Bagian 3

2814 Kata
Anggini merasa tak peru memperpanjang konflik dengan berkata banyak pada pria yang masih mendiamkannya juga. Lebih banyak bicara apalagi dengan menggebu hanya membuat kepala Anggi terasa pecah. Lima bulan yang belum ada apa-apanya akan membuat Anggi menggbu memprotes kepada Asta, misuh kesana kemari hanya untuk mendapatkan atensi pria itu. Sekarang dia tak perlu merasa seperti itu, bukan? "Mba Anggi, Pak Darius nunggu di ruangannya." Staffi, asistennya membawa kabar yanng jujur saja membuat Anggi melas sekali bergerak untuk itu. "Gue lagi ngecek script." Itu hanya alasan Anggi guna menghindari ocehan Darius padanya. Belum lagi kepalanya yang terasa sakit akibat memikirkan nasib pernikahannya yang naik turun bagaikan roller coaster yang memporak-porandakan jiwanya.  "Tapi, Mbak... ini bisa saya atasi, kok." Staffi mencoba mengambil alih kegiatan Anggi. "Sini, Mbak." "Kenapa lo resek banget, sih?! Kenapa lo jadi tiba-tiba maksa gini?!" "Mbak... Pak Darius itu udah nungguin. Saya nggak berani bantah pak Darius." "Dan lo berani bantah gue gitu? Gini-gini juga gue senior, Fi. Kenapa lo..." "Gi! Ke ruangan gue sekarang!" Darius berdiri gagah dengan seragam stasiun tv yang membuatnya terlihat lebih berwibawa dan tampan. Sayangnya image tampan saja tak cukup untuk melunturkan kata 'galak' yang sudah tersemat apik dalam diri Darius. Mau tak mau Anggi mengikuti kemana Darius menyuruhnya. Kesal yang dirasakan oleh Anggi pada sang suami, malah menjadi dilarikan pada junior-nya. Anggi yakin banyak sekali kesalahan yang sudah terjadi pada acaranya ketika kemarin dia tiba-tiba izin cuti. "Duduk lo." Darius membuat suara super tegas, tapi sayangnya, perempuan yang sempat menjadi targetnya untuk dijadikan istri itu diam saja dan menantang Darius dari matanya. "Lo tahu apa kesalahan lo, Anggini?" tanya Darius dengan memajukan kepalanya dan suara yang ditekankan hingga membuatnya terdengar menjadi desisan. "Banyak kesalahan yang saya lakuin, Pak. Salah satunya kecerobohan pas program gue dimulai, dan gue malah cuti dan menyerahkannya sama Staffi gitu aja." "Bukan itu, Anggi." Anggi terdiam, selain mengenai hal itu dia tidak mengerti bagian mana dirinya bersalah. "Makin hari, lo makin nggak kira-kira ngomelin junior lo. Kinerja mereka hampir nggak ada yang perlu lo ributin atau lo galakin. Lo juga harusnya tahu, teriak-teriak di kantor dan bikin banyak kubikel risih denger suara lo itu ganggu banget! Belum lagi, lo selalu nyerobot ruang rapat anak-anak lain. Lo pikir lo apa, Nggi? Preman pasar?" Apa benar dirinya melakukan itu selama ini? Entah kenapa Anggi tak menyadarinya sama sekali. "Lo tahu itu nggak?" tambah Darius. Anggini menggeleng pasrah. "Gue nggak ngerti kenapa makin hari kinerja lo nggak kayak dulu, Nggi. Lo yang belum punya pasangan itu lebih baik dan benar ketimbang lo yang nggak jomblo lagi." "Kenapa harus bahas masalah pernikahan, sih, Pak?!" ucap Anggi terdengar sangat defensif. Darius mendengus kasar. "Jelas, ya, sekarang. Lo terlalu pemarah soal pernikahan. Stres? Lo bawa semua emosi dari rumah ke kantor ini?! Lo pikir bisa bersikap semena-mena juga sama gue, Nggi? Mentang-mentang gue selalu ngasih lo jalan mudah, hm?" "Saya nggak pernha berpikir begitu. Saya melakukan apapun untuk program saya! Banyak cara bapak mengkilah mengenai setiap acara yang PD lain buat, karena mereka nggak cukup pintar meyakinkan bapak untuk mempertahankan gagasan mereka! Apa bagian yang salah dengan bersikap lebih keras untuk mendapatkan jalan mudah? Apa bapak nggak berpikir---" "DIAM DAN SILAKAN ANGKAT KAKI LO DARI SINI!" Anggi terkejut. "Surat pemecatan lo udah diurus! Keluar!" Anggini terdiam. Ini yang mungkin pantas dirinya dapatkan.  * Anggini keluar dari ruangan Darius dengan perasaan kesal. Sesungguhnya dia ingin menangis sekarang ini. Namun, tak mungkin membiarkan perasaannya meluap seperti itu dihadapan penghuni kantor yang melihatnya dengan tatapan seolah Anggi sangatlah menyeramkan. Ini sudah lebih dari cukup dianggap sebagai penghinaan. Hatinya sakit karena Darius membenatknya dan sudah bisa dipastikan jika karyawan yang lain bisa mendengar teriakan tersebut.  Bergerak mengambil tasnya dengan gerakan menyahut begitu saja, Staffi memandang ngeri pada seniornya itu. Tak ada yang berani mengatakan apapun pada Anggi. Bahkan Staffi yang sudah paham dengan seniornya itu tetap tak mau banyak berkomentar dengan keadaan yang Anggi dapatkan.  Baru saja akan melangkah pergi, Anggi berbalik lagi menatap Staffi. "Sori kalo gue banyak marah-marah sama lo. Gue harap lo nggak ngikutin kecerobohan gue." Hanya itu saja yang disampaikan oleh Anggi pada Staffi yang bertambah bingung, sedikit kasihan melihat Anggi yang tidak keluar dengan cara terhormat dari kantor. Padahal, Staffi bisa melihat bagaimana Darius melihat dari kejauhan menatapi punggung Anggi.  * Berada di rumah dengan keadaan yang saling mendiamkan tidak membuat Anggi merasa bisa leluasa menumpahkan rasa kecewanya setelah dipecat dari tempat kerjanya. Jadilah Anggi memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya.  "Ibu..." Anggi menumpahkan tangisnya dalam pelukan sang ibu. Tidak menatap ayahnya yang bersiap dengan tatapan khasnya.  "Kenapa?" "Anggi dipecat... udah nggak kerja lagi." Tak mau membuat putrinya bertambah sedih lagi dengan menanyakan bagaimana bisa dipecat jika tidak ada yang salah dengan kinerjanya, sang ibu menyuruh Anggi masuk ke kamar dan istirahat sembari menunggu menu makan malam siap.  Anggini sangat menyayangi kedua orangtuanya yang sangat peduli dan memahami putrinya hingga disaat seperti ini dia tidak banyak mendapat pertanyaan mengenai pemecatannya. Meski dalam beberapa hal, Anggi merasa orangtuanya sangat salah menjodohkannya dengan Asta.  Berhenti melamunkan bagian tersebut, Anggi membersihkan diri. Baju dari zaman gadisnya tersimpan rapi di sana. Tidak dibuang atau semacamnya oleh sang ibu. Mengambil kaus kebesaran berwarna biru dongker, Anggi berkaca di cermin satu badan yang membuat kaki jenjangnya terlihat kontras dengan warna kaus besarnya.  Dengan iseng, dia memutar tubuh dan mengintip dibalik pundaknya kepada pantulan cermin yang memperlihatkan bentuk bokongnya yang padat berisi. Lalu berbalik lagi dengan menaikkan kedua tangannya di depan d**a, menangkupkannya di sana dan yakin bahwa ukurannya memang lebih besar ketimbang mendiang kakaknya yang tergila-gila akan bentuk tubuh rata.  mengangkat kausnya, Anggi menahan ujungnya dengan dagu. Memerhatikan bentuk tubuhnya yang bagian bawahnya terbalut celana dalam berenda sedangkan bagian atasnyatak