Bab 13

1038 Kata
 "Jadi, apa kegiatan Bapak sekarang?" Tanya Delta. Yudis tersenyum kecut."Ya begini, lah...saya sekarang ngojek aja." "Loh kenapa ngojek? Perusahaan Bapak kenapa? Bukannya masih berdiri?" Delta menatap Yudis tak percaya. "Saya jual semua aset saya, Pak. Termasuk kepemilikan saham di kantor. Untuk biaya perobatan anak saya yang koma selama enam bulan. Dia kecelakaan. Tapi, sekarang syukurlah...dia sudah sadar," kata Yudis. "Iya, Tante juga sudah cerita tadi. Tapi, kan, Pak. Bapak bisa kerja di kantor lagi walaupun semua sudah dijual. Karena Bapak punya pengalaman kerja yang bagus." Yudis menggeleng."Kalau saya kerja lagi di kantoran, isteri saya enggak ada temennya. Apalagi harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit, liatin perkembangan anak. Saya harus standby terus. Makanya ngojek aja deh." "Kasihan Chica, jadi dia koma selama enam bulan. Setelah sadar dia langsung kerja, bener begitu, Pak? Tante sudah cerita tadi." Delta menatap Yudis dengan serius. "Iya, Pak Delta. Dia merasa bersalah karena kondisi kami sudah tak seperti dulu. Padahal, kami tidak apa-apa. Yang penting dia bangun kembali. Dia memaksa untuk bekerja, kami tau kondisinya belum sehat betul. Masih butuh penyesuaian setelah tidur panjangnya. Tapi, ini demi kebaikannya juga ... Agar dia enggak ingat sama masa lalunya." Yudis tertunduk sedih. "Masa lalu?" Hati Delta terasa tertusuk sesuatu yang tajam. Yudis terdiam, matanya terlihat berkaca-kaca. Vanessa datang membawa minuman untuk suaminya."Sebaiknya diceritakan saja masa lalu Chica, Pa. Karena ...Delta ke sini punya tujuan yang lain." "Tujuan yang lain? Maksudnya?" Yudis memandang Delta dengan penuh tanya. Delta berdehem sebentar."Iya, Pak. Saya suka sama Chica sejak pertama kali bertemu. Kalau memang Chica masih sendiri, saya ingin melamarnya.” Yudis menganga tak percaya. Ia memandang isterinya. Vanessa mengusap lengan suaminya itu, meyakinkan bahwa ia tak salah dengar."Kamu serius? Tapi...Chica....?" "Makanya itu, Kita cerita saja masalah yang sebenarnya. Setelah itu terserah Delta dan Chica mau bagaimana." Vanessa tersenyum meyakinkan Yudis. Yudis menghela napas panjang."Baiklah, kamu dengarkan cerita kami. Awal mulanya kenapa Chica kecelakaan, kalau memang kamu berniat melamarnya... mungkin masalah ini bisa berkaitan untuk kalian berdua ke depannya. Delta mendengarkan cerita Yudis dan Vanessa dengan saksama. Ada rasa kaget, sedih, sakit, iba, serta cinta yang justru semakin besar. ** Chica mengerjapkan matanya berkali-kali. Perutnya berbunyi karena lapar. Ia melirik jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Ia tertidur cukup lama. Lantas ia keluar kamar untuk minum. Ia tersentak kaget, melihat Delta masih ada di sana sedang bicara dengan Papanya. "Loh, Pak Delta masih di sini?" Delta tersenyum."Iya. Nungguin kamu bangun. Gimana keadaan kamu? Udah enakan?" Chica menatap Papanya dengan bingung."Ehm...Iya, Pak. Sudah enakan. Terima kasih, Pak." "Kamu ada acara sore ini, enggak? Kita keluar yuk? Jalan-jalan dekat sini aja. Aku udah izin sama Papa dan Mama kamu," kata Delta lagi. Chica semakin kebingungan dengan kelakuan Delta. Ia menatap Mama dan Papanya bergantian. Vanessa mengangguk dan memberikan senyuman terbaiknya."Chica, kamu mandi sana. Delta nunggu di sini, ya." "Serius, Ma?" "Iya. Orangnya udah di sini, masa dianggap becanda." Yudis terkekeh. "Sa...saya mandi dulu, Pak." Chica tersenyum kikuk. Kemudian ia pergi ke belakang. "Om sama Tante tenang aja. Saya akan jaga Chica. Saya ajak jalan Chica agar pikirannya tidak berpacu pada masa lalunya." Delta mengubah panggilan kepada kedua orangtua Chica, karena ia sudah mendapat restu untuk dekat dengan Chica.  Yudis pun senang, karena mungkin ini adalah salah satu cara agar Chica tak lagi mengingat Dewa. Ucapan-ucapan dari keluarga Dewa hanya akan membuat Chica semakin terluka. Semua ini ia lakukan untuk kebahagiaan anak satu-satunya itu. "Kami titip Chica, ya, Delta." Vanessa menaruh harap pada pria 35 tahun itu. Sekitar setengah jam kemudian, Chica sudah selesai. Mereka pun berpamitan. Di teras rumah, Vanessa dan Yudis menatap kepergian anaknya dengan haru. Mereka ingin Chica bangkit. Mereka tau di hati Chica masih ada nama Dewa. Setiap malam anaknya itu menangis, hanya saja ia tak pernah bicara. Tapi, yang namanya orangtua dari mata saja mereka tau, Chica tengah terluka. Di jalan, Chica tak bicara banyak. Ia tampak menikmati pemandangan di luar. Seminggu ini ia hanya pergi ke kantor menghadapi rutinitas padat dan melelahkan. "Aku nyalain musik. Boleh, kan?" Tanya Delta sambil mengurangi kecepatan Mobilnya. Tangan kirinya menyalakan musik di mobil. "Iya, Pak. Silahkan. Kita mau kemana, Pak?" "Sementara keliling aja dulu, nanti kalau ketemu tempat yang bagus, kita mampir. Atau kamu ada pengen makan sesuatu?" Tanya Delta. "Saya pikirin dulu, ya, Pak. Tapi, saya enggak bawa duit. Bapak traktir, ya." Chica terkekeh. "Kamu ini lucu banget, sih, Ca. Iya,lah. Kan aku ajak kamu," kata Delta sembari terkekeh. Kemudian musik mengalun.   Biarkan aku Jadi yang terhebat Jadilah kamu Kekasih yang kuat   Potongan lirik lagu dari Anji-Kekasih terhebat, membuat Chica langsung terdiam. Membuang pandangannya, air matanya mengalir. Delta tahu bahwa Chica sedang menangis. Tapi, ia tak ingin bertanya atau berpura-pura mendiamkannya. Chica memang harus menangis untuk meluapkan emosinya. Setiap orang memang harus melewati masa-masa tersulit di dalam hidup. Saat ini, Chica sedang berada di posisi itu. Saat ini ia tak tau kemana akan pergi, Ia terus berputar sampai Chica berhenti menangis. Delta menghentikan mobilnya di sebuah minimarket. Ia turun tanpa mengatakan apapun. Beberapa menit kemudian ia selesai membawa sebuah bungkusan. Ia mengeluarkan sebuah es krim Magnum. Membuka bungkusnya dan menyodorkannya pada Chica. Dengan mata yang sembab, Chica menoleh. Es krim yang menggiurkan. Ia meraih es krim tersebut, kemudian melahapnya. Perasaannya mulai membaik."Terima kasih,Pak," katanya setelah es krimnya habis. Delta tersenyum."Enggak apa-apa. Aku bisa beliin berapapun yang kamu mau. Asalkan kamu tidak sedih lagi." Chica menunduk malu. Ia tak bisa membendung air matanya saat mendengar lagu itu. Terasa lekat di hati dan sangat berkaitan dengan dirinya."Maaf, Pak. Saya enggak bermaksud menangis di depan Bapak. Lagunya sedih." "Enggak apa-apa. Menangislah kalau memang kamu ingin menangis. Setelah ini, perasaan kamu akan jauh lebih baik." Delta mengusap puncak kepala Chica. "Iya, Pak. Dari tadi Bapak muter-muter terus. Sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Chica terkekeh. "Habisnya kamu nangis terus, sih. Aku kan jadi bingung. Tapi, ternyata sekarang udah ketawa lagi. Kamu cantik, Chica. Jangan nodai kecantikan kamu dengan tangisan yang tidak berguna." Delta terkejut sendiri dengan kata-katanya barusan. Ia tidak tau sejak kapan menjadi bijak. Mungkin inilah yang dinamakan 'the power of love'. Sekarang ia jadi mengerti, kenapa kedua kakaknya melakukan cara-cara aneh untuk mendapatkan isteri mereka dulu. Ternyata, cinta itu memang aneh. Sekarang saja, ingin sekali rasanya Delta langsung menikahi Chica. Rasa cintanya semakin besar padahal ia baru bicara pada Chica hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN