"Pak, ada seorang tamu yang berkunjung tanpa janji." Suara resepsionis meneruskan informasi pada Alex dengan nada profesional.
"Siapa?" tanya Alex, tak terlalu tertarik. "Tolak saja. Minta dia untuk membuat janji!" Ada pertemuan bisnis untuk membahas kelanjutan kontrak kerja sama dalam bidang teknologi keamanan dengan beberapa wakil perusahaan yang akan diadakan setengah jam lagi. Alex tak terlalu tertarik melakukan pertemuan lain.
"Ibu Freya Hardiansyah. Saya akan menolaknya!"
Mendengar nama Freya disebutkan, Alex yang bersiap meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, mengurungkan tindakan.
"Tunggu!" Sudut bibir Alex terangkat, membentuk senyum kecil yang penuh arti. "Bawa dia ke ruangan saya!"
Masih ada setengah jam sebelum waktu pertemuan bisnis. Setidaknya waktu ini cukup untuk berbincang beberapa hal.
"Ya, Pak!" Tak ada keterkejutan sama sekali dari sang resepsionis atas perubahan jawaban dari Alex. Sudah hal biasa baginya menghadapi sikap atasan yang mudah berbalik sikap semudah membalikkan telapak tangan.
Sepuluh menit kemudian, seorang wanita datang ke ruangan Alex dengan dress violet selutut. Ada jepit hitam dengan manik-manik imitasi yang disematkan di sisi telinga. Wajahnya yang berbentuk oval dengan tulang rahang tinggi, semakin tampak menawan saat wanita itu mengangkat pandangannya dengan anggun.
"Freya!" Alexander mengangguk ringan, sebelah kakinya diangkat ke kaki lainnya, menguarkan kemalasan samar.
"Apakah tawaranmu masih berlaku?" tanya Freya, mengambil kursi di hadapannya sebagai tempat duduk tanpa menunggu ditawari oleh Alex.
"Ingatkan aku tawaran tentang apa?" Alex mengetuk ujung meja dengan jari-jarinya secara berirama, matanya menatap wanita di hadapannya dengan ketertarikan dan minat.
Bulu mata Freya yang lentik bergetar seperti sayap kupu-kupu, menatap tangannya yang saling terjalin di pangkuan.
Ada keraguan samar yang mulai hadir di dalam hati. Keraguan yang semakin lama semakin menggelegak, mengganggu moralitas Freya yang selama ini terjaga. Ujung jari Freya bergetar, wujud dari ketidaknyamanan yang batinnya rasakan.
Kening Freya berkerut dalam, pelipisnya mengeluarkan manik-manik keringat yang tersiram sinar mentari melalui jendela, membuatnya tampak seperti manik-manik mutiara.
Melihat keraguan dari sikap Freya, Alex menyadari pertentangan batin yang dialami wanita itu. Dia bangkit, berjalan mengitari meja kantor berukuran besar, berdiri di samping Freya, pinggulnya bertumpu pada meja kayu di belakangnya.
Dengan kaki disilangkan dan tangan yang dengan santai menopang dagu, kesan keangkuhan Alex semakin kuat. Matanya yang gelap seperti tinta tidak menyembunyikan ketertarikannya sama sekali dari wanita di hadapannya.
"Bersenang-senanglah denganku! Hidup terlalu singkat untuk disikapi terlalu serius!" Tak sampai hati membuat Freya jatuh dalam keraguan dan pertentangan batin terlalu lama, akhirnya Alex menyuarakan maksudnya.
Dua bulan yang lalu, Alex pernah menawarkan hal ini pada Freya, tetapi ditolak langsung. Sekarang tampaknya keadaan telah berbalik cukup signifikan. Seperti kurva yang bergeser seratus delapan puluh derajat.
Freya mendongak, keraguannya sedikit berkurang. Menatap mata cokelat muda sejernih kristal, Alex merasa tersihir untuk sesaat. Wanita seperti ini wanita yang dibiarkan jatuh dalam kesendirian. Suami Freya patut dipertanyakan.
"Apa konsekuensinya jika kita melakukan … itu?" Freya tersendat saat mengucapkan kata terakhir.
Semua hal memiliki konsekuensi, dan Freya memahami itu dengan sangat baik. Bukankah tak ada hal gratis di dunia ini?
"Tidak ada konsekuensi. Kita hanya akan bersenang-senang satu sama lain. Kita tak akan saling menuntut, tak akan saling mencampuri urusan pribadi masing-masing, tak akan saling memberi beban moral pada sesuatu yang disebut sebagai kepantasan!" Suara Alex yang dalam seolah menyihir Freya, menyeret Freya dalam keindahan-keindahan terlarang.
