"Bekal kamu jangan lupa." Anggini mengambil alih kegiatan Asta untuk membenarkan dasi yang letaknya sangat aneh bagi wanita itu. "Kenapa, sih pakai dasi gini aja kamu selalu nggak rapi, Hun."
Asta menangkup kedua pipi istrinya. Dia tarik mendekat hingga bisa mengecupnya berulang kali bibir yang selalu cerewet diaktivitas pagi mereka itu. Yang Asta suka, Anggi tak pernah sok menolakk ciumannya. Wanita yang kembali memgaut bibirnya itu malah sangat senang jika Asta mengambil inisiatif untuk bermesraan dimanapun tempatnya. Kecuali tempat yang dirasa terlalu umum.
"Aku benci pakai dasi ini."
Anggi melirik sekilas wajah suaminya karena kembali membenarkan dasi suaminya. "Aku tahu."
Tentu saja Anggini tahu bahwa sang suami sangat enggan untuk memakai dasi, sebab ketika dia mengurusi klien saja tak pernah Asta sibuk menggunakan dasi untuk tampil formal. Namun, karena ini adalah acara pertemuan rekan-rekan seluruh dewan di tempat suaminya praktik, mana bisa berpenampilan tanpa terlihat seperti orang kantoran yang sangat formal.
"Mungkin... kamu mau ikut?"
"Kita udah bahas ini selama tiga hari, Honey."
Memang betul, selama hampir tiga hari penuh Asta membujuk sang istri untuk turut serta dalam acara itu. Memang tidak dilarang, tetapi mengingat Anggi tak mengenal siapa saja yang ada, belum lagi pertemuan itu diadakan untuk kepentingan orang-orang yang memahami dunia kesehatan... Anggi bergidik membayangakannya tak memiliki satupun teman bicara.
Asta menarik pinggul sang istri, merapatkannya hingga mereka bisa merasakan kehangatan tubuh satu sama lain. Bramasta menunduk mengecupi daun telinga dan pipi istrinya hingga mengecap basah.
"Kalo gitu tunggu di ruanganku aja." s*****a baru Asta keluarkan agar bisa berdekatan dengan sang istri.
"Tugas rumah?" tanya Anggi skeptis.
"Udah bersih, kok. Kalo masih kurang bersih juga, besok sewa jasa cleaning service online aja. Gampanglah."
Menimang ucapan Asta yang benar menggiurkan untuk dilakukan, Anggi menatap lekat lebih dulu tanpa bicara apa-apa.
"Oke, aku ikut."
Selebrasi Asta dengan kemenangannya itu adalah dengan mengangkat tubuh sang istri menduduki meja makan, dan memperkerjakan bibir mereka hingga membengkak merah.
*
Anggi melihat-lihat sekeliling ruangan kerja milik Asta. Tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Hiasan macrame berwarna putih dan hitam berada di sudut yang berseberangan. Tidak banyak yang bisa Anggi dapatkan di sana. Foto-foto masa lalu sang suami bersama mendiang kakak Anggi juga tidak didapatinya dibagian manapun. Perasaan lega Anggi kian membumbung. Dua tahun berjalan ini Asta memang benar-benar menimang untuk menjadikannya satu-satunya.
Tak tahu harus melakukan apa di dalam sana sendirian, Anggi berniat keluar untuk melihat-lihat kantor sang suami.
"Hai."
Anggini agaknya terkejut dengan keberadaan seseorang yang dikenalnya melalui sang suami yang mengatakan dirinya mengenal dokter kandungan yang sangat terpercaya.
"Dokter Nemar...?"
Nemar tersenyum, mengulurkan tangan guna mengajak Anggi berjabat tangan. "Apa kabar, Anggini?"
Anggi sama baiknya bersikap pada Nemar. "I'm good. Dokter sendiri gimana kabarnya?"
"Sama. Kalo nggak baik, saya nggak akan di sini menyapa kamu."
"Ah, iya. Betul sekali."
Nemar menatap Anggini yang kikuk ketika menyadari bahwa dokter pria itu seperti memiliki suatu penilaian padanya.
"Dokter---"
"Nemar saja, jangan ada embel-embel dokter diantara kita." Candaan itu ditanggapi dengan tawa oleh Anggini.
"Oke, Nemar."
Sekali lagi, Anggini merasa aneh terus diperhatikan sebegitu intens-nya oleh Nemar. Lalu dengan berani Anggini menyeletuk, "Ada yang salah dengan penampilan saya?"
Nemar tidak tergeregap sama sekali. Dia menggeleng pelan, "Tidak ada yang salah dengan kamu, Anggini."
"Hm... oke." Dan suasana hening membuat mereka merasa canggung.
"Mau bicara sambil jalan?" Nemar menawarkan.
"Kamu nggak sibuk memangnya? Bukannya kamu termasuk yang harus ada dipertemuan bareng Asta?"
"Oh, bukan. Saya cuma dokter biasa, yang ikut ke dalam pertemuan itu yang memiliki saham di rumah sakit CC---controlla care---kalo saya nggak termasuk di dalamnya, tapi saya jelas dapet kebebasan jam praktik sekarang. Makanya saya mau ngajak kamu melihat-lihat gedung ini dan... mungkin rumah sakit CC?"
Anggini mengiyakan dengan anggukan.
"Oke, kita mulai keliling gedung ini dulu, ya. Gedung eksklusif milik suami kamu..."
Dan Anggini jelas merasa bodoh karena tidak tahu apa-apa mengenai pekerjaan sang suami.
*
Bangunan yang saling berseberangan itu memang memiliki kaitan satu sama lain. Sayangnya Anggi tidak pernah menyadari jika aset yang suaminya miliki lebiih dari apa yang dirinya bayangkan. Pekerjaan menjadi terapis saja sudah pasti mencakup biaya hidup rumah tangga mereka, apalagi dengan saham yang Asta miliki di rumah sakit CC?
"Kamu benar-benar tidak tahu mengenai seberapa kaya suami kamu sendiri?"
Anggini hanya bisa menggelengkan kepala. Masih agak terkejut dengan apa yang Nemar jelaskan.
"Kamu dekat dengan keluarganya, kan?" tanya Nemar seperti sangsi akan gelar menantu serta istri yang Anggi miliki.
"Saya dekat. Jelas sangat dekat. Dulu saya cuma calon adik ipar, sudah sempat kenal dengan orangtua Asta. Tapi mengenai kekayaan dan sebagainya saya nggak memikirkan bagian itu sama sekali."
Nemar menimbang-nimbang. Apakah dirinya harus mengatakan pendapatnya atau tidak kepada Anggini.
"Apa kamu nggak pernah memikirkan, kemungkinan besar kenapa keluargamu berusaha keras menjalin hubungan sebagai besanan dengan keluarga Bramasta?"
Ah, benar. Kenapa nggak terpikirkan?
"Saya nggak pernah berpikir macam-macam soal itu, Nemar. Saya pikir, dengan meninggalnya Kak Gita dalam kecelakaan itu, dan rencana pernikahan yang sudah sangat dekat harus tetap berjalan untuk menjalin hubungan baik antara keluarga saya dan keluarga Asta."
"Kamu polos sekali, Anggini." Nemar menghela napasnya, sembari menunduk guna membuka kaleng kopi yang diambilnya daari vending machine rumah sakit.
Pria itu meneguknya dengan santai, sedangkan Anggi hanya mengambil air mineral saja dari mesin minuman tersebut.
"Saya bagi tahu, supaya pikiran kamu tidak terlalu kecil dalam memahami situasi antar keluarga kalian. Saya mengenal Asta sudah lama sekali. Bahkan sebelum dia memutuskan untuk menjalin kasih dengan Gita, kakak kamu. Keluarganya terlampau kaya sampai bisa menghalalkan apa saja demi keinginan putra mereka." Nemar menoleh, mengamati reaksi yang Anggi perlihatkan.
"Bukannya apa, tapi saya mencoba berbagi informasi saja pada kamu. Asta itu terkadang bisa jadi sangat keterlaluan semena-mena. Karena dia terbiasa mendapatkan apa yang dimau. Tipikal anak manja. Kalo yang saya lihat waktu kalian konsul, Asta belum menaruh perasaan apa-apa ke kamu. Maaf. Bukannya saya sok tahu, tapi memang begitu yang saya lihat diantara kalian."
Anggini mengangguk. "Nggak masalah. Yang kamu bilang itu ada benarnya, kok. Waktu itu Asta sama sekali tidak menanam perasaan apa-apa sama saya."
Nemar mengiyakan. "Itu sebabnya dia nggak mau memiliki anak dari kamu. Beda sama keinginannya dulu---" Nemar menggantungkan ucapannya. Dia baru saja akan membuka rahasia yang seharusnya Asta sendiri yang memberitahu pada Anggi.
"Maksudnya keinginan dia yang dulu?"
"Nggak penting. Bukan kehendak saya membicarakan itu, Anggini."
Sudah pasti Anggini tidak bisa memaksa. Sebab dia mulai paham pekerjaan di dunia Nemar serta suaminya geluti. Mereka memiliki kode etik yang tak sedikit untuk dipatuhi.
Mengeratkan pegangannya pada botol aair mineral yang dibawanya, Anggi menjadi penasaran sendiri apa yang dimaksud dengan keinginan suaminya dulu. Bukankah bisa disimpulkan berarti Asta dulu menginginkan keberadaan anak?
"Ternyata kamu sangat berbeda dengan Gita." Kata Nemar memutus keheningan yang melanda.
"Hm, berbeda kemiripan wajah? Saya dan Kak Gita, kan memang bukan kembar identik."
"Bukan, bukan. Bukan itu yang saya maksud. Tapi karakter kalian yang sangat berbeda."
Anggini menunggu. Perbedaan seperti apa yang Nemar maksud antara dirinya dan sang kakak.
"Kamu sangat kuat dan mampu mempertahankan apa yang kamu dapat. Sedangkan Gita nggak seperti itu sama sekali. Gita lebih mudah melepaskan apa yang didapatnya. Kalo saja Asta bisa lebih melihat kelebihan kamu itu... dia akan sangat menyesal menyia-nyiakan kamu."
*
Perbedaan yang Nemar maksud sungguh tidak masuk akal bagi Anggini saat ini. Pembicaraan yang terlalu ditutupi kata kuncinya itu membuat Anggi merasa bodoh. Namun, dia juga tak bisa sembarang menggerakan bibirnya dengan sesuka hati. Perlu banyak pertimbangan jika dia ingin mengungkap apa yang Nemar katakan dengan ambigu. Suaminya yang terlalu kaya untuk ukuran... keluarganya yang tak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang Asta miliki, jelas sangat menyinggung keberadaannya yang semula didorong oleh kedua orangtuanya dengan alasan untuk tetap menyambung hubungan baik.
Seharusnya dia tidak baik-baik saja mendapati fakta itu bukan?
Seharusnya dia bisa mengambil jalan yang baik untuk dirinya sendiri, sang suami, dan rumah tangganya. Apa tujuannya dan Asta membangun keluarga adalah yang paling terpenting lagi. Jika seperti ini, Anggi jadi merasa patut untuk menimbang kembali tujuannya bertahan.
"Jangan sampai pendapat saya ini membuat kamu ragu dengan Asta. Meski dia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, dia tetap bisa menyadari kebodohannya sendiri. Walaupun membutuhkan waktu agak lama tentu saja. Dia juga terlalu sensitif menghadapi kemalangan, jadi... saya berharap kalian nggak akan mengalami kemalangan apapun."
Anggini berusaha tersennyum. Dia mengubah posisi duduk menjadi serong memandang langit yang mulai terik di sana. Untung saja sekarang mereka berada di lantai atas yang tertutupi kaca pelapis.
"Apa menurut kamu menikah dengan Asta itu benar?" Tiba-tiba saja Anggi menyeletukkan isi kepalanya. Tak semua, hanya sebagian saja.
"Bagimu menikah dengan Asta kesalahan, begitu?"
Anggini terkejut. Dia menoleh pada Nemar yang tanpa keraguan menatapnya dengan mantap. Pertanyaan yang dibalas dengan tanya juga.
"Saya bertanya, bukan menilai pernikahan saya dan Asta adalah kesalahan." Begitu yang keluar dari bibir Anggi. Sayangnya, Nemar bisa melihat kemurungan yang menghiasi mata cantik milik Anggini itu.
"Kalo ragu, katakan saja, Anggini. Kalo kamu terlalu lelah untuk menutupi dirimu yang menyedihkan, berhenti saja. Pernikahan bukan cuma tentang mencari bahagia. Rumah tangga juga bukan ladangnya duka. Kalo kamu tanya apa pendapatku... kamu pantas mencari kebahagiaan yang nggak cuma kamu yang menanggung dukanya."
Anggini mencoba mengumpulkan kepingan kata-kata penuh makna itu menjadi satu kesatuan yang utuh. Mengambil jalan untuk berlari dengan nasihat yang Namer beri. Belum sempat menjawab atas pemahamannya, Bramasta menginterupsi pembicaraan serius itu.
"Aku cariin, ternyata ngobrol sama Nemar di sini."
Pria itu tiba-tiba saja terlihat berbeda dimata Anggi. Tidak terlihat biasa aja, juga tidak terlihat bahwa Asta hanya korban patah hati atas kehilangan. Lebih dari itu, Asta terlihat menyeramkan dengan segudang rahasia yang membuat Anggi takut sekaligus menyedihkan.
Nemar bersikap sangat biasa hingga Anggi bisa memerhatikan suaminya sendiri tanpa kecurigaan Asta sendiri. "Kurang jauh lo nyarinya, Ta. Anggi ngerasa gagal, tuh ngumpetnya karena lo nemuin dia di sini."
Asta menatap istrinya yang memang terlihat kecewa. "Kamu beneran sedih aku nemuin kamu di sini?"
"Hm...." Anggini menahan suaranya untuk bicara panjang, karena dia takut akan lepas kendali dan berujung menangis di depan banyak orang.
"Sayang... serius?" Asta kembali mencoba memastikan.
Nemar memukul ringan bahu temannya itu, tanda persahabatan. "Gue duluan, Ta. Anggini udah nggak akan kesepian karena ada lo yang nemenin dia ngobrol."
Sepeninggal Nemar, keduanya saling bertatapan lekat.
"Kamu nggak beneran kecewa aku nemuin kamu di sini, kan? Nggak kecewa karena aku nemuin kamu di tempat yang deket dari kantorku, kan?"
Anggini menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dia putus jarak dengan sang suami. Menatap dengan mendongakkan kepala. Dia berbicara selayaknya berbisik. Suara yang sangat rendah dan dalam. "Suatu saat, aku nggak akan mengecewakan diriku sendiri dengan membuat kamu mencariku dari jarak terjauh supaya kamu nggak dengan gampangnya nemuin aku, Bramasta."
*
Saat Anggini mengatakan hal seperti itu, Asta tak percaya bahwa wanita itu memiliki keberanian untuk meninggalkannya. Mengatakan bahwa dirinya akan pergi dan membuat Asta mencarinya lebih jauh agar diri wanita itu tak kecewa. Bramasta tak memercayainya sama sekali. Anggini memiliki hati yang sangat lembut dibalik siakp kerasnya terhadap laki-laki. Asta yakin kalau sang istri tak akan membiarkannya mencari seperti apa yang diucapkan wanita tersebut.
Jadi, ketika ucapan itu mengalir sangat lancar dari bibir Anggini... Asta mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala wanitanya dan membalasnya dengan santai. "Kamu nggak akan bisa lepas dariku. Kamu tahu kalo perasaanmu itu sudah sangat dalam, Nggi. Kamu nggak akan sanggup membuat aku mencari kamu ke tempat yang jauh. I know you love me."
Kepercayaan diri pria itu membuat Anggi mendengus. Dia mengambil lengan sang suami yang semula mengelus kepalanya. Menaruhnya kembali pada posisi sebelumnya berada.
"Kamu nggak akan tahu perasaanku yang sebenarnya kalo kamu nggak mau tahu diriku yang sebenarnya." Anggi berganti mengulurkan tangannya guna mengusap kepala suaminya. "Kamu nggak akan bisa mencari aku dimanapun itu tempatnya kalo kamu masih nggak mau membuka hatimu untukku seutuhnya, Asta. I know you don't love me, yet."
Wajah Asta mengeras. Anggi bisa melihatnya, dan itu menjelaskan jika ego pria itu tersentil oleh kata-kata Anggi. Lalu dengan santainya Anggi mengalihkan suasana tegang itu dengan berkata, "Just kidding. Kenapa kamu sangat serius, sih, Honey? Aku sama sekali nggak berniat membahas masa lalu atau lainnya. Itu cuma candaan, karena Nemar bilang kamu itu selalu dapat apa yang kamu mau. Aku berusaha membuat kamu panik aja. Gimana? Aku berhasil?"
Asta mengambil kesempatan untuk menarik pinggul istrinya, membawa Anggi untuk segera menuju kantornya lagi.
"Kamu memang senang dihukum, Sayang."
Apa benar yang suaminya panggil menggunakan sebutan sayang adalah dirinya?
*
Anggini mengamati suaminya yang tertidur setelah sesi hukuman yang pria itu berikan padanya. Ternyata, ruangan milik Asta tidak sesederhana yang Anggi kira. Mereka buktinya bisa melakukan aktivitas fisik di ranjang yang empuk dengan segela fasilitas di dalamnya. Asta memang bukan sembarangan anak orang kaya yang terlihat sederhana. Anggi tahu, suaminya bisa saja melakukan apapun yang diinginkannya dengan uang yang tidak bisa dikatakan sedikit jumlahnya.
Kalau dirinya benar-benar tak tahan dengan situasi rumah tangga yang ada, sudah pasti Asta bisa menemukan dirinya lebih cepat dari apapun dengan kekuasaan serta uangnya. Namun, Anggi kembali berpikir... apa benar Asta akan mencarinya jika itu terjadi?
Wanita itu terkekeh dengan aliran miris yang menghiasi pipinya. Anggi terlalu percaya diri Asta akan kesulitan mencarinya ketika waktu itu benar-benar terjadi. Padahal, Anggi tahu jawabannya tidak akan pernah. Asta tidak akan pernah mencarinya. Memangnya untuk apa? Tak ada gunanya karena hanya Anggi yang mencinta disini.
"Anggi?"
Anggi buru-buru menghapus airmatanya. Ternyata isakkannya cukup menganggu tidur lelah sang suami. "Maaf, aku bangunin kamu."
Bramasta menyangga tubuhnya dengan siku. Memandang Anggi lebih dulu. Ketika istrinya tak tenang juga meskipun sudah berusaha keras menghentikan isaknya, Asta bergerak mendekat dan merangkul bahu istrinya. Pria itu terlihat tenang dan bisa membuat Anggi merasa sangat diperhatikan. Meski begitu, sekarang Anggi tak bisa berpikir posistif bahwa Asta benar-benar memberikan perhatian yang tulus. Skeptis. Anggi merasa semakin merasa bahwa yang dilakukan suaminya adalah bentuk skenario yang harus dipenuhi. Dan sudah pasti hal itu membuat tangis Anggi semakin deras nan keras.
*
Tangisannya yang tergugu berhenti tepat setelah Asta mendapat panggilan dari asistennya melalui telepon di ruangannya. Merasa lega, tetapi juga lebih banyak merasa ingin menumpahkan segalanya. Hari ini dia hanya menangis tanpa mengatakan apapun pada suaminya mengenai isi hati. Mungkin nanti, Anggini akan mampu mengungkapnya tanpa ragu.
