Kita Berhak Bahagia

1031 Kata
Dua bulan yang terasa seperti dua tahun. Freya menggulir foto-foto yang Sonya kirimkan akhir-akhir ini, tatapan matanya berubah kosong dan tanpa ekspresi. Foto Banyu yang sedang makan malam dengan Helen. Foto Banyu yang sedang memasuki koridor hotel dengan Helen. Foto Banyu yang sedang bersantai di sisi Helen. Semua foto-foto itu, meskipun diambil dari jarak yang cukup jauh, tapi mampu menangkap wajah mereka dengan mudah. Jika foto-foto ini Freya dapatkan tiga bulan lalu, mungkin reaksinya akan histeris, sakit hati, dan penuh tangisan di mana-mana. Namun, Tuhan itu adil. Waktu membuat seseorang kebal perlahan-lahan. Hati yang sering terluka akan menjadi lebih kuat dan tidak lagi sepeka sebelumnya. Bukan berarti Freya tidak menanggung rasa sakit. Rasa sakit, rasa dikhianati, rasa ditusuk ribuan duri, itu tetap ada, hanya saja mampu tersembunyi dengan baik di lubuk hatinya. Air mata tak lagi bergulir, dadanya tak lagi sesak napas. Tubuhnya tidak lagi berubah seperti jelly. Pengkhianatan itu tetap meninggalkan jejak, tapi hati Freya telah beradaptasi menjadi sekuat baja. Pada akhirnya, rasa sakit yang berulang akan membuat seseorang mengubah kekuatannya sendiri. Menyesuaikannya untuk mempertahankan kewarasan dengan rasa sakit lagi dan lagi. Freya memanggil Banyu, menunggu hingga panggilannya diangkat. "Ya, Sayang?" Kening Freya berkerut. Sayang? Apakah dia masih menjadi kesayangannya? Ya Tuhan, ada kalanya mulut bisa semunafik itu. "Kamu di mana?" Dua bulan tidak pulang, dua bulan tidak bersua sama sekali. "Aku sedang mengerjakan job baru. Orderanku banyak. Jadi mungkin aku lebih sering menghabiskan waktu di studio dan tempat-tempat pemotretan!" Suara Banyu terdengar mantap, penuh percaya diri, tak ada tanda-tanda kebohongan sama sekali. Mungkin kalimat itu akan dianggap benar, andai saja Freya tidak melihat foto kebersamaan Banyu dengan Helen di sebuah restoran yang baru saja Sonya kirimkan. Kebohongan Banyu terdengar halus, seolah-olah apa yang ia ungkapkan adalah kebenaran sejati. Jadi, Banyu, sejak kapan kamu selihai ini dalam berbohong? Mengubah hitam menjadi putih dalam sekejap. "Banyu, apakah aku masih menempati posisi penting di hatimu?" bisik Freya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. "Apa?" tanya Banyu yang tak menangkap satu kata pun perkataan Freya. "Tidak apa-apa. Lanjutkan saja aktifitasmu!" Karena aku lelah untuk bertengkar denganmu, karena aku lelah untuk memintamu berbagi kejujuran. Baru saja Freya menutup panggilan, pesan chat dari Sonya membuat Freya waspada. Di dalam chat tersebut, Sonya baru saja memberi Freya informasi terbaru. Helen baru saja melakukan check ini di hotel bersama Banyu. Jadi … inikah job yang disebut Banyu? Freya tertawa getir, wajahnya yang tirus penuh olok-olok untuk dirinya sendiri. … Lelah. Jenuh. Mungkin inilah yang Freya rasakan. Dia menatap potret pernikahan, tetapi rasanya ia melihat lelucon buruk untuk dirinya sendiri. Apa yang dulu terlihat sakral dan penuh makna, kini seperti kotoran yang diinjak-injak. Pernikahan ada kalanya berubah menjadi penjara yang mengekang. Freya merapikan rambutnya dengan tenang, menatap sinar mentari siang yang terasa panas. Seharusnya ini sudah memasuki musim penghujan, tetapi suhu Jakarta tetap di atas normal. Karena tak memiliki banyak kegiatan, hari ini Freya berencana meninjau restoran yang ia miliki di dearah Thamrin. Restoran itu adalah salah satu sumber pendapatan utamanya yang masih bisa ia pertahankan hingga kini. Setengah jam kemudian, Freya tiba di restoran miliknya, melakukan pengawasan pada beberapa hal, dan duduk