Meskipun rasanya berat, Rayyan membuka paksa netranya. Menyapu sekitar, dan langsung dihadapkan pada wajah cemas orang-orang terdekatnya. Ada rasa senang karena akhirnya ia bisa melihat mereka lagi, ada pula rasa bersalah mengingat betapa ia sangat merepotkan. "Maaf." Amanda sedikit membungkuk mencium kening putranya lantas bertanya, "Maaf buat apa, Sayang?" "Bikin repot." Amanda menggeleng cepat. Baginya Rayyan sama sekali tidak merepotkan. Sudah tugas orang tua menjaga dan melindungi putra-putrinya. "Kamu sama sekali gak bikin repot." Rayyan diam lagi. Bergantian ia menatap orang tuanya. Rayyan sadar ada hal yang selama ini ia paksakan--kebersamaan orang tuanya. Rayyan terlalu egois sampai tak pernah memikirkan perasaan mama dan papanya yang pasti sama-sama tidak bahagia. "Pa, Ma, ma

