Arga tak bisa konsen dengan pekerjaannya, dia terbayang kerugian saat malam itu di mana dirinya tak sadar dan melupakan segalanya. Kepalanya pusing menginginkan sesuatu, tapi tak mau di cap bajing-an karena memaksakan kehendak.
"Sial. Itu hakku, tapi kenapa aku masih tak bisa mendapatkannya. Rania juga, kenapa sih perempuan itu di sentuh sedikit saja sudah teriak mes-um padahal aku ini suaminya," ujar Arga dalam perasaan yang jengkel.
Saat ini dirinya tak di kampus, tapi di perusahaannya. Ah, iya, dia selain dosen dia juga seorang pengusaha atau tepatnya CEO dari perusahaan turun temurun keluarganya. Dia sudah diangkat menjadi pimpinan di sana. Tanya saja jadwalnya masih belum terlalu padat karena sang daddy-nya masih bekerja di sana, dibantu asisten pribadinya dan juga saudara sepupunya yang lain.
"Seujung kuku saja dia sudah mengamuk, padahal semuanya milikku tanpa terkecuali. Apa hanya jebakan yang bisa mempersatukan kami?!" geram Arga frustasi, dan teringat bagaimana dia bisa memiliki Rania karena menjebaknya dan semalampun berkat jebakan Citra. Sayangnya tadi malam dia malah tak sadar, dan merasa amat di rugikan.
Mengusap wajahnya kasar, walaupun tak bisa tenang diapun tetap bangkit dan menuju ruangan meeting. Pekerjaan tak bisa menunggu ataupun memaklumi kegundahannya dan dia tetap harus melakukannya.
• • •
"Jangan berpikir aku akan suka denganmu hanya karena kamu memberiku tumpangan di mobilmu. Lagian mobil dan sopirnya punya dan Mas Arga yang bayar jadi harusnya aku sebagai saudaranya mempunyai hak," kata Viona menerangkan.
Barusan mobil miliknya sendiri kebocoran ban, tidak bisa menunggu perbaikan atau menggunakan mobil lain. Semuanya sudah dipakai anggota keluarganya, dan kalau naik kenderaan umum dia bisa terlambat. Kebetulan di pagi hari yang hampir siang itu Rania juga hendak ke kampus dan mempunyai jadwal yang sama dengannya.
Sehingga dengan mengenyahkan kebencian diapun terpaksa naik mobil Rania. Sayangnya walaupun sudah dibantu, begitu turun diapun berkata demikian.
"Kamu bisa terlambat jika terus mengomel disini. Pergilah atau memang itu yang kamu inginkan?" ujar Rania menjawab sekaligus menginginkan.
Sebenarnya dia kesal juga dengan Viona, tapi mau bagaimana lagi sekesal-kesalnya dia, Rania sadar betul siapa Viona baginya. Dia adik iparnya terlepas dari mereka yang hanya selisih umur beberapa bulan dan bisa dibilang seumuran. Rania cukup dewasa dari berpikir, sehingga dia merasa tak pantas untuk tidak membenci.
"Sial. Aku terlambat dan ini semua karena mu. Awas saja nanti, aku belum selesai dan akan memberimu perhitungan!" seru Viona sebelum kemudian benar-benar pergi dari hadapan Rania.
"Terserah saja," jawab Rania santai. Dia tak terlalu memusingkan ucapan Viona kali ini dan tak begitu memperdulikannya.
Setelah supir pribadi yang mengantar jemput dirinya pulang, Rania pun menuju kelas melewati lorong fakultas dan sialnya dia malah bertemu Regan.
"Ah, ternyata bukan cuma dekat dengan Pak Arga, tapi adiknya juga. Kamu dan Pak Arga beneran pacaran?" tanya Regan kepo dan membuat Rania langsung kesal.
"Kamu terlalu jauh ikut campur. Apapun itu seharusnya itu bukan urusanmu," jawab Rania geram.
"Sudah aku bilang itu urusan ku. Aku paling tak suka dengan hubungan terlarang antara dirimu dan Pak Arga. Kalian tak pantas dan mencemari kampus ini, karena hubungan percintaan dosen dan mahasiswi itu tak sah!" seru Regan percaya diri.
Menyulut sesuatu dalam diri Rania yang seakan mau meledak saja saat mendengarnya. "Dasar gila, menyingkir dari jalanku!"
"Tidak mau. Kamu harus putuskan Pak Arga dahulu dan berhenti mendekatinya," jawab Regan memberikan opsi yang tak masuk akal.