"Mau ke mana?" tanya Asta melihat istrinya bergerak menuruni ranjang.
Anggi menunjuk arah kamar mandi menggunakan ibu jarinya. Tak mau menggunakan suara, karena tak mau didengar seraknya.
Asta mengangguk. Lagi-lagi Anggini melihat wajah meminta maaf dari Asta—entah tulus atau tidak—yang membuat Anggi kembali ingin menangis.
Meninggalkan sang suami yang masih memandangi punggungnya, Anggi meluruh di balik pintu kamar mandi menahan rasa sakit hati membayangkan jika dirinya kini tak dicintai oleh suaminya sendiri.
Setelah dirasa cukup, Anggi bergerak menuju shower bermandikan air hangat membuat santai kepalanya yang semakin runyam saja hanya karena satu nama.
Mata Anggi terpejam. Aroma air yang tidak khas tidak ada apa-apanya itu membuat deru nadinya bisa melemas. Berlama-lama Anggi di sana. Hingga tanpa sadar tubuhnya direngkuh dalam tubuh kekar milik Asta dari belakang. Pria itu menghidu aroma dipundak Anggi, padahal belum memakai sabun aroma apapun.
"Ada apa sama kamu, sih, Nggi?" lirih pria itu. "Apa yang salah? Ngomong, Nggi."
Anggi membiarkan Asta bertanya-tanya mengenai apa yang sedang wanita itu rasakan hingga mudah sekali menangis karena hal kecil. Emosi yang naik turun, keinginan untuk bermanja-manja, Asta tak bisa bohong bahwa dirinya khawatir dengan gejala-gejala semacam itu.
"Aku nggak apa-apa."
"Itu berarti kamu menyembunyikan apa-apa dari aku."
Derasnya air yang menghujani mereka menyamarkan airmata Anggi. Wanita itu kembali menangis.
"Anggini..."
"Kamu harus siap lebih dulu sebelum meminta aku jujur."
Asta menurunkan tangannya mengelus b*******a Anggi. Dia kecup hingga memberi sensasi nyeri hingga membuat kulit bahu istrinya memerah.
"Kapan aku nggak siap dengan segala tuntutan kamu?"
Wanita yang merasa selalu gagal menolak gejolak tubuh dari suaminya itu terdiam.
"Kalo ada yang seharusnya siap, itu bukan aku, Nggi. Tapi kamu."
"Siap untuk apa? Cerita masa lalu kamu dan Kak Gita, misalnya?"
Bramasta menghentikan kegiatannya untuk memancing sang istri. Dia sudah tak nyaman.
"Apa aku bilang, kamu yang belum siap." Kata Anggi.
"Jangan anggap enteng aku, Nggi. Kalo kamu mancing, aku bisa sebutin fakta yang pasti bikin kamu—"
"Aku hamil! Fakta lebih mencengangkan apa lagi yang bisa membuat kamu berhenti membandingkan aku dan kakakku?!"
Anggi berteriak tanpa menghadap suaminya. Dia tak mau melihat tatapan kecewa yang Asta perlihatkan. Tak adil rasanya, dia hamil tanpa dicintai suaminya. Sedangkan Anggi mencintai calon bayi mereka tanpa perlu bayaran apa-apa.
"Oh... candaan kamu mulai bikin aku kesal, Nggi." Asta perlahan memberi jarak, menarik pundak wanita yang sudah dia berikan ultimatum untuk tidak hamil apapun caranya. "Kamu. Bikin. Aku. Kesal, Anggini." Asta menekan setiap kata yang diucapkannya dengan gigi bergemeletuk.
"Aku nggak bercanda dengan hal semacam ini! Belakangan, aku cek pake alat tes kehamilan karena jadwal menstruasiku—"
"Aku nggak butuh penjelasanmu tentang itu! Yang ku mau... berhenti main-main dengan kehamilanmu itu." Asta mengetatkan rahang. Menatap nyalang Anggi yang sudah berani menentang keinginannya. "Asal kamu tahu. Aku nggak menginginkan anak dari kamu, Anggini."