Hanya saja, akhir-akhir ini aku melihat Banyu bersama wanita bernama Helen. Mungkin aku terlalu berpikiran negatif, terapi tampaknya gelagat mereka tidak bisa dibilang baik! Kebetulan Helen adalah atasanku di tempatku bekerja. Jadi, maaf sebelumnya, Freya, aku menangkap foto kebersamaan mereka dan baru saja memgirimkannya padamu! Apa kamu sudah lihat kirimanku?" Suara Sonya dipenuhi kekhawatiran.
Mendengar ini, sekarang Freya bisa menebak foto yang baru saja ia terima ternyata dari Sonya. Dari dulu Sonya memang seperti ini. Tindakannya tak pernah setengah-setengah. Saat ia ingin membela seseorang, ia akan membela habis-habisan. Saat ia ingin menjatuhkan seseorang, ia pasti akan menjatuhkan sejatuh-jatuhnya.
Termasuk saat ini, saat Sonya beranggapan Freya perlu tahu kebenaran tentang Banyu.
"Kamu sudah berkorban banyak hal untuk laki-laki itu. Keluar dari keluarga Hardiansyah, tanpa warisan, tanpa nama baik, tanpa modal apa pun. Tidak apa-apa jika orang yang kamu perjuangkan pantas untuk mendapatkannya. Tapi jika tidak, jangan lakukan kesalahan fatal, Freya. Jangan berkorban untuk orang yang tidak tahu berterimakasih! Suamimu bukan orang baik, aku tahu itu. Jika aku tidak peduli padamu, aku tidak akan repot-repot memberimu peringatan! Tolong pikirkan baik-baik kata-kataku!"
Freya memejamkan mata, tangannya gemetar hebat. Ya. Dia telah berkorban banyak. Untuk bisa bersama Banyu, Freya menentang seluruh keluarga, memberontak dari para sesepuh, dan melarikan diri dari naungan perlindungan nama besar Hardiansyah yang selama ini membesarkannya.
"Terimakasih, Sonya!" Freya akhirnya kembali bersuara.
"Kamu perlu tahu satu hal lagi, Freya! Atasanku kemarin membuka hotel selama seminggu! Dia …." Sonya sedikit tidak nyaman untuk mengungkapkannya. "Dia ditemani Banyu!"
Hotel itu milik Helen secara pribadi, sehingga catatan tamu sangat dirahasiakan. Hanya saja, Sonya adalah sekretaris Helen. Tidak sulit baginya untuk mengorek-orek informasi ini.
"Ya. Terimakasih atas infonya!" Tidak mudah mencari bukti dan tempat perselingkuhan mereka. Informasi dari Sonya cukup mengejutkan Freya.
"Kamu baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir!"
Mereka bercakap-cakap sebentar, sebelum akhirnya Freya menutup panggilan mereka.
Dunia memang sempit. Dari semua orang yang Freya pikir tahu informasi Banyu, nyatanya informasi ini malah datang dari Sonya, sepupunya sendiri yang telah lama ia abaikan.
Di tempat lain, Sonya yang baru saja mengembalikan ponsel ke tas kecil, menatap wanita menawan di hadapannya.
"Sudah. Aku melakukan apa yang Ibu katakan!" kata Sonya dengan nada kaku, tak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Bagus!" Helen mengangguk puas. "Aku akan pergi bersama Banyu. Aku akan mengirim foto-foto kami padamu. Jangan lupa meneruskannya pada Freya!" Helen mengingatkan.
Sonya hanya bisa mengangguk canggung. Tidak masalah jika seorang wanita ingin bersenang-senang. Tapi itu akan menjadi masalah jika Sonya harus menyampaikan perselingkuhan itu pada Freya, sang istri sah. Bagaimana otak Helen berpikir? Apakah dia tipe orang yang suka menerjunkan diri dalam masalah?
"Freya orang yang baik!" Sonya berkata lirih. Dia berharap di masa depan dia tak harus menghancurkan hati Freya melalui tangannya sendiri.
"Aku juga orang yang baik. Aku membiarkan Freya tahu kebobrokan Banyu yang sebenarnya. Bukankah itu artinya aku menyelamatkan hidupnya dari kehancuran?"
"Ya. Dengan cara menghancurkan hatinya lebih awal!" Sonya mendesis penuh kebencian.
…