"Baiklah aku masih punya jalan lain," kata Rania tak menyerah.
Sayangnya Regan malah berlari kehadapannya dan menghadang jalannya kembali. "Kamu tidak takut itu bagaimana jika aku sebarkan hubungan kalian?!" ancam Regan kemudian.
"Silahkan saja," jawab Rania enteng. "Siapa yang perduli ucapanmu. Tak ada yang akan mendengarkanmu," lanjut Rania.
*****
Sore tiba dengan cepat. Tugas supir yang seharusnya menjemput Rania, sengaja diambil ahli oleh Arga. Anehnya dia merindukan istrinya dan dia tak sabar bertemu dengannya.
"Kenapa ke sini sih, kamu kan nggak ada jadwal ngajar Mas?!" rengek Rania protes.
"Aku menjemputmu apakah itu salah?" tanya Arga dengan wajah datarnya.
"Kalau kamu menjemput karena aku adalah istrimu, maka itu tak salah. Akan tetapi jika Mas menjemput ku dengan status kita yang dosen mahasiswi, jelas saja itu sangat salah," jawab Rania.
"Di bagian mananya yang salah?" tanya Arga.
'Gila, masih nanya lagi nih orang. Nyebelin bangat sih!' geram Rania membatin.
"Aku mahasiswimu dan kamu dosenku. Kita bersama dan jalan berdua. Itu kalau dilihat orang lain pasti terjadi skandal Mas!" beritahu Rania serius.
"Kamu pikir kita artis sampai bisa berskandal begitu?" balas Arga yang menganggap remeh maksud Rania.
Rania akan menjelaskannya lagi, tapi kemudian sesuatu terjadi dan HP-nya berbunyi. Tak sekali, suaranya sangat berisik padahal cuma chatingan yang masuk. Rania penasaran karena bunyinya berulang kali menunjukkan bukan hanya satu, tapi banyak. Rania pun membuka pesannya kemudian melihat dengan bola mata yang terkejut.
"Ada apa?" tanya Arga yang menyadari perubahan wajah istrinya.
"Inilah yang aku maksudkan tadi," jelas Rania sambil memperlihatkan chat grup di HP-nya pada Arga. "Kamu lihat Mas bagaimana hubungan dosen mahasiswa itu sangat berskandal melebihi artis. Sial. Mereka membicarakan kita, warga kampus pasti akan menuntutku nanti."
Setelah mengucapkan hal itu, keduanya saling diam dan suasana menjadi hening.
"Maaf," ungkap Arga hampir membuat Rania tak percaya, tapi bukan hanya maaf sebab sepertinya Arga punya solusi untuk masalah mereka.
"Foto yang tersebar itu, tak begitu jelas. Jika mahasiswa atau siapapun di kampus bertanya, kamu bisa mengeles cuma mirip," saran Arga.
Dia mengerti sekarang, setelah melihat chat grup di HP Rania. Orang-orang hanya menuntut istrinya, tapi tidak dirinya. Jika dibiarkan terus perkuliahan istrinya pasti tak akan tenang dengan status mereka yang ada ini. Arga tak mau itu terjadi karena walaupun tak cinta, dia berpikir untuk berkewajiban membuat Rania kuliah dengan tenang dan juga nyaman tanpa tekanan dari apapun juga.
Sementara itu Rania berpikiran lain. Dia tahu siapa penyebar fotonya dengan Arga, sebab dia mengingat bagaimana beberapa waktu lalu Regan sudah mengancamnya.
'Jadi laki-laki rese itu serius dengan ucapannya. Dia mau menjatuhkan ku terang-terangan, walaupun seharusnya itu bukan urusannya. Sial. Kenapa dia sekeji itu sih. Apa dia tak punya pekerjaan sampai-sampai begitu banyak waktu mengurusi hidup ku yang begini. Apa maunya? Perasaan aku tak melakukan apapun yang merugikan dirinya kok,' batin Rania kesal kepada Regan.
Bukan hanya kesal, tapi tepatnya Rania sudah membenci Regan, sebab menurutnya tindakan laki-laki itu sudah tak bisa ditoleransi. Dia menyebarkan foto dan juga kalimat buruk tentang Rania.
"Ternyata walaupun berkecukupan, Rania merupakan simpanan Pak Arga!!" begitulah kiranya isi keterangan dari foto yang disebarkan. Sampai membuat chat grup ramai dan banyak orang langsung menuntut Rania lewat chat.
*****