"Tak ada embel-embel apa pun. Semuanya murni bersenang-senang!" Alex memajukan kepalanya, menunduk dengan hati-hati, memandang bibir merah muda Freya yang bergetar karena gugup.
"Selain itu, aku juga akan memberimu uang untuk mendukung hidupmu. Jika kau memiliki permintaan sejauh menyangkut finansial, katakan saja! Aku bukan orang yang pelit!" Alex menambahkan. Sebagai seorang lelaki yang romantis, Alex selalu bermurah hati pada kekasih-kekasihnya.
"Pak—"
"Panggil saja aku Alex!" Alex memotong panggilan Freya.
"Aku nggak berharap diberi tunjangan finansial berupa apa pun!" Ini seperti merendahkan harga diri Freya ke titik terendah, sesuatu yang tidak bisa Freya terima. Dia lebih suka hubungan setara yang tidak mengandung keuntungan materiil di baliknya. "Tapi aku harap, jika nanti aku memutuskan untuk berhenti, kita akan menyudahi hubungan ini!"
Mendengar kata-kata Freya, bibir Alex melengkung membentuk kurva sempurna.
"Tentu saja. Hubungan ini tidak mengikat, toh bagaimanapun juga kita sudah memiliki pasangan sah masing-masing. Saat salah satu dari kita merasa jenuh dan bosan, hubungan ini akan berakhir." Alex sependapat dengan keinginan Freya.
Semuanya murni bersenang-senang. Tanpa ketergantungan, tanpa keterikatan, tanpa tuntutan satu sama lain. Saat hubungan ini kehilangan nilai kesenangan, masing-masing dari mereka berhak mengajukan keinginan untuk berpisah. Bukankah ini hubungan yang paling mudah dan sesuai selera Alex?
"Aku memiliki pertemuan bisnis sebentar lagi. Tinggalkan kontakmu padaku dan aku akan menghubungimu nanti untuk membahas pertemuan kita selanjutnya!"
Freya menuliskan kontak pribadinya di selembar kertas dan menyerahkannya pada Alex untuk disimpan. Alex tersenyum puas, menangkap rona merah wanita itu yang menyebar dari wajah hingga ke pangkal leher.
"Kamu ... benar-benar tampak seperti peri!" Alex mengusap sisi wajah Freya yang ternyata sehalus kulit bayi, membuatnya enggan melepaskannya. "Murni dan lembut!" Sulit dipercaya wanita itu akan menjatuhkan diri dalam hubungan gelap dengannya.
Namun, sebagai seseorang yang terbiasa hidup dalam kegelapan, Alex tahu selalu ada waktu pertama kalinya bagi seseorang. Demikian juga untuk Freya. Ini mungkin pertama kalinya bagi Freya melangkah pada kesenangan yang terlarang.
"Kamu tidak akan menyesal, Freya. Aku akan mengajarkanmu banyak kesenangan. Sesuatu yang seharusnya kamu rasakan lebih awal!" Terselip janji dari kata-kata Alex. Janji yang pasti akan ia lakukan sepenuh hati.
"Terimakasih, Alex." Senyum Freya penuh sarkasme. Dengan kebejatan Alex, tentu saja Freya yakin laki-laki itu pasti memiliki banyak hal yang tak pantas di kepalanya.
Setelah mereka berbincang sebentar, Freya memutuskan segera keluar dari kantor Alex. Dia berjalan sepanjang lorong dengan pikiran rumit di kepalanya. Freya rasanya berjalan melayang hingga tiba di tempat parkir.
Ada rasa bersalah di dalam hati Freya. Hati nuraninya yang tersisa menolak keras keputusan gila yang Freya buat terkait Alex. Sepanjang hidup Freya, dia tidak pernah melakukan hal-hal buruk yang bertentangan dengan moralitas. Ini adalah pertama kalinya Freya bertindak gila dan menjatuhkan diri dalam hal-hal tabu.
Apakah sebaiknya Freya membatalkan lagi keputusan gila ini? Bagaimanapun juga, hubungan terlarang ini belum berlangsung sehingga tidak ada resiko yang akan ia terima jika ia menghentikannya saat ini.
Saat hati Freya dipenuhi kebimbangan, ponsel Freya bergetar karena menerima pesan chat. Dengan cepat, Freya membuka salah satu aplikasi chat dan menerima foto dari Sonya.
Itu adalah foto Banyu dan Helen yang sedang berciuman di bawah pohon, diambil dari bagian samping berjarak puluhan meter. Meskipun foto itu tak terlalu jelas menampilkan wajah, tetapi Freya sangat mengenali kedua sosok dalam foto tersebut.
Melihat foto ini, keraguan Freya lenyap. Moralitas Freya yang tersisa tersapu angin dalam sekejap. Jika Banyu dan Helen bisa melakukan penyelewengan, kenapa ia dan Alex tidak bisa?
...