Milik Ray

1054 Kata
Novel ini kisahnya sangat berat, bukan novel untuk hiburan. Alur juga sangat lambat, banyak masalah, dan susah bahagia. . . . Masih di kamar Kiara... Kiara tahu jika sampai detik ini, ia masih menyalahkan Ray dengan apa yang sudah Ray perbuat terhadapnya. Ia ingin lepas tangan dan masa bodoh dengan masa lalu yang terjadi pada Ray. Toh dirinya juga mengalami hal yang sama. Sama-sama kehilangan kedua orang tuannya. Namun lagi.. Lagi-lagi sisi malaikatnya tak bisa ia khianati. Ia tak bisa menanggalkan sikap bawaanya yang sebenarnya itu sangat merepotkan. Ya, sifat iba dan terlalu baiknya. Kiara adalah tipe wanita yang dikenal sangat baik di lingkungannya. Ia juga sering dikerumuni banyak orang karena kebaikkannya, tentunya juga didukung karena parasnya yang ayu juga. Kiara tidak tegaan. Ia mudah menangis meski hanya melihat pengemis dengan tubuh tak beruntung. Tangisannya bisa ia pikirkan sampai berberapa hari. Ia juga akan menyesal jika ia tak membantu pengemis itu. Sama halnya dengan perasaannya kali ini. Kiara juga tak bisa mengabaikan rasa ibanya pada Ray. Ia memang terlalu baik. Kata-kata paman Yuwan mengganggu Kiara. Ia tak habis pikir dengan pemikiran seperti itu. Bukankah itu sama sekali tidak pantas untuk 'memotivasi' anak kecil demi menggapai cita-citanya? “Sejujurnya aku tidak suka dengan kata-kata dari paman Yuwan, tapi hanya itu yang mampu membuat kak Ray bangkit sampai saat ini. Kak Ray kembali menjalani hidup lagi. Dia juga melanjutkan sekolah, karena kak Ray sangat jenius, dia skip beberapa kelas. SMP dan SMA ia mampu selesaikan dalam waktu empat tahun saja! Awalnya ia adik kelasnya kak Ken karena dia sempat berhenti sekolah, tapi karena usaha kerasnya ia bisa sejajar dengan kak Ken. Kuliahpun juga begitu.” Kata Yuna. Namun, kata-kata itu memiliki nilai magis dan membuat Ray bangkit. Apakah itu suatu pertanda yang baik? “Dia benar-benar berusaha keras. Hidupnya yang berat membuatnya semakin kuat.” Kata Kiara. “Paman Yuwan menyuruh Ray menghandle sebuah perusahaan yang ternyata perusahaan itu adalah perusahaan lain yang ayahnya Ray persiapkan untuknya kelak. Perusahaan yang ayah Ray titipkan pada paman Yuwan. Orang-orang yang merebut perusahaan ayah Ray tidak ada yang tahu. Perusahaan itu pusatnya ada di Inggris, dan yang sekarang ada di Indonesia hanyalah cabangnya. Meski hanya cabangnya, tapi cabang perusahaan yang dipegang Ray ini sejajar dengan bekas perusahaan ayah Ray dulu.” Kata Ken. "..." Kiara termenung. Ray memiliki hidup yang sangat rumit. Kaya tak menjamin kebahagiaan. Miskinpun tak selamanya menderita. Hidup memang penuh warna, meski terkadang banyak kejamnya. “Kak Ray sudah menjadi CEO sejak dia duduk di bangku menengah atas. Usaha kerasnya mampu membuat perusahaannya semakin besar.” “Hm, jika aku boleh menebak, apa Tuan Ray sedang mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam?” Tanya Kiara hati-hati. Ken hanya tersenyum penuh arti. Kiara mengerti arah pembicaraannya. Artinya Kiara memiliki sisi kepedulian pada Ray meski Ray sudah menyakitinya dengan keji. “Aku tidak setuju.” Kata Yuna. Yuna menyukai ketenangan dan kedamaian. Ia membenci pertumpahan darah. “Aku menolaknya. Tapi itu ambisi terbesar Ray. Kebenciannya itu adalah alasannya bertahan hidup.” Ken berada di posisi yang sama. “Kiara-chan, aku mohon padamu, tolong raih tangan kak Ray! Keluarkan dia dari jurang kegelapan itu!” Pinta Yuna. Ia merasa jika Kiara adalah sosok yang cocok. “Kenapa harus aku?” Tanya Kiara tidak mengerti. “Ini pertama kalinya kak Ray mau berbicara pada seorang wanita. Tentunya setelah wanita itu.” Yuna memelankan suaranya. Ia tidak mau mengingat-ingat tentang wanita itu. Siapa wanita itu? “Wanita itu?” Tanya Kiara memastikan. “Ah.. aha.. Bu..bukan..” Kata Yuna sambil menggerakan tangannya. Ken langsung mengerti maksud Yuna. “Intinya, Ray sudah mulai berubah semenjak kehadiranmu di mansion ini.” “Berubah semakin menggila. Apakah aku salah satu korban dari kegilaannya itu? Rasanya aku memang menjadi korbannya.” Pertanyaan Kiara yang membuat tenggorakan Ken dan Kiara terasa tercekik. “Ke..kenapa kalian menatapku seperti itu?” Tanya Kiara bingung. “Tid.. tidak apa-apa Kiara. Tenang saja, kau itu seseorang yang penting bagi Ray. Buktinya Ray bisa mendekatimu sampai sejauh itu.” Goda Ken yang membuat Kiara reflek menghantamkan bantal yang ada di sebelahnya. “Jadi, apa kau akan terus membiarkan amarahmu pada kak Ray semakin besar?” Tanya Yuna. “Aku ini hanya manusia biasa bukan pemilik hati yang besar. Apalagi mudah memaafkan kesalahan yang menyakitkan. Aku juga memiliki sisi egoisme yang tinggi. Siapa saja yang mengalami kejadian seperti yang kualami pasti akan marah, bahkan sangat marah. Kecewa, kesal, ingin sekali aku menamparnya dan berteriak jika aku benar-benar membencinya. Aku juga ingin bertanya kenapa dia tega melakukannya padaku? Apa salahku? Kenapa harus aku? Tapi, ada sisi lain di sini!” Kiara mengentikan bicaranya dan memegang dadanya. "Aku tidak setega itu. Apa aku ini bodoh?” Ken dan Yuna langsung mengembangkan senyum di bibir mereka. “Tidak Kiara. Kau memang benar seorang manusia biasa, tapi kurasa kau memiliki hati malaikat.” Puji Yuna. “Kau tidak perlu memaksakan hatimu untuk memaafkan Ray. Kau hanya perlu belajar menerimanya, bersabar, dan membuka pintu maafmu untuknya!” Sungguh, ini egois memang. “Semua akan mudah jika dia mau memulainya duluan. Apa harus aku juga? Diakan yang pertama memulainya. Aku ini hanya korban!” Kiara memanyunkan bibirnya. “Astaga, jika kak Ray bisa melihatmu yang sangat lucu ini pasti dia akan semakin menggila.” “Berhenti menggodaku!” “Sayangnya kau kurang beruntung Kiara. Ray itu orang yang sangat naïf. Dia itu sangat menjaga harga dirinya. Dia lebih egois daripada dirimu. Dia lebih dingin dari kokohnya es abadi di Antartika. Kata maaf itu adalah salah satu kata sakral yang sangat jarang bisa keluar dari mulutnya.” “Rupanya aku salah menebak karakternya. Ku kira dia orang yang sangat mudah memaafkan. Dari wajahnya yang manis meski tidak berekpresi tapi sebenarnya kalau dilihat lebih lama dia tampan juga, terlihat polos, cute. Sayang sekali ternyata semua itu hanya tameng untuk menutupi sifat iblisnya.” Kata-kata Kiara sontak membuat Ken dan Yuna menahan tawanya. Kiara kembali tidak sadar jika dia sudah mengakui Ray itu tampan. Kiara hanya memperlihatkan ekspresi polosnya. Dia juga tidak mengerti kenapa Ken dan Yuna justru tertawa saat mendengar penuturannya. “Aku memiliki saran untukmu Kiara.” Kata Ken. “Apa itu?” “Aku harap kau tidak usah melangkahkan kakimu melewati pintu gerbang mansion ini. Ray tidak suka.” Jawab Ken singkat. “Ah, ternyata dia berusaha mengancammu Kiara-chan.” Simpul Yuna. “Dia sudah mengatakan hal itu padaku tadi. Aku tidak boleh keluar dari mansion ini untuk alasan apapun. Jika aku butuh apa-apa, aku hanya harus bilang kepadanya. Mulai sekarang, aku harus menjalani kehidupan baru. Sangkar burung.” “Maksudmu?” “Hidupku adalah milik Ray!" Milik Ray? Sangkar burung? Dipenjara? "Itu membuatku GILA!” Teriak Kiara frustasi. “…” “APA?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN