"Ya Tuhan, ini seks ternikmat dalam hidupku. Eh ralat, bercinta paling enak bersama istriku, bersama Dasta." gumamku menggeram seraya tersenyum mengamati wajah lelah Dasta. Setelah tubuhku kembali normal dari badai yang mengantarkan kenikmatan, aku pun bergegas melepas penyatuan kami dan menegakkan tubuhku. Aku mengangkat tubuh Dasta ke dalam gendonganku, membawa tubuh lelahnya kembali masuk ke dalam ranjang. Setelah selesai aku menyelimuti tubuh telanjangnya dengan selimut aku pun bergegas keluar, aku teringat dengan kekacauan yang tadi kami berdua buat, jadi untuk itu aku ingin membersihkannya. Tanpa memperdulikan ketelanjanganku, aku pun langsung saja keluar dan seketika terkejut saat melihat sosok papaku yang berdiri di depan pintu yang tertutup dengan ekspresi luar biasa terkejut.