di kantor kecil dengan sebundel laporan bulanan. "Mbak, kamu tampaknya kurang sehat!" Siwi, sang manajer restoran yang ia percayai, mengomentari penampilan atasannya. Siwi adalah seorang wanita montok berusia tiga puluh tahun. Dia menjanda dua kali. Terakhir Freya mengetahui kabar terbaru, Siwi berpisah dengan suaminya yang kedua empat bulan lalu. Dia tidak memiliki anak dari kedua pernikahannya. "Siwi, bisa nggak aku tanya masalah pribadi?" Freya menopang dagunya dengan punggung tangan, duduk di kursi kantor diiringi musik tahun sembilan puluhan yang diputar oleh Siwi. "Boleh." "Kudengar kamu bercerai dua kali." "Oh itu. Iya, Mbak!" Siwi tersenyum kecil, sama sekali tak merasa malu diingatkan dengan kegagalan pernikahannya sendiri. "Boleh tahu, nggak, kenapa?" tanya Freya hati-hati. "Kalau ditanya kenapa itu … yah sebenarnya banyak faktor sih. Tapi yang utama adalah antara aku dan suamiku udah nggak ada lagi kecocokan. Kalau pun masih ada, perbedaan dan pertengkaran kami itu lebih sering daripada keselarasan kami." Pada akhirnya, alasan Siwi bercerai sederhana. Pertengkaran dan perseteruan berulang. Sesuatu yang pastinya terjadi pada banyak pasangan di luar sana. "Apa nggak sayang, cerai gitu aja?" tanya Freya kemudian. "Untuk apa sih, Mbak, pernikahan dipertahankan, padahal kadar bahagiaku itu lebih kecil dari kadar kecewa dan sedihku? Seumur hidup itu bukan waktu yang sebentar!" Untuk apa dipertahankan dan dijalani bersama orang yang hanya akan membuat kita kesal dan marah setiap waktu? Ini bukan cara menua yang Siwi inginkan. "Apa nggak sayang kalau cerai?" Sebagai orang yang konservatif, masih ada pertanyaan di hati Freya yang rasanya belum sepenuhnya terjawab. Biasanya cerai itu identik dengan hal-hal tabu. Status janda juga sering disematkan dengan hal-hal negatif. "Kenapa sayang? Sesuatu yang tidak membuat kita bahagia, untuk apa dipertahankan? Mbak, kita kan juga berhak untuk bahagia. Bahagia sederhana tanpa syarat, tanpa didikte oleh apa pun. Sekarang meskipun status aku janda, tapi seenggaknya aku lebih bebas untuk melakukan apa pun sesuai dengan kata hati." Siwi menatap dokumen yang tertumpuk di meja, sebagian masih terbuka untuk dievaluasi Freya. "Laporan bulan ini gimana, Mbak? Penjualannya lebih bagus dari bulan lalu, kan?" Siwi mengingatkan Freya kembali pada laporan yang sebelumnya mereka bahas. "Kamu bisa pergi dulu. Biar aku periksa ini lagi!" Tak berkomentar banyak, Siwi segera keluar tanpa suara. Freya yang ditinggal seorang diri di kantor berukuran tiga kali dua meter, menatap dokumen laporan penjualan bulanan dengan mata kosong. Kita berhak bahagia tanpa syarat, tanpa didikte oleh apa pun dan oleh siapa pun. Kalimat dari Siwi terngiang berulang kali di kepala Freya, membuat Freya mendesah panjang, mengambil keputusan paling gila dalam hidupnya. Siwi benar. Kita butuh bahagia. Meskipun untuk itu, semuanya butuh harga. Freya mengecek hati-hati dokumen di hadapannya, kemudian menutupnya setelah tidak menemukan masalah di dalamnya. Dia mengambil kunci mobil di meja, berjalan ke luar kantor. "Mbak, laporannya gimana?" Siwi mencegat Freya di bagian kasir restoran. "Bagus! Kamu pertahankan kinerja, ya! Aku akan pergi dulu!" "Siap, Mbak!" Wajah Siwi berseri-seri. Freya melanjutkan langkahnya ke area parkir, memasuki mobil sedan hitam kecil dengan harga pasaran di bawah sembilan digit, dan mengendarainya menuju suatu tempat. Tempat yang Freya tuju kali ini adalah perusahaan Alexavier Maxin. Ini adalah pertama kalinya Freya memiliki niat terlarang dalam pernikahannya bersama Banyu. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN