Sebelumnya...
"Berhenti menangis, bodoh! Suaramu berisik sekali!" Bentak Ray.
Kiara mencoba diam dan tak menangis lagi. Ia menahan suara tangisan agar tak terdengar oleh telinga Ray. Ia tersedak-sedak, terisak-isak, dadanya sakit, kepalanya sakit, hidungnya sakit, matanya membengkak.
"..." Takut. Kiara sangat takut pada Ray.
Sudah kedua kalinya ia mengalami pemaksaan seksual dengan cara yang mengerikan. Pengalaman pertamanya saja belumlah bisa ia lupakan. Belumlah bisa ia sembuhkan, kini ia harus kembali mengalaminya dalam kurun waktu yang tak begitu lama.
"Aku hanya ingin menikmati tubuhmu lagi! Seperti yang sudah kita lakukan sebelumnya. Seperti yang kita lakukan baru saja. Kau masih kurang, kan?" Kata Ray.
Kiara menggeleng dan terus mengeluarkan air matanya. "Jangan, Tuan! Jangan lagi!"
"Aku tidak butuh jawaban darimu!" Ray menatap Kiara yang lemah tak berdaya di ranjangnya yang luas itu.
Ray mencoba menarik selimut yang Kiara pakai untuk menutupi lekuk tubuh indahnya.Kiara menahannya mati-matian. Sudah cukup Ray melihat tubuhnya yang menggoda itu.
"Aku sudah melihat semuanya! Kenapa kau harus malu seperti itu? Tunjukkan padaku, Kiara!"
Kiara kembali menggeleng. "..."
Ray kesal karena Kiara tidak mau menuruti perintahnya.
Kiara memejamkan kedua matanya ketika Ray bersiap menampar pipinya.
Bukan rasa sakit, perih, atau panas di pipi yang Kiara rasa. Ray tidak benar-benar menamparnya. Ray justru membelai lembut pipi super mulusnya itu.
"Buka matamu, Kiara! Kau tahu, aku menyukai saat kau menatapku nanar." Kata Ray.
Kiara mencoba membuka kedua matanya perlahan. Jika saat ini ia tak menuruti perintah Ray, maka ia akan mendapatkan tamparan yang tidak jadi Ray lakukan itu.
"Jika kau menurutiku, semua akan mudah." Ray masih setia membelai pipi Kiara. Ia bahkan menyempatkan untuk menghapus air mata Kiara yang mengalir tak henti-hentinya itu.
Nafas Kiara tersengal-sengal, kembang kempis tak teratur. Tubuhnya bergetar karena ketakutan. Ia tak bisa mengartikan perlakuan lembut Ray saat ini secara arti nyatanya.
Semua perlakuan lembut Ray itu seperti bisa. Masuk tak terasa, tapi mematikan setelahnya.
"Kau adalah milikku! Kau tak memiliki tubuhmu! Tubuhmu adalah milikku!" Kata Ray mutlak tak ingin dibantah.
"..." Kiara terdiam. Haruskah ia menyerah akan tubuh dan hidupnya sendiri? Hanya karena perintah konyol Ray?
"Jika aku melihatmu keluar dari rumah ini, kau akan mati!" Ancam nyata Ray.
Kiara merinding seketika. Seriuskah Ray akan ancamannya itu?
"Kau tidak memiliki hak untuk membantahku! Kau akan melayaniku saat aku menginginkanmu! Aku tidak peduli sedang apa dirimu, saat aku bilang menginginkanmu, kau harus segera datang dan melayaniku!" Lanjut Ray.
Kiara hanya bisa meratapi nasibnya yang memilukan itu. Ia tak berontak ketika Ray menyingkirkan selimut yang sedari tadi ia tahan untuk melindungi tubuh moleknya.
Pada akhirnya, ia kembali menuruti segala permainan menjijikkan iblis satu ini. Membuat hari menderitanya semakin panjang.
.
.
.
Yuna sedang mencari Kiara, maka dari itu ia mendatangi kamar Kiara. Yuna langsung kaget dan penuh tanya saat melihat Kiara keluar dari kamar Ray dengan tampang berantakan.
Otaknya membawanya ke dalam fikiran yang tidak ia harapkan sama sekali. Percayalah, ia tak sebodoh itu untuk menerka apa yang terjadi pada Kiara.
Apakah Ray melakukannya lagi?
“Kiara?” Gumam Yuna. Ia perlu loading sikap untuk menangkap keadaan Kiara saat ini. Ia tidak boleh salah ambil sikap.
"..." Kiara menatap Yuna, lalu menangis.
Yuna mendekati Kiara dan memeluknya erat. “Sst..sst.. Tidak apa-apa. Jangan diceritakan jika kau tidak mau mengingatnya! Aku akan menemanimu.” Kata Yuna menenangkan.
Enatah kenapa ia merasa kesal dan sangat marah melihat keadaan Kiara. Kesal dan marah yang ia rasa seolah-olah ia dapat merasakan luka sangat pedih yang Kiara rasakan. Mungkin karena sama-sama seorang wanita jadi ia bisa memahami perasaan Kiara?
Ayolah, siapa yang mau dilecehkan dengan hina dan keji?
Yuna mengajak Kiara masuk kamar. Yuna juga membuatkan teh hangat untuk Kiara. Kiara meneguk pelan teh buatan Yuna itu. Hangatnya teh membuat badan Kiara terasa lebih baik.
Tidak hanya fikirannya yang memang sudah lelah, tapi fisiknya juga sangat lelah. Hari ini Kiara banyak menghabiskan tenaga.
“Jangan khawatir, kak Ken sedang menceramahi kak Ray! Maaf, aku menceritakannya pada kak Ken soal kelakuan kak Ray terhadapmu. Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa. Jika dibiarkan seperti ini terus, kak Ray akan seenaknya saja melukaimu.” Kata Yuna.
“Aku akan baik-baik saja Yuna.” Kata Kiara pelan.
“Ini sudah lewat jam makan malam, Kiara aku akan mengambilkanmu makanan. Kau sama sekali belum makan. Tadi siangpun kau hanya minum smooties.”
“Rasanya aku sedang tidak ingin makan.”
Yuna hanya mengangguk mengerti. Ia tahu jika Kiara sedang banyak masalah. Ia juga pernah mengalami banyak masalah, hanya untuk minum saja malas, apalagi harus memasukkan makanan ke mulutnya? Rasanya seperti harus menelan kulit durian mentah-mentah.
Walau sekarang Yuna juga sadari, stress karena banyak masalah dan menjauhi makanan untuk pelarian itu sebenarnya hanya akan menambahi masalah saja. Bagaimana jika sampai membuat sakit? Itu benar-benar akan merepotkan.
Namun, bukan berarti ia harus sok keren dan memaksa Kiara untuk makan. Ia harus memberi jeda agar perasaan Kiara membaik. Semenit, sepuluh menit, seberapapun itu, ia tak boleh memaksakan kehendaknya pada Kiara.
Pelecehan bukan hal yang mudah untuk dilewati. Apa lagi ini bukanlah yang pertama.
Trauma itu akan semakin sulit sembuh.
.
.
.
Saat Yuna sedang berbincang-bincang dengan Kiara, Ken datang dengan membawa nampan berisi makanan. Sepiring nasi putih, ayam goreng, soup berbagai macam sayuran, dan segelas air putih.
“Makanlah! Jangan menyiksa dirimu terlalu keras!” Kata Ken.
Suara Ken terdengar sedikit serak. Mungkin karena ia baru saja menceramai Ray habis-habisan. Kiara dan Yuna saja bisa mendengar bagaimana Ken marah besar pada Ray. Maklum saja, kamar mereka hanya bersebelahan.
"Aku tidak lapar." Kiara kini sedang berbaring menghadap ke dinding kamarnya. Ia membelakangi Yuna dan Ken. Ia bahkan menarik selimutnya sampai atas kepala.
"Menyiksa dirimu hanya akan membuatmu semakin menyedihkan, Kiara!" Kata Ken lagi.
"KAKAK! Kau terlalu kasar pada Kiara!" Kata Yuna tak setuju dengan kakaknya, Ken.
Menyedihkan? Kiara mengigit bibir bawahnya. Ia menangis. Sungguh, kata-kata Ken benar adanya
"Kiara dengar, kau harus makan agar kau memiliki kekuatan dan keberanian untuk melawan Ray!
"..."
Ah, itu maksud sang kakak rupanya.
“Kak Ken benar, ayo Kiara, kau harus makan! Aku akan menyuapimu.” Lanjut Yuna yang langsung mengambil piring yang berisi nasi. Ia ingin membantu Ken.
Kiara merasa tidak enak atas usaha Ken dan Yuna. Akhirnya menyibakkan selimutnya dan bangkit dari tidurnya. Lalu, ia memakan makanan yang Ken bawa. Meski hanya beberapa sendok saja sudah cukup untuk melegakan usaha Ken dan Yuna.
Yuna dan Ken terlihat senang. Kiara pasti akan membaik. Itu yang mereka berdua harapkan.