Malam menjelang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.35, hampir tengah malam. Seorang laki-laki dengan tinggi 180 cm, memiliki kaki jenjang, badan yang berotot meski agak kurus, hidung mancung, dan jidat yang bagus sedang meneteng sebuah tas ransel dan berdiri santai di depan sebuah gerbang.
Kaca mata hitamnya menutupi matanya yang indah. Laki-laki itu memakai jaket berwarna hitam dengan baju kemeja kotak-kotak sebagai dalamannya. Ia juga memakai celana jeans senada dengan warna jaketnya.
Nada-nada lagu keluar dari mulutnya. Ia bernyanyi pelan.
Laki-laki pemilik nama asli Teha Yuwan lalu membuka tas ranselnya yang ia bawa itu dan mengambil sebuah benda seperti smartphone. Ia berjalan ke tembok sisi gerbang. Ia mengamati sebuah alat berwana hitam yang menempel di dinding itu.
Dengan sedikit tenaga ia membuka tutup dari alat berwarna hitam itu. Kemudian Teha menancapkan sebuah kabel, sejenis kabel data ke dalam smartphonenya. Setelah itu menghubungkannya ke dalam sebuah alat yang terpasang di tembok sisi gerbang. Alat itu semacam alat alarm keamanan.
Dengan sangat santai, bahkan ia masih sempat-sempatnya beberapa kali bersiul pelan saat ia mulai mengetik beberapa kode dari dalam smartphonenya. Dengan tampang yang biasa saja, ia lalu menekan OK kode yang sudah ia ketik. Sesuai dengan yang ia duga, gerbang di sampingnya itu terbuka dengan sendirinya.
Teha tersenyum senang.
“Cih, lemah sekali sistemnya. Aku jadi penasaran, apakah ada harta karun di rumah besar ini?” Kata Teha pelan.
Hanya dengan sebuah smartphone di tangannya, Teha sudah mampu membobol system keamanan rumah. Bahkan lebih hebat lagi, ia juga bisa menjadikan smartphonenya berfungsi layaknya CCTV. Smartphonenya bahkan bisa menunjukkan denah rumah yang baru ia masuki itu dengan sangat jelas.
“Ah, ternyata seperti ini. Lumayan juga.” Lanjutnya saat ia mulai memasuki ruang tamu rumah besar itu.
Teha kembali menatap smartphone miliknya.
“Sistem penerangannya ada di sebelah sini. Ok, sekarang menyalah!”
Dan semua lampu yang ia inginkan menyala dengan sendirinya.
Teha sudah menguasai system penerangan. Ia lalu berjalan ke lantai dua untuk mencoba menyalahkan lampu di lantai dua. Ia berhenti di depan pintu sebuah kamar.
“Lampunya masih menyalah. Bocah ini belum berubah juga rupanya.”
“Si..si..siapa di sana?” Tanya Kiara takut-takut. Kiara baru saja dari dapur untuk mengambil segelas air minum.
Meski gelap, tapi Kiara masih bisa melihat samar-samar karena kamar Ray masih menyalah. Jadi ada sedikit cahaya yang menerangi depan kamar lewat ventilasi dari atas pintu kamar Ray.
Merasa cukup kaget, Teha langsung mendekati Kiara. Kiara memundurkan langkahnya. Rasa takut menyelimuti Kiara. Bagaimana ia tidak takut, sosok laki-laki yang tengah mendekatinya adalah sosok laki-laki yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Laki-laki asing yang tidak ia kenal. Ia menyiramkan air putih yang ia bawa ke muka Teha. Ia hanya berusaha menjaga diri. Teha terlihat sangat kesal karena baru saja mendapatkan ‘hadiah’ tidak terduga dari cewek di depannya itu.
Itu pertama kali dalam hidupnya.
Dengan tampang kesalnya, Teha semakin mendekati Kiara hingga membuat Kiara terpojok di dinding. Karena merasa semakin takut, Kiara lalu berteriak cukup kencang.
Teriakkannya terdengar telinga Ray yang tengah tiduran di kamar dimana Kiara dan Teha berdiri di luar kamarnya. Ray memang belum tidur karena menunggu Kiara yang sedang mengambil minuman. Bukan apa-apa, bagaimanapun ia masih mengurung Kiara.
Dengan cepat Ray keluar dari kamarnya dan mendapati Kiara sedang terpojok di dinding oleh seorang laki-laki. Ray lalu menarik kasar pundak laki-laki itu dan menjauhkannya dari Kiara. Ray bahkan tanpa pikir panjang melayangkan sebuah pukulan keras ke muka laki-laki itu.
Kiara yang ketakutan lalu memeluk tubuh Ray mencari ketenangan.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Ray. Kiara hanya mengangguk.
Ray lalu meraih tangan Kiara dan mengisyaratkan Kiara untuk berada di belakangnya.
Teha mengusap bagian muka yang baru saja mendapatkan pukulan dari Ray. Benar-benar terasa sangat sakit. Ia lalu menoleh ke arah Ray. Ray langsung memelototkan matanya melihat sosok lelaki yang tak asing di matanya. Ia sangat kaget. Ray dengan cepat menyalahkan lampu dengan menekan sebuah saklar yang ada di dekatnya.
“KAU? Apa yang kau lakukan di rumahku malam-malam begini, HAH?” Tanya Ray.
“Harusnya aku yang bertanya, KENAPA MEMUKULKU TIBA-TIBA?? Auuhh, sakit sekali.” Kata Teha yang masih saja memegangi wajah kena pukulnya.
“Kau itu salah. Jam seperti ini itu bukan waktunya untuk bertamu. Wajar saja jika aku memukulmu. Aku hanya menyangkamu sebagai penjahat.”
“Terima kasih atas jamuan selamat datangnya.”
“Sama-sama.”
“Aiihh, sialan kau.”
Mereka berdua seperti Tom and Jerry versi kehidupan nyata. Adu mulut dan bahkan adu pukul sudah biasa mereka lakukan. Cara seperti itulah yang mereka sebut sebagai penyaluran kasih sayang persahabatan mereka. Ikatan persahabatan yang aneh.
Keributan di depan kamar Ray membuat seisi mansion terbangun. Mereka semua langsung menuju tempat sumber keributan. Sudah bukan pemandangan langka jika Ray dan Teha akan bertengkar jika mereka bertemu. Mereka berdua memang akan selalu begitu.
Lihatlah, Ken bahkan membawa tongkat baseball! Ia mengira jika mansion milik Ray ini kedatangan tamu yang tak diundang alias maling. Yang lucu, Yuna membawa sepatu jinjitnya yang memiliki heels 18 cm itu. Bagi Yuna, rasanya itu akan mantap jika ia bisa memukul wajah sang maling menggunakan sepatu jinjitnya.
Lebih heboh lagi, paman Willy membawa senapan laras panjang! Kurang menyeramkan apa lagi coba? Meski alarm anti maling gagal, para 'maling' ini belum tentu bisa lolos dari 'garangnya' para penghuninya.
Teha bahkan langsung ketakutan.
"Kalian mau membunuhku ya?" Tanya Teha. Ia membuat gerakan pertahanan diri.
Baru saja kena bogem mentah dari Ray, kini nyawanya kembali terancam oleh penghuni mansion sahabatnya itu.
"Teha?"
"Kak Teha?"
"Nak Teha?"
"Iya, aku Teha! Apa-apaan kalian ini, hah? Benda mengerikan apa yang coba kalian hunuskan kepadaku? Paman Willy, singkirkan senapan itu!" Kata Teha.
Paman Willy menurunkan senapan laras panjangnya. Ia tak lagi menodongkannya pada Teha.
"Cih, hanya Teha. Ku kira aku akan bisa membuat home run malam ini." Kata Ken menyingkirkan tongkat basballnya.
"Kau pikir kepalaku ini adalah bola kasti apa?" Kesal Teha.
"Lagian bertamu malam-malam seperti ini." Kata Yuna. "Kau membuat seisi rumah heboh!" Lanjutnya.
"Ya kan aku kira aku akan masuk dengan kerennya. Malah dapat sambutan sangat sangat 'kerennya'!" Kesal Teha.
Ray dan Kiara tak menanggapi kehebohan Teha dan keluarga William. Kiara masih ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi. Ia juga masih bingung dibuatnya. Ia hanya bisa mencari kenyaman di sisi Ray.
Ray cukup pengertian, ia tak melepaskan tangannya dari pinggang Kiara. Ia tak masalah Kiara yang menyembunyikan diri di tubuhnya yang tinggi itu.
“Kiara, kembalilah ke kamarmu!” Pinta Ray. Kiara hanya menurut saja apa yang Ray katakana padanya. Kiara masuk ke dalam kamarnya. “Aku butuh penjelasan tentang kerusuhan ini!”