ditutupi apapun. "Kamu ngapain?" Anggi tersekat dengan suara tersebut. Asta yang masuk ke kamarnya tidak disadari Anggi sama sekali. Posisi cermin yang jauh dari pintu dan pantulan pria itu tertutupi oleh tubuhnya sendiri jelas saja tidak membuat Anggi mengira akan tertangkap basah dalam keadaan begitu. "Kamu kabur dari rumah cuma mau untuk bebas ngaca sambil t*******g gitu, Nggi?" tanya Asta yang dengan santainya duduk di atas ranjang sang istri sembari mengamati Anggi yang terlihat tidak baik. "Kamu abis nangis?" Anggi membalikkan tubuh, berniat kabur dan mengurung diri di kamar mandi. Namun, Asta lebih dulu menariknya.  "Maafin aku, Nggi. Aku nggak ngira kamu bakalan sampai nangis begini. Aku juga sama kepikirannya sama kamu terus. Tidur saling memunggungi ternyata nggak enak. Aku juga nggak bisa peluk kamu. Selama kerja aku kepikiran kamu terus." "Kepikiran aku kenapa?" Dengan serak Anggi bertanya. "Kepikiran karena aku marahin kamu. Juga, kata-kata nyakitin aku. Maaf, ya?" Anggi tak memilih memperpanjang, dia yang sudah tak bisa menahan tangis akhirnya meledak dalam rengkuhan suaminya. "Aku juga sedih karena dipecat, Ta." Bramasta mengeratkan pelukannya. Dia datang mencari Anggi bukan untuk mendengar agenda perempuan itu dipecat, tapi karena ingin segera berdamai dan bisa leluasa bercengkerama lagi. Dan memeluk erat Anggi adalah salah satu cara agar cerita perempuan itu segera selesai. * Hari baru mereka dimulai dengan menyandang pemikiran baru, yang mereka sebut dengan kompromi. Sebab, mereka menyatakan jika belum ada cinta yang merekah diantara keduanya. Meski sesungguhnya Anggi tidak sepenuhnya menyetujui hal tersebut. Siapa yang belum menaruh rasa? Anggini menanyakan lagi dalam hatinya, dan dia yakin sikap bertahannya hingga kini bukan karena hanya untuk menyenangkan kedua orangtua saja. Namun, Anggi membiarkan sang suami mengambil alih pemikiran tersebut. Tak apa, asal rumah tangga mereka bisa baik-baik saja. Sudah lebih dari dua minggu sejak insiden pemecatan yang sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai pemecatan yang sesuai prosedur. Anggi sempat bertanya-tanya apa yang membuat dirinya dipecat, kecuali alasan tak masuk akal Darius mengenai sikapnya yang suka semena-mena kepada pihak lain semenjak menikah.  Namun, mengingat semua itu hanya membuatnya stres saja untuk merasa hidupnya bisa lebih bebas. Memang menjadi ajang yang menyenangkan karena waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah dan fokus mengurus sang suami. Dampak positif besarnya adalah mereka menjadi semakin dekat saja. Salah satu akibat besarnya kedekatan yang mereka rasakan saat ini adalah kebiasaan Asta yang tak mau makanan dari luar. "Kamu yang harus masak. Aku nggak suka beli dari luar." Begitu ucapan suaminya ketika Anggi malas membuat makanan yang berakhir dengan menghidangkan mie instan dengan berbagai toping agar Asta bisa lebih kenyang sebelum agenda malam rutin yang mereka lakukan terlaksana.  Ah, mengingat agenda rutin itu membuat pipi Anggi bersemu kembali. Dia jadi suka membayangkan hal bodoh ketika sang suami sudah berangkat kerja dan kegiatannya terganggu dengan kilas malam sebelumnya yang suka mereka nikmati berdua. Untuk malam ini, Anggi menggali kesempatan yang sudah dia pikirkan untuk bisa kembali bekerja. Menunggu suaminya menyelesaikan makan malamnya karena Anggi sudah lebih dulu makan meninggalkan Asta yang pulang lebih malam dari jadwal seharusnya.  Begitu meneguk air mineralnya, Asta menatap sang istri yang mengamatinya sedari awal. "Kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Asta. "Iya, tapi aku beresin ini dulu baru mau ngomongin sesuatu yang serius sama kamu." Bramasta menganggukinya. Kursi yang pria itu gunakan duduk didorongnya ke belakang. Meninggalkan meja makan menuju kamar yang sudah menjadi tempat keduanya berbagi. Ya, meski lebih banyak Anggi yang membuka percakapan dengan segala bahasa mulutnya yang sudah seperti reporter yang memiliki banyak kalimat tanya efektif yag bisa dijawab dengan berbagai jawaban.  Anggi mengeringkan tangannya setelah mencuci piring. Mendesahkan napas lebih dulu karena tahu akan ada perdebatan diantara dirinya dan sang suami jika membahas mengenai hal yang sebenarnya Asta tak mau dengar lagi. Pria it pernah menyatakan jika Anggi yang di rumah adalah sosok istri yang patut diidamkan. Begitu membuka pintu kamar, Anggi sebenarnya tidak begitu terkejut dengan pakaian yang tak lagi melekat ditubuh suaminya. Kebiasaan baru itu digunakan Asta semenjak keinginan untuk bersama di atas ranjang bersama semakin tinggi.  "Mau ngomongin apa? Sini, aku mau sambil peluk kamu." Anggi menurutinya. Mengambil kesempatan untuk tidak terbawa napsu sendiri dengan gemercik yang selalu datang jika suaminya begitu dekat tanpa sehelai benang ditubuhnya. "Pakai baju, ya, Ta?" Anggi menyarankan.  "Kenapa memangnya? Kamu juga suka pakai b*a dan celana dalam aja kalo mau tidur." "Aku nggak konsen mau ngomong apa kalo kamu t*******g gini, Ta." "Biar cepet ini, Nggi..." Asta tetap menuruti istrinya. Dia bergerak turun mengambil celana panjang longgar. "Lagian kamu mau ngomong apa, sih?" "Soal pekerjaan. Aku mau minta izin sama kamu buat nyari kerja lagi." Asta membalikkan badan dari lemari. Menghantarkan tatap heran, terkejut, dan ketatnya rahang pria itu menjelaskan bahwa dia marah. "Kupikir selama dua minggu lebih ini kamu menyukai peran kamu di rumah. Ternyata aku salah...?" Ini dia. Perdebatan. Lagi. * "Kupikir kamu mulai menyukai peranmu selama di rumah... ternyata aku salah?" Anggi tak tahu bagaimana caranya mengambil makna dari sesi ini. Sebenarnya, mereka tidak harus berdebat bukan? Toh, masalah internal menyangkut pekerjaan seperti ini bisa diselesaikan baik-baik. "Aku mencoba meminta izin dari kamu, Ta. Bukan mencoba bertengkar lagi." Asta mengangguk dengan menyelesaikan kegiatannya memakai baju menuju sang istri duduk. "Aku nggak mencoba bertengkar dengan apapun, Nggi. Tapi dari cara bicaramu yang meminta izin dengan begitu lugas menjelaskan kalau kamu memang sudah menyiapkan rencana ini lebih matang dari yang aku perkirakan." "Aku memang berencana tetap kerja walau menjadi istri kamu. Apa yang salah? Merencanakan untuk aktif sebagai wanita pekerja nggak ada salahnya, bukan?" Bramasta menatap sang istri dengan wajah tanpa ekspresi yang... Anggi bisa menyimpulkan bahwa itu adalah ekspresi meremehkan. "Oh, ya. Ya, pastinya nggak ada yang salah dengan menjadi wanita pekerja. Tapi salah dengan kamu yang akan bekerja di dunia penyiaran televisi lagi." Meredakan niatnya membantah yang pasti akan membuat kacau saja, Anggi membalasnya dengan lebih tenang. "Jadi, kamu nggak mengizinkan?" Jeda yang tercipta diantara mereka menggali ingatan satu sama lain mengenai Gita yang memiliki posisi yang kurang lebih sama seperti Anggi selama bekerja di stasiun televisi. Mereka sama-sama memimpin, membuat acara, menayangkan konten sesuai prosedur diperusahaan. Namun, ada perbedaan yang lebih mengejutkan diantara mereka. Asta masih belum move on. Asta berdeham untuk membersihkan tenggorokannya dari ludah yang seolah tersangkut disana. Matanya lancang memutar ke arah mana saja untuk menjauhkannya dari tuduhan yang Anggi beri melalui manik wanita itu. "Aku nggak akan memberi izin kalo kamu masih bekerja sebagai produser atau apapun itu di jenis perusahaan yang sama." "Sama dari Mbak Gita maksud kamu?" Sekali lagi, keduanya terdiam. Rencana yang seharusnya ada di dalam kepala terburai karena tidak semula Anggi tak mengira akan mengangkat pembicaraan ini. "Nggi... kamu sendiri yang nggak mau nama itu di---" Anggi lebih dulu bergerak cepat. Dipotongnya ucapan sang suami dengan mencium keras pria yang sulit sekali menghilangkan nama mendiang kakaknya dari dalam hati itu. Menanti saja sepertinya tidak akan bisa. Anggi sungguh harus lebih keras mendorong bayangan sang kakak mereda dalam pikiran Bramasta. Salah satunya dengan cara seperti ini. Membuat pria itu kehilangan fokus pada apa yang mereka perdebatkan sebelumnya. Hanya dengan cara kotor seperti ini Asta bisa lebih memerhatikannya. Hanya dengan berusaha memaksa sang suami menidurinya . Gerakan tersebut membuat Asta dengan spontan mengangkat tubuh sang istri dipangkuannya. Mereka menarik kuat bibir atas dan bawah masing-masing. Tidak mengira bahwa perdebatan mereka bisa terbungkam dengan gerakan e****s yang keduanya sukai satu sama lain. "Anggi..." Oh, Anggi tak lupa dengan geraman suaminya yang sangat nikmat menggaung ditelinganya. Bertindak diatas tubuh pria itu adalah salah satu kenikmatan lainnya hingga membuat Anggi merasa pantas untuk menggerakan diri di atas sana. Ketika suara demi suara menggema atas nama rasa... Anggi mendiamkan apa yang ada dikepalanya. Gita nggak begini sama kamu, kan, Ta? Aku harap nggak akan. Namun, harap yang dia retaskan dalam hatinya justru merambah menjadi tangis tak terhingga yang diam-diam mengalir ketika ekspresinya terhalangi punggu suaminya. Asta yang sibuk menggeramkan namanya, malah membuat Anggi menangis dalam diamnya. * Eratnya pelukan yang Anggini lakukan tak membuat tubuhnya berhenti berguncang seiring dengan hujaman yang Asta berikan. Rambut panjangnya yang basah, dan pori-pori diseluruh tubuhnya seakan membesar, menampakkan Anggini yang lebih cantik dari apapun. Asta bisa melihatnya, ketika bibirnya sibuk terbuka untuk mengambil oksigen sebanyak yang dia bisa agar gerakannya tetap ikut terjaga memuaskan diri satu sama lain, Asta merasakan degup kencang yang membuatnya linglung. Wajah Anggini tidak sama seperti Gita, Bramasta mengenali setiap bentuk yang ada pada wajah Gita. Namun, bayangan wajah Gita terbayang samar dan tidak lagi bisa Asta bayangkan jelas.  Asta tak tahu mengapa dirinya mengalami fase tersebut. Padahal, sebelumnya dia bisa berhubungan dengan Anggi dengan membayangkan wajah Gita sepenuhnya. Mengamati wanita yang pasrah dan terlihat sama menikmatinya kegiatan mereka itu Asta tahu kalau Anggi memicu kaburnya ingatan mengenai Gita.  "Hhhh..." Anggi mencengkeram pundak suaminya. Ikut menggeram karena dorongan menggelitik sekaligus keinginan untuk mengeluarkan sesuatu dalam dirinya. "Asta... Asta... Asta... hahhh...."  Berulang kali Anggi terus memanggil nama suaminya. Menyerukannya saat tak lagi menitihkan airmata. Terkadang juga wanita itu menyasarkan bibir serta giginya mengigit tengkuk serta pundak yang berada dihadapannya. Dengan posisi merapat tentu saja hal seperti itu mengasyikkan bagi Anggi. Akibatnya, kulit Asta yang mudah sekali diberi tanda kepemilikan menunjukkan warna kemerahan. Untungnya Asta tak pernah keberatan, karena merasa bisa membalas memberi tanda yang sama pada tubuh Anggi. Sebelum benar-benar Anggi puas lebih dulu dengan milik pria itu, Asta melepaskan tautan tubuh mereka dan segera memposisikan wajahnya di depan kemaluan sang istri. Anggi tak sempat memprotes, sebab bibir serta lidah pria itu sama nikmatnya dengan hujaman si kecil  Asta.  "Eughhh! Asta! Ya ampun...." Racauan Anggini makin menggila dan tak terkendali. Dia membentuk tautan kaki di pundak suaminya hingga menekan kepala Asta untuk semakin masuk ke sana. Pria itu tentu saja hikmat menusukkan lidah dan menarik k******s sang istri yang memerah akibat gerakan teratur dan condong semakin keras hingga tubuh Anggini bergetar hebat mengeluarkan lava kepuasannya.  Mungkin akan terlihat bodoh pada saat bukan seperti ini yang mereka lakukan, tapi Asta bisa membuat istrinya melakukan hal bodoh semenjak menikah. Kepolosan Anggini membuat Asta tergugah untuk melakukan lagi dan lagi percobaan baru yang belum sempat dirinya lakukan bersama Gita.  Ya. Anggini seperti tak lebih lawan main untuk bereksperimen dalam hal kebutuhan biologis saja bagi Asta. Seharusnya itu yang terus Asta lakukan dalam pernikahan mereka, dipikiran Asta.  "Enak?" tanya pria itu dengan seringai bangga. Menaklukkan macan betina seperti Anggini ternyata sangat mudah bagi Asta. Anggini tak mau sok jual mahal, dia mengangguk dan menarik tengkuk sang suami agar bisa saling melumat lagi. Sementara tangan Asta tidak tinggal diam menuruni leher, d**a, hingga lembah Anggini lagi. Lumatannya turun pada p****g istrinya yang masih menegang dan mulai menggerakan bibir, lidah, serta jemarinya lagi. Kali ini lebih keras hingga suara yang Anggi hasillkan seperti bintang p***o yang suka sekali berkata kasar ketika bermain dengan cara tak halus. Wajah memerah, berantakan, dan ekspresi bak p*****r yang Anggi tampilkan membuat Asta senang. Respon wanita itu lebih seksi ketimbang Gita yang sepertinya tak selalu menikmati irama b******a mereka.  Itu tandanya Anggi lebih cinta, kan? Asta tersentak. Dia mencoba melawan argumennya sendiri bahwa Anggi terlihat lebih tulus mencintainya hingga sangat menyukai setiap kegiatan intim mereka. Kacau, Asta merasa kacau dan emosinya kian naik hingga dia lepaskan jemari dari tubuh Anggi dan dengan keras membalikkan posisi sang istri menjadi tengkurap, menariknya hingga mereka bak binatang yang sedang berhasrat tinggi tanpa akal. Lagi dan lagi... Asta merasa kacau karena Anggi begitu pasrah dan menyukai perlakuannya di ranjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN