Hari Itu... part 1

964 Kata
********** Hari Itu... Part 1 ********* Tak terasa waktu berlalu. Beberapa obrolan - obrolan ringan terontar dari percakapan kami. Beberapa candaan dan sindiran mewarnai percakapan kami. Tak lama kemudian tiba - tiba Rani berdiri dari duduknya. "Maaf aku pamit dulu ya." kata Rani dengan tergesa - gesa. "Hati - hati dijalan ya Rani." sahut Rei. Seketika itu Rani bergegas pulang meninggalkan kami. Tinggalah aku dan Rei yang masih tinggal di tempat. "Hei Ryo, gimana si Rani menurutmu?" "Ehm.... dia cantik dan manis Rei." "Astaga Ryo.... bukan soal wajah yang aku tanyakan, tapi sikapnya dan apakah kamu bisa dekat dengan dia?" "Entalah Rei aku tidak yakin apakah aku bisa lebih dekat dengan dia." "Kamu tidak percadiri kan? apakah dia terlalu cantik untukmu?" "iya Rei mungkin itu juga salah satu alasan keraguanku, Oh ya Rei kenapa kamu tiba - tiba menanyakan hal ini?" "Aku kenal Rani sejak SMA Ryo." "Terus apa hubunganya dengan kamu menyuruhku untuk dekat dengan dia coba?" "Karena menurutku akhir - akhir ini dia berbeda, Rani yang aku kenal dulu sudah berubah." "Berubah gimana nih maksud mu?" "Karena kesibukanya sekarang dia terlihat kesepian. dan aku melihat kamu ada rasa ke dia." seketika itu aku terkejut mendengar perkataan Rei. Gadis secantik Rani merasa kesepian? memang benar ada sebuah perasaan yang muncul disaat aku melihat Rani, tapi apakah aku sanggup untuk mendekatinya? apakah aku pantas jika aku yang mendekatinya? "Ehh... maksud mu rasa bagaimana Rei?" "Astaga Ryo coba kamu tanyakan sendiri kepada hati kecilmu apa yang kamu rasakan." "Soal itu memang benar Rei, mungkin aku suka dengan Rani. Tapi aku tidak yakin apakah aku pantas dan cocok untuk dia." "Soal itu mah urusan belakang Ryo. Jika kamu percaya dan yakin semua itu pasti akan terjawab suatu saat nanti." "Oh ya Rei kenapa tidak kamu saja yang mendekati dia?" entah kenapa tiba - tiba perkataan itu terlontar dari mulutku. Mungkin karena wajah Ryo yang tampan dan juga anak yang mudah bergaul jadi aku rasa Ryo lebih pantas jika berada di samping Rani. "Hahahaha, dulu aku sempat pernah menyatakan perasaanku ke Rani tapi dia menolak ku. Dia lebih melilihku untuk menjadi sahabatnya daripada kekasihnya." "Rei...., jika orang setampan kamu di tolak olehnya terus gimana aku yang seperti ini coba?" "Selalu saja...." gumam Rei. "Sesekali coba hilangkanlah Pesimismu itu Ryo. Mau sampai kapan coba kamu hidup seperti ini?" "Entahlah Rei aku merasa lebih nyaman jika seperti ini." Sejenak terlintas di pikiranku. Memang benar apa yang dikatakan Rei. Apakah aku merasa senang dengan kehidupanku ini? apakah aku nyaman dengan kehidupaku ini? entahlah, semua yang aku rasakan selama ini adalah keinginanku sendiri? "Sebenarnya aku juga merasa khawatir tentang dirimu." jawab Rei dengan menghela nafas panjang. Tiba - tiba raut wajah Rei yang ceria seketika menjadi cemas. "Oh ya Ryo gimana kabar keluargamu?" "Kenapa kamu tiba - tiba bertanya soal itu Rei? kenapa persoalan ini lagi yang menjadi topik obrolan kita sekarang." aku paling malas jika Rei menanyakan masalah ini lagi. Kesal, sedih dan kecewa perasaan itu yang selalu datang disaat aku mengingat mereka. "Paman Antoni sehat - sehat saja, paman sedang dinas keluar kota." "Syukurlah kalo begitu. Oh ya besok kita langsung ketemu di tempat acara ya jangan lupa di lantai 6 loh." Aku bersyukur Rei tidak menanyakan soal ayah dan ibuku. Sudah jelas Rei tidak menanyakan soal itu, aku telah menceritakan semuanya kepada Rei. Rei pun mengerti apa yang akan terjadi jika ia sampai menanyakan hal itu. "Siap komandan, hahahaha." jawabku dengan penuh semangat. "Kalo begitu aku pulang dulu ya Ryo. Masih ada beberapa keperluan yang harus aku selesaikan." "Ok Rei aku juga mau pulang." Akhirnya kami pulang ke kos masing - masing. Tak terasa waktu cepat berlalu. Lampu - lampu jalan menerangi sepanjang perjalananku pulang. Sepanjang perjalanan terfikirkan beberapa perkataan Rei tentang Rani. Seorang wanita yang cantik apakah mau denganku? dan kenapa pria setampan Rei ditolaknya? jika Rei saja ditolak bagaimana denganku yang biasa - biasa ini. Mungkin ada benarnya juga kata - kata Rei tadi. Kenapa tidak aku coba saja dulu, toh kalopun aku ditolaknya aku masih bisa berteman dengan dia. Semenjak itu aku bulatkan tekadku, apasalahnya jika aku mencoba. Setiba di kos, tak lupa aku bergegas mandi dan mengganti pakaianku. Setelah itu ku istirahatkan badanku. "Ah... nