"Aku akan berhenti menangis, kalau memang aku rasa tak ada lagi yang perlu ditangisi." Senyuman Chica membuat Delta semakin gemas. Wajah cantik Chica yang ia katakan seperti Boneka Barbie membuat pikirannya terkontaminasi.
Ia menatap Chica begitu lekat, hingga tak sadar ia mendekati wajah wanita itu. Kemudian, bibirnya menempel ke bibir Chica. Terasa hangat dan kenyal. Cukup lama mereka ada di posisi itu, kemudian dengan keberaniannya, Delta membuka mulut, melumat bibir Chica perlahan. Chica memejamkan matanya saat merasakan lembutnya lumatan Delta. Chica melenguh, ciuman ini membuat seluruh tubuhnya seperti dialiri listrik. Ciuman mereka semakin dalam, lidah mereka saling bertautan. Kini kedua tangan Chica pun melingkar di leher Delta.
Naluri kelaki-lakian Delta muncul. Satu tangannya menelusup, mengusap paha Chica hingga gadis itu melebarkan pahanya.
"Engg..., Pak," desah Chica.
Delta melepaskan ciumannya karena sudah hampir kehabisan napas. Ia langsung memeluk Chica dengan erat menormalkan kondisinya yang sudah dipenuhi nafsu. Hampir saja ia melakukan hal yang lebih jauh. Tapi, ia sungguh tidak bisa melupakan bagaimana rasanya.
"Chica." Delta menangkup wajah Chica dengan kedua matanya.
"I...Iya, Pak?" tanya Chica dengan bibir yang basah akibat ciuman mereka tadi. Membuatnya semakin terlihat seksi.
"Kita harus menikah secepatnya!" Kata Delta dengan tegas. Seakan tidak ingin ditolak ataupun diberikan alasan lain agar menunda pernikahan mereka.
"Tapi, Pak?" Baru saja Chica hendak protes, Delta sudah langsung melumat bibir Chica.
"Pak," kata Chica akhirnya setelah mereka berciuman cukup lama.
"Kita pergi dulu dari sini." Delta baru sadar bahwa mereka masih di parkiran minimarket itu.
Lantas ia pun melajukan kendaraannya ke tempat yang cocok. Tak jauh dari sana ada sebuah taman kota. Mereka turun dan duduk di salah satu bangku.
"Pak, sebaiknya jangan terlalu begini. Bapak belum tau bagaimana saya. Juga kehidupan saya di masa lampau." Chica tertunduk sedih. Ia sendiri bingung harus menceritakannya dari mana.
"Tapi, aku jatuh cinta sama kamu, Ca. Sejak pandangan pertama. Masa lalu kamu sama Dewa?" Kata Delta langsung pada pokok permasalahan.
Chica mengangkat wajahnya dengan kaget."Bapak tahu darimana?"
Mama sama Papa kamu sudah menceritakan semuanya. Lagi pula, Aku memang sudah kenal lama sama Papa kamu. Aku sudah mendengar cerita tentang kamu dan Dewa, Ca. Bahkan aku tahu...mungkin saat ini di hati kamu masih ada namanya. Andai diizinkan, aku ingin menyembuhkan luka di hatimu, Ca. Aku ingin menjadi lelaki yang terhebat di dalam hidupmu setelah Papa."Delta menatap Chica dengan serius.
"Apa ini...Enggak terlalu cepat? Bagaimana kalau saya tidak bisa mencintai Bapak?" tanya Chica dengan berurai air mata.
Delta menggeleng."Tidak ada kata terlalu cepat atau terlalu lambat dalam cinta. Semua sudah pada porsinya masing-masing."
Mata Chica menerawang. Ia bertanya dengan dirinya sendiri. Apakah sebenarnya ia masih berharap bahwa Dewa akan datang menemuinya, serta masih menganggapnya sebagai kekasih. Kalau pun Iya, apakah mereka akan tetap dapat pertentangan atau justru sebaliknya. Hati Chica terasa perih, kemana pria itu pergi. Kenapa tidak berusaha mencarinya.
Delta meraih tangan Chica."Kalau kamu tidak siap dengan semua ini, tidak apa-apa, Ca. Aku akan memberi waktu untuk berpikir. Tapi, jangan terlalu lama, ya.”
Chica menatap mata Delta, ia bisa melihat ketulusan di sana. Tapi, ia harus bagaimana. Ia tahu, masih mencintai Dewa adalah sama dengan membunuh diri sendiri pelan-pelan."Beri saya waktu, Pak. Jujur saja, semua ini terkesan begitu cepat dan membuat saya syok.”
Delta mengangguk."Iya, Ca. Tidak apa-apa. Gimana nyamannya kamu aja."
"Pak...kenapa Bapak suka sama saya? Bapak tau, kan saya sudah tidak virgin lagi," Isak Chica.
"Enggak tau kenapa, Ca. Pertama kali lihat kamu, aku langsung tertarik dan ingin menikahi kamu. Aku serius, Ca, aku sudah bicara sama Papa kamu kalau aku ingin melamar kamu. Sekarang tinggal kakinya aja gimana. Masalah Virgin...itu tidak berpengaruh ke cintanya aku ke kamu. Itu hanyalah pilihan. Karena cinta bukan terpacu kepada masih virgin atau tidaknya pasangan kita." Delta mengusap pipi Chica, ia tahu wanita itu sedang mengalami krisis percaya diri.
Senyum Chica mengembang, ia berdiri dan lantas menarik tangan Delta. Menggenggamnya lembut."Terima kasih, Pak. Kita pergi yuk. Saya lapar.”
Delta menatap genggaman tangan Chica tak percaya. Seakan mendapatkan angin segar, Delta pun menuruti saja apa keinginan Chica.
"Kita langsung pulang, kan? Sudah malam," kata Delta saat mereka sudah selesai makan. Sekarang mereka ada di dalam mobil bersiap untuk pulang.
"Iya, Pak," kata Chica.
Ponsel Delta berbunyi. Kemudian ia tampak bicara di telpon beberapa saat. Chica memperhatikan gerak-gerik dan mimik wajah pria di sebelahnya itu. Kini ia menyadari bahwa Delta memiliki wajah yang tampan. Delta yang menyadari tatapan Chica, mulai salah tingkah. Ia mengakhiri teleponnya.
"Kenapa, Ca?"
Chica menggeleng, sambil tersenyum penuh arti. Delta menjadi penasaran, tingkah Chica itu membuatnya gemas.
"Ya sudah, kita jalan ya."
"Pak!" Panggil Chica.
Delta yang baru saja akan menstarter mobilnya menoleh. Ia tersentak kaget saat mendapat ciuman di bibir dari Chica. Tapi, beberapa detik kemudian, ia langsung membalas ciuman itu. Mereka saling melumat, lidah mereka bertautan dan menari-nari satu sama lain.
Bahkan, sekarang tangan Delta sudah berani mengusap punggung dan menelusup ke dalam pakaian Chica. Miliknya menegang seketika saat menyentuh kulit lembut itu secara langsung. Kini mereka saling memagut, tubuh mereka semakin rapat, dan berpelukan erat.
"Ca," bisik Delta di telinga Chica. Terdengar begitu seksi.
"Ya?"
"Kamu harus menikah denganku. Secepatnya." Delta melepaskan pelukannya, merapikan pakaian Chica kemudian melajukan kendaraannya ke arah rumah Chica.
Chica terdiam, menunduk malu. Ia merutuk dalam hati tentang apa yang sudah ia lakukan barusan. Ia tak bisa menolak keinginan hatinya untuk tidak berciuman dengan Delta. Sejak merasakan bibir pria itu, dirinya merasa menemukan sesuatu yang hilang, seakan menemukan tempatnya untuk pulang. Ia menjadi kecanduan dengan bibir seksi itu.
Usai ciuman-ciuman ganas mereka di dalam mobil, keduanya hanya bisa berpelukan. Tanpa suara, tanpa musik, semuanya begitu senyap. Sesekali terdengar desahan serta napas mereka yang tak teratur. Keduanya sama-sama terlihat malu.
Setelah itu, Delta pun mengantarkan Chica pulang ke rumah. Sebab, ia sudah benar-benar tak tau harus bagaimana. Jika dilanjutkan, bisa bahaya. Apalagi miliknya sudah begitu mengeras. Ia takut akan berbuat lebih jauh. Walaupun Chica menyambut ciumannya, tapi tetap saja ia tetap tidak mau meneruskan itu. Ia tak ingin semakin menoreh luka di hati wanita yang ia cintai itu.
Delta mengantar Chica pulang, berpamitan kepada Vanessa dan Yudis, lalu kembali ke rumah. Sepanjang jalan ia bisa merasakan detak jantungnya lebih kencang dari biasanya. Masih teringat dengan jelas kejadian-kejadian beberapa menit yang lalu. Ia hanya bisa senyum-senyum sendiri.