01
Sejak kecil, Laura terbiasa melihat keberadaan hal-hal di luar logika manusia biasa, makhluk supernatural seperti roh jahat, iblis, dan bahkan reaper. Ya, para pencabut nyawa yang selalu menanti di samping orang-orang hendak meninggal dunia. Mereka menjaga agar jiwa orang tersebut tidak sampai jatuh ke tangan para iblis atau berkeliaran tak tentu arah, lalu mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir.
Reaper pertama yang dia lihat adalah ketika dia masih berusia sepuluh tahun. Dia mengunjungi neneknya yang sudah lemah di tempat tidur. Ibu, bibi, dan semua wanita di keluarganya mengelilinginya untuk mengucapkan salam perpisahan. Akan tetapi tak satupun dari mereka yang bisa melihat adanya makhluk lain yang setia berdiri di sebelah ranjang.
Makhluk berwujud layaknya pria dua puluh tahunan yang berpakaian serba hitam. Pria itu tidak membawa apapun, tidak ada senjata sabit atau semacamnya, tidak seperti yang digambarkan oleh buku mitologi manapun. Dia sempat menoleh ke arah Laura dengan tatapan keheranan. Sebagai seorang reaper, tidak ada yang bisa melihat mereka kecuali mereka sengaja menampakkan diri dan orang yang dekat dengan kematian.
Karena tahu bahwa keberadaan pria itu adalah makhluk asing, Laura spontan menunduk dan bersembunyi di balik kaki ibunya. Dia tetap diam sekalipun mendengar pembicaraan reaper tersebut dengan neneknya.
“Ayo ikut denganku,” kata reaper tersebut dengan suara yang ramah.
Jiwa nenek yang telah terlepas dari tubuhnya itu tidak bisa menolak ataupun membantah. Dia mengikuti langkah reaper dan menghilang menembus tembok kamar.
Sejak kejadian itu, Laura selalu melihat reaper yang berkeliaran di kota tempat tinggalnya setiap ada orang yang akan meninggal dunia. Bahkan sempat dia melihat ada reaper yang tiba-tiba muncul di samping korban kecelakaan mobil yang ada tepat di jalanan depan rumahnya.
Di saat semua orang sibuk membantu korban yang mungkin selamat, Laura memandangi reaper tersebut menjemput jiwa yang baru saja lepas dari raganya.
Semua reaper selalu memakai pakaian serba hitam. Untuk pria, setelan jas dan mantel yang sama dengan manik tengkorak di ujung kerah kemeja, sedangkan wanita adalah gaun hitam selutut dengan kalung berliontin tengkorak. Pakaian mereka sangat mewakili hari berkabung.
Selain itu, seiring bertambahnya usia, Laura juga mulai terbiasa dengan keberadaan iblis dan roh jahat. Roh jahat sendiri adalah jiwa manusia yang memiliki dendam, sehingga menolak untuk meninggalkan dunia. Mereka membuat kerusakan dan sering menganggu manusia hidup. Hawa negatif mereka sangatlah kental, dan itu membuat Laura enggan mendekat.
Kini sembilan tahun sudah berlalu semenjak melihat reaper pertama, usia Laura sudah menginjak sembilan belas tahun. Saat ini dia merupakan pemain biola profesional yang sudah melakukan penampilan di berbagai kota di seluruh Amerika. Walau begitu, tidak banyak orang yang mengenalnya, kecuali mereka adalah penikmat musik sejati.
Untuk beristirahat dari cedera tangan, dia menyewa rumah sendiri. Rumah tersebut masih terletak di kawasan Cedar City, berjarak sepuluh mil dari rumah ibu dan bibinya.
Sudah sebulan berlalu dan selama itu pula, dia merasakan ketentraman. Tidak ada gangguan ataupun penampakan makhluk supernatural. Kawasan tempat tinggalnya ini cukup aman, padat penduduk, dan dekat dengan gereja.
Sekalipun begitu, dia sering mendengar suara gagak di malam-malam tertentu, yang terkadang dia asumsikan sebagai kehadiran reaper yang sedang akan menjemput jiwa seseorang. Benar saja, keesokan harinya ada yang meninggal dunia.
Setidaknya, Laura bersyukur tidak lagi bertatap mata dengan para reaper. Dia merasa kalau seluruh reaper selalu memiliki sorot mata yang sama yaitu dingin seolah bola mata ikan mati.
Laura termasuk wanita muda yang tidak terlalu ceria, tidak terlalu suka berteman, dan memang pada dasarnya penyendiri. Namun bukan berarti dia pemalu, dia hanya suka mengekspresikan isi hatinya melalui lantunan tuts piano ataupun gesekan biola. Karena sikap yang agak tertutup inilah, dia tidak terlalu dikenal di sekitar tetangga.
Hari ini tepat tanggal satu di bulan baru. Laura melingkari kalendernya dengan tangan kiri. Jemari tangan kanannya masih diperban. Sebulan yang lalu, dia berusaha melindungi diri dari ambruknya lemari loker kamar ganti. Semua terjadi secara miterius, tapi ia yakin tidak merasakan hawa jahat yang berarti kejadian itu murni kecelakaan.
"Aku sudah menganggur selama sebulan,” gumamnya antara sedih tapi juga menikmati.
Dua tahun dia bekerja keras untuk menghibur warga negara ini. Sekarang ia juga ingin bersantai, tapi kadang-kadang kesendiriannya sangat membosankan.
Demi tetap eksis di media sosial, dia mengambil ponselnya, lalu menekan tombol kamera. Sebelum itu, dia mengamati dirinya di depan meja rias.
Tubuh ramping, tidak terlalu menonjol depan maupun belakang. Rambutnya selalu memiliki model yang sama sejak kecil, lurus memanjang hingga punggung dengan warna merah menyala. Kulitnya terlalu putih sampai terkesan pucat, serta mata yang kecoklatan. Ciri fisiknya ini membuat dia dipanggil penyihir, apalagi nama aslinya adalah Laurelyn de Morgan, yang benar-benar seakan membawa hawa magis.
Dia menghela napas panjang, mengingat masa kanak-kanaknya yang selalu diledek penyihir. Namun lambat laun dia sedikit percaya kalau kemungkinan itu benar, mengingat dia bisa melihat hal-hal yang seharusnya tak dilihat orang biasa.
Selama ini, dia tetap diam, bersikap layaknya wanita muda yang berpikir logis. Kalau sampai ada orang yang menyadari “kelebihannya” itu, sudah pasti julukan penyihir akan terarah padanya kembali.
Selepas merapikan blus biru yang dia pakai, Laura berbalik badan, membelakangi meja rias tersebut, lalu memotret dirinya sendiri.
Saat dia memeriksa potretnya, dia terkejut bukan main. Ada bayangan hitam yang bukan miliknya terpantul di cermin. Dia segera berbalik, lalu memastikannya sendiri.
"Halo?” ucapnya mengerutkan dahi karena tidak melihat apapun.
Pandangannya teredar ke berbagai arah, ranjang, lantai sekitar kolongnya, meja, kursi, lemari, bahkan kusen jendela yang telah terbuka. Hari sudah pagi, cahaya yang masuk sangat terang, sehingga seharusnya tidak ada bayangan hitam.
Dada berdebar kencang. Ia sering mendapati fenomena aneh, tapi bukan berarti dia kebal akan rasa takut.
Makhluk yang paling dia takuti adalah iblis, dia sempat melihat wujud mereka yang seperti bayangan hitam kelam dengan mata merah menyala bagaikan nyala api, dan itu sudah cukup membuatnya sulit tidur berhari-hari.
Untuk menepis rasa takut, dia memutuskan untuk turun dan sarapan. Karena tangan kanan masih sakit, itulah sebabnya dia sering memakan makanan yang mudah dibuat, seperti sandwich atau semacamnya.
“Makan sandwich lagi,” katanya agak mengeluh. Dia menuruni anak tangga kayu yang sebagian areanya berderit.
Dia hafal mana-mana saja anak tangga yang berderit. Anehnya, ketika dia sudah turun di anak tangga terakhir, ada suara derit di belakangnya seolah-olah orang lain juga ikut turun. Seketika itu pula, dia menoleh cepat dengan bulu tengkuk berdiri semua.
Masih tidak ada siapapun, dan tidak ada hawa negatif sedikitpun. Laura meneguk ludah, kemudian berkata agak lantang, “halo? Ada orang?”
Setelah jeda sesaat, dia menggeleng dan bergumam sendiri, “tidak mungkin.”
Ketakutan yang dia rasakan semakin besar. Dia yakin ini bukanlah ulah manusia, suara derit barusan jelas tepat ada di belakang. Ada sesuatu, makhluk lain yang sedang mengintai.
Aura ngeri mulai mengudara di sekitar Laura. Rumah ini mungkin sangat terang, jendela-jendela sudah terbuka, tapi kesunyian membuat segalanya mencekam.
Hanya suara detak jantung Laura yang terdengar. Dia mencoba untuk menghiraukannya dengan berjalan terus ke arah dapur. Segala pemikiran buruk dia tepis.
Akan tetapi lagi-lagi dia bisa merasakan hal yang aneh saat sedang berjalan. Dia sampai berhenti karena udara di samping kanannya seperti terhempas sedikit akibat seseorang melintas, padahal tidak ada siapapun.
Tidak ada apapun.
“Hello?”
Tidak ada sahutan.
Laura ingin menenangkan diri. Dia yakin seratus persen apapun yang mengintarinya ini bukanlah makhluk jahat. Tidak ada aura buruk yang dia rasakan. Namun apakah itu?
Setelah semua normal kembali, dia pun membuat sandwich, kemudian duduk di salah satu kursi.
Siapa yang ada disini?, Ia membatin.
Detak jantungnya masih berdebar cepat, meremang bulu halus sekujur tubuh. Ada sesuatu yang sedang memperhatikannya.
***