Sebelumnya, di kamar Ray...
Ray meraba-raba ranjang sebelahnya, mencari sesosok yang belum lama ini menghangatkan tubuhnya. Tidak ada! Namun sosok itu tidak ada di sana. Ranjangnya terasa dingin. Ia pun mencoba membuka matanya perlahan. Didapatinya sosok yang begitu familiar di hadapannya.
"Mencari Kiara?" Tanya Ken sarkastik. Ia kesulitan mengendalikan emosinya saat ini. Ingin rasanya segera melayangkan bogem mentah kepada si tampan yang sedang malas-malasan di ranjangnya itu.
"Dia dimana? Aku masih belum selesai dengannya. Jika kau senggang, cepat panggil dia kemari!" Pinta Ray.
Oh My God! Oke, sabar Ken!
"Kau sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan tidak, hah? Kau memperkosa Kiara lagi, Ray!"
"Aku hanya menidurinya saja." Ray nampak santai sambil mengenakan kemejanya.
"Hanya? ... Hanya kau bilang? Kau memperkosanya lagi, Ray! Kau melecehkannya! Ini sudah ke dua kalinya! Don't you know what? You already rapped her twice! Are you crazy, huh? Where is your mind?" Kata Ken cukup keras.
"Tidak perlu berteriak. Kupingku masih normal! ... Kalau kau datang hanya untuk marah-marah, pergi saja dari kamarku! Jangan lupa panggilkan Kiara, aku masih belum selesai dengannya!"
"Kau benar-benar sudah gila! Jangan sampai Kiara juga ikutan gila karenamu... Lepaskan dia dulu, kasihan, dia terlalu syok menerima kebejatanmu." Ken melembut. Ia tak bisa menangani Ray yang kasar dengan kasar pula. Ia harus mengalah untuk saat ini demi kebaikan semua.
"Syok apanya? Dia nampak menikmati setiap sentuhan dariku." Ray ingat ketika sepanjang permainan panas mereka, Kiara berulang kali menyebutkan namanya. Mendengar namanya keluar dari bibir manis Kiara, hasratnya semakin membuncah.
"Dia pasti hanya kesakitan karena perbuatan biadabmu! Dasar ibliss neraka!"
"Pantas menurutmu kau melontarkan kata-kata seperti itu? Urusan Kiara dan aku itu bukan urusanmu! Tidak usah sok sibuk mencampurinya!"
"Aku akan selalu mencampurinya sampai kau jengkel dan tidak mengulangi berbuat bejatmu pada Kiara lagi!" Ken masih punya banyak rentetan kata untuk memarahi Ray. "Dengar, Kiara itu sama sekali tidak memiliki kesalahan terhadapmu. Kau tak berhak menyakitinya!" Tambah Ken.
"Salahnya dia karena membuat nafsuku naik." Sungguh enteng perkataan Ray ini.
Ken tak mengerti. Menanggapi kegilaan Ray memang harus ikutan jadi gila juga. Mana ada Kiara yang sangat sopan itu 'menggoda' nafsu Ray!
"Kau mengada-ada!"
"Terserah aku kan mau apa? Kiara cukup hangat untuk menemaniku tidur."
"Dasar Ibblis!" Ken pun keluar dari kamar Ray dengan menutup keras pintu kamar Ray.
Sepeninggal Ken, Ray yang sudah berpakaian lengkap lantas mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan pematik.
"Damn! Aku kehilangan kendali."
.
.
.
Masih di kamar Kiara...
Ada yang harus Kiara tahu. Ken sudah memikirkannya sejak ia tahu bagaimana hubungan Ray dengan Kiara. Ken yakin, pola pikir Ray mengenai Kiara tidak sesimpel itu. Itu pasti rumit. Walau jujur ada rasa khawatir jika Ray hanya melampiaskan nafsu saja pada Kiara.
Namun lagi, Ken merasa Kiara harus tahu fakta itu. Kiara berhak mengetahuinya.
“Ray itu anak yang berbeda. Jauh dari kelakuannya terhadapmu, Ray itu sebenarnya orang yang sangat baik meski ia tidak pernah menunjukkannya. Ia memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan perasaannya. Dia itu payah, tapi entah kenapa ia memiliki otak yang sangat jenius. Kau tahu, ia lulus kuliah dengan IPK hampir sempurna.” Kata Ken.
Kiara hanya mencoba mendengarkan meski sebenarnya ia tidak terlalu tertarik. Buat apa ia harus mengetahui latar belakang orang yang sudah menghancurkan hidupnya?
“Kak Ray juga orang yang sangat dingin, angkuh, egois, banyak yang bilang juga jika kak Ray itu tidak berperasaan karena kak Ray tidak pernah menunjukan ekspresinya. Dia selalu berekspresi datar. Dia tidak pernah sekalipun menunjukan ekspresi bahagianya kepada orang lain. Bahkan saat ia harus berpidato di depan seluruh wisudawan saat kelulusan kuliah. Kak Ray tidak tersenyum sama sekali. Kami khawatir dengan sifatnya yang seperti itu. Dia tidak memiliki teman satupun di kampus. Hanya kak Ken saja yang bisa dekat dengannya.” Sambung Yuna.
Tidak memiliki teman? Tuan Mudanya yang sempurna itu?
Rasanya tidak mungkin.
"Ray adalah Iblis di dunia bisnis. Banyak yang memusuhinya. Dia bahkan harus merahasiakan identitasnya."
"Tak banyak yang tahu bagaimana CEO Syailendra Corp itu. Kak Ray benar-benar low profile. Dia mengendalikan semuanya dari balik layar. Ya aku akui sih, kakak itu banyak jahatnya daripada baiknya. Dia bisa bermain kotor. Jadi ingat, kakak bahkan pernah bermain di dunia bawah.."
Dunia bawah?
Mafia?
Gangster?
Kiara sedikit tertarik dengan cerita tentang Ray. Rasanya ia ingin tahu lebih jauh lagi, bagaimanakah Ray itu sebenarnya.
“Ray memang menyebalkan. Jika aku berhenti sampai di sini saja cerita tentang Ray, kau pasti akan mengira jika Ray adalah orang yang sangat jahat, sombong, dan mungkin kau akan menyebutnya sebagai orang yang tidak ingin bergantung pada orang lain atau mungkin ingin hidup sendiri? Tapi sebenarnya, Ray itu adalah orang yang sangat memerlukan sandaran.” Kata Ken.
Kiara bingung. Penjelasan Ken dan Yuna berputar-putar antara baiknya Ray dan juga buruknya Ray. Apa Ray itu punya banyak kepribadian?
Ah, imajinasinya terlalu jauh.
“Dia berubah sejak saat itu.” Yuna tidak kuasa menceritakannya.
“Sejak saat itu bagaimana?” Tanya Kiara yang sudah masuk dalam kisah yang Ken dan Yuna ceritakan.
Ia penasaran dari sosok yang baru saja melecehkannya.
“Kecelakaan lima belas tahun yang lalu.” Jawab Ken.
“Kecelakaan?” Tanya ulang Kiara.
“Ya, kecelakaan yang tidak bisa Ray lupakan sampai sekarang. Kecelakaan yang selalu menjadi mimpi buruk untuk Ray. Kecelakaan itu mengubah total kehidupan kak Ray.” Jawab Ken.
Kiara kaget bukan main. Ternyata di balik kediaman Ray, keangkuhan Ray, Ray itu menyimpan beban yang sangat berat, lebih berat dari beban yang ia rasakan.
Dirinya dan Ray itu sama. Sebatang kara.
Kenapa Ray tidak mengeluh seperti dirinya?
“Dalam kecelakaan itu hanya kak Ray saja yang selamat. Demi alasan keselamatan kak Ray, mayat keluarga kak Ray tidak bisa kami ambil.” Kata Yuna.
“Kenapa begitu?” Tanya Kiara.
“Kau pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah betapa kejamnya dunia bisnis itu, kan?” Tanya Ken.
"..." Kiara menagangguk karena Kiara kehilangan segalanya juga karena bisnis orang tuanya yang bangkrut. Dunia bisnis itu mengerikan.
“Ada pihak yang ingin menguasai perusahaan keluarga Ray! Ayah Ray memiliki perusahaan yang sangat besar. Meski itu adalah suatu prestasi yang membanggakan, tapi bagi orang lain itu adalah sebuah ancaman, membuat iri.”
Kata Ken.
“Kecelakaan itu sudah disetting, direncanakan oleh orang-orang yang sebenarnya justru sangat dekat dengan keluarga kak Ray. Kasus kecelakaan itu juga ditutup begitu saja oleh kepolisian. Aku memang masih usia lima tahun saat itu, tapi aku tahu karena aku masih bisa mengingat jelas bagaimana orang tua kak Ray mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Aku melihat ada mobil lain yang mengekor di belakang mobil ayah kak Ray." Sambung Yuna.
"..."
"Waktu itu, aku, ayah, dan kak Ken sedang dalam perjalanan menjemput kak Ray dan ibunya kak Ray dari Inggris di bandara. Tapi ternyata ayahku dan kakaknya kak Ray sudah lebih dahulu menjemput kak Ray. Jadi mobil kami juga mengekor mobil ayah kak Ray. Ternyata yang mengekor bukan hanya kami saja, ada mobil lain yang tidak kami kenal… Sebuah mobil misterius.” Lanjut Yuna mencoba mengingat-ingat kejadian saat itu.
“Ayah Ray sudah menduga hal itu akan terjadi.. Jauh sebelum kejadian itu terjadi, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ayahnya Ray dan ayahku tentang kecurigaan ayah Ray terhadap rekan bisinisnya sendiri. Aku yakin mereka adalah salah satu dalang dari kecelakaan itu." Kata Ken.
"..."
"Sebelum terjadi kejar-kejaran antara mobil ayah Ray dan mobil misterius itu, ayah Ray menghubungi ayahku untuk menjaga jarak. Ayah Ray masih sempat-sempatnya menghawatirkan keluarga kami. Dia tidak ingin keluarga kami ikut terlibat. Dia meminta ayahku untuk menjaga jarak mobilnya. Ayahku memang menjaga jarak, tapi ayahku tetap mengikuti mobil ayah Ray dari jarak yang cukup jauh sehingga mobil misterius itu tidak menyadari jika ayahku mengikuti mereka.” Jelas Ken panjang lebar.
"..." Kiara masih seksama mendengarkannya.
“Saat itu jalan sangat sepi, mungkin karena sudah malam, apalagi mobil kami berada di kawasan yang bisa di bilang sebagai alas roban karena tidak ada satupun rumah di pinggir jalan.” Kata Yuna.
“Kau tahu apa yang mereka lakukan?” Kata Ken. Kiara menggeleng. “Mereka menghimpit mobil ayah Ray ke pembatas jalan hingga membuat mobil ayah Ray kehilangan kendali.. Mobil ayah Ray sempat terbalik beberapa kali. Mobil misterius itu langsung pergi menghilang begitu saja. Ayahku yang memang mengawasi langsung menghampiri mobil ayah Ray yang sudah rusak parah. Aku dan Yuna melihat dari dalam mobil.”
"..."
“Aku hanya melihat ayah sempat berbicara dengan ayah kak Ray, lalu dengan susah payah ayah mencoba mengeluarkan kak Ray dari dalam mobil yang hampir ringsek itu. Dengan cepat ayah langsung berlari ke mobil sambil menggendong kak Ray yang penuh darah. Mobil itu meledak dengan dahsyatnya.” Kata Yuna.
Yuna menangis ketika mengingatnya. Itu juga menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Ia tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
“Lalu apa yang terjadi dengan orang tua Tuan Ray dan kakaknya?” Tanya Kiara.
“Mereka tewas di tempat!"
Kiara mencolos.