Masa Lalu Ray 2

1015 Kata
"Apa yang terjadi setelah itu?" “Mereka tewas di tempat!" Kiara mencolos. “Mereka tewas di tempat, itu berita yang kami lihat keesokan harinya di TV. Ayahku hanya bisa menyelamatkan Ray, ayahku bilang orang tua Ray terjepit jadi tidak mungkin bisa dikeluarkan dengan cepat sementara ia harus berpacu dengan waktu karena mobil ayah Ray sudah terbakar sebagian.” Jawab Ken. Kiara menutup mulutnya, seakan-akan ia bisa merasakan kejadian memilukan itu. “Ray masih sangat beruntung karena tidak banyak orang yang mengetahui jika Tuan Angga Yudhistira, ayah Ray memiliki anak bungsu, yaitu Ray. Mungkin karena ayah Ray sudah tahu jika suatu saat pasti akan ada orang-orang yang berniat tidak baik padanya, maka dari itu, ayah Ray tidak begitu terbuka soal keluarganya. Jadi semua partner kerjanya hanya tahu jika Tuan Angga hanya memiliki anak tunggal saja. Ray sudah tinggal di Inggris sejak kecil. Di Inggris ia tinggal dengan sahabat ayahnya. Ibunya Ray sering bolak-balik ke Inggris untuk menemui Ray.” “Berarti sama saja jika Tuan Ray tidak begitu mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuannya?” Simpul Kiara. “Ya bisa dibilang seperti itu. Orang tua Ray sangat menyayangi Ray, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan memaksa harus seperti itu.” “Saat itu usia kak Ray masih tujuh tahun, ia sudah kehilangan segalanya. Orang tuanya, kakaknya, bahkan kekayaan ayahnya termasuk perusahaannya. Setelah kasus kecelakaan ditutup, entah bagaimana ceritanya perusahaan ayah kak Ray jatuh ke tangan wakil direktur perusahaan yang katanya ayahku dia adalah sahabat ayah kak Ray. Mungkin saja karena mereka menganggap jika sudah tidak ada lagi penerus dari Tuan Angga. Mereka hanya tahu jika Tuan Angga tewas dalam kecelakaan teragis bersama istri dan anaknya.” “Ah, menyedihkan sekali.” Ucap Kiara spontan. “Memang menyedihkan, apa lagi kak Ray adalah saksi hidup kecelakaan itu. Kak Ray menyaksikan sendiri bagaimana keluarganya tewas." Itu adalah mimpi buruk dari yang terburuk. Kehilangan orang tua adalah mimpi buruk. "Setelah peristiwa itu, kak Ray menjadi seperti mayat hidup. Tidak mau makan, dia hanya berdiam diri, tidak mau berbicara. Dia trauma berat. sampai-sampai teman ayah kak Ray yang ada di Inggris datang menjenguk kak Ray. Beliau bahkan sempat membayar psikiater untuk menyembuhkan trauma berat kak Ray.” “Terganggu jiwanya?” Tanya Kiara. Tuan Mudanya mengalami trauma psikis yang luar biasa. Seorang Ray yang kejam itu? “Hm, bisa disebut seperti itu. Lebih kasar lagi, kau bisa menyimpulkan jika Ray hampir gila. Sangat sulit menyembuhkan luka Ray. Dia depresi. Dia sama sekali lupa bagaimana caranya tersenyum. Dia mati rasa. Seperti mayat hidup. Sedikit berlebihan, zombie mungkin? Aku dan Yuna sudah berusaha menghiburnya, tapi gagal.” Kehilangan orang tua dan sosok kakak karena dibunuh, menjadi saksi kunci di saat usia masih sangat kecil, dan mendapatkan goncangan jiwa. Itu GILA! Tanpa Kiara sadari, air berwarna bening menetes di pipinya yang putih pucat. Ken dan Yuna menyadari itu, tapi mereka hanya membiarkan saja. Biarkan semua berjalan natural seperti air yang mengalir. “Kak Ray terjebak dalam selimut depresi cukup lama, mungkin sekitar dua tahun. Sampai pada paman Yuwan, sahabat ayahnya kak Ray mengubah segalanya.” "Paman Yuwan?" Kira tidak paham. "Iya, salah satu sahabat terbaik mendiang ayah Ray. Paman Yuwan, penguasa London." "Apa yang beliau katakan pada Tuan Ray?" Tanya Kiara. “Beliau bilang pada kak Ray. ‘Jika kau hanya seperti itu, menyesali apa yang terjadi padamu, itu sama saja kau membunuh dirimu sendiri. Jika kau marah, luapkan amarahmu! Jika kau ingin menangis, menangislah sampai kau merasa lebih baik! Jika kau dendam pada orang-orang yang membuatmu seperti ini, bangkitlah dan balas mereka! Buat mereka membayar harga mahal dukamu! Buat mereka kalah! Ambil kembali semua milikmu yang pernah mereka rebut darimu! Buat mereka tidak bisa berkata-kata lagi! Buat mereka menyesal telah membuatmu seperti ini! Bencilah orang-orang yang membunuh keluargamu! Ray, hiduplah dalam kebencian! Dengan kebencian yang besar dalam hidupmu, kau akan semakin kuat. Dan saat kau merasa sangat kuat, datanglah, hampiri mereka! Lepaskan semua kebencianmu, lepaskan itu, balaslah pada mereka sampai kau puas. Sampai semua rasa bencimu musnah!’" "Bertahan karena rasa benci dan dendam yang kuat? Astaga.." Ken dan Yuna mengangguk. Mereka berdua mendengarnya saat itu. "Seperti itu inti kata-kata mengerikan yang pernah aku dengar dalam hidupku. Kata-kata paman Yuwan yang mampu membuat Ray menegakkan kepalanya. Dan untuk yang pertama kalinya aku melihatnya menangis setelah kecelakaan itu. Dia menangis sangat keras. Tangisan yang terdengar penuh dengan luka.” "Kakak menangis sangat lama. Berteriak-teriak frustasi. Suara dia sangat memilukan. Hikss.. aku tak tahan jika mengingatnya. Kakak yang malang." Yuna lagi-lagi menangis. Bagaimanapun ia sangat menyayangi kakaknya, meski bukan kandung. Tapi Ray adalah keluarganya. Keluarga yang selalu bersamanya sejak kecil. . . . KIARA'S POV Aku tak tahu jika Ray memiliki kenangan buruk seperti itu. Bahkan mendapatkan sugesti mengerikan dari paman Yuwan di usianya yang masih belia. Usia segitu harusnya lebih cocok digunakan untuk bermain, bersenang-senang dan membuat kenangan indah di masa kecil. Namun Ray tak bisa melakukannya. Ray justru terjebak dalam belenggu hitam nan kelam. Dirundung pilu akan kehilangan anggota keluarganya. Seluruh anggota keluarganya. Mengalami trauma dan depresi yang panjang. Mengalami mimpi buruk bahkan hingga sampai saat ini. Tuhan.. Aku tahu jika nasibku ini jauh lebih baik dari Ray. Aku tak mengalami trauma berat karena kehilangan orang tua dan keprawananku. Aku bisa bangkit meski banyak hal tak menyenangkan terjadi di dalam hidupku. Namun, aku juga tak bisa memaklumi apa yang sudah Ray lakukan terhadapku. Bagaimanapun itu sangat melukaiku. Aku merasa sangat menjijikkan karena segala perlakuannya. Aku jijik pada diriku sendiri. Aku jijik saat tangannya menyentuh setiap inchi bagian tubuhku. Aku jijik ketika bibirnya mencumbu permukaan kulitku. Aku ini hanyalah korban, kan? Wajar jika aku seperti ini. Wajar, kan? Memang ada yang mau dilecehkan sampai dua kali? Bahkan, akan berlanjut setelahnya. Aku akan terus melakukan hubungan laknat itu dengannya. Aku bahkan tak tahu mau sampai kapan aku harus menuruti permintaannya itu. Seminggu, sebulan, atau bahkan mungkin tahunan. Aku tak tahu mau sampai kapan keinginan gilanya itu. Kembali ke pemikiranku yang sudah-sudah. Sebenarnya, apa sih salahku? Apa aku berbuat salah kepadanya sehingga dia tega melakukan hal keji seperti ini terhadapku? Pemikiran lain kembali mencuat ke permukaan. Apakah memang, ini artinya aku harus bayar karena hidup enak dan nyaman di mansion ini? Hah, mengenaskan sekali nasibku. END OF KIARA'S POV
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN