Maggie meraba bibirnya, masih setengah tidak percaya, sudah lama Ansel tidak menyentuhnya, Maggie berfikir jika nanti Ansel akan menyetuhnya, sentuhan kasar yang akan di dapatkannya, karena menurut Maggie dia tidak lebih dari sekedar pemuas nafsu Ansel yang beruntung mendapatkan cintanya. Nyatanya bukan sentuhan kasar melainkan hanya sebuah ciuman lembut yang penuh dengan rasa kasih sayang. "Bisa kita lanjutkan acara makannya?" Kata Ansel sembari menuntun Maggie untuk duduk kembali. Maggie mulai melahap makanan yang ia sukai tanpa memikirkan berat badan yang akan melonjak naik, entah mengapa nafsu makannya tinggi jika terkait dengan makanan penutup atau pasta seperti ini. Ansel yang menatap Maggie sedari tadi tersenyum, namun aktifitas Ansel itu terganggu oleh suara deringan telephone,

