Sejak beberapa menit yang lalu Rayyan terjaga dari tidurnya. Seperti ada ribuan jarum yang menghujami perutnya. Napasnya pun sesak seakan ada benda yang menyumbat jalan napasnya. Rayyan melirik sang mama yang tidur dengan nyenyak di sampingnya sampai ia merasa tidak tega untuk membangunkan. Matanya memerah, keringat mulai membasahi tubuhnya yang tengah mati-matian menahan sakit. Dengan sisa-sisa tenaganya, Rayyan berusaha turun dari tempat tidur, berjalan tertatih——menggapai-gapai dinding kamar untuk menahan bobot tubuhnya. Sial! Lelaki itu mengumpat merutuki kondisi saat ini, dimana ia merasa jaraknya dengan kamar mandi semakin jauh, atau mungkin langkahnya saja yang semakin melambat dan berat. Baru beberapa langkah lelaki itu langsung membungkuk menumpahkan gejolak dalam perutnya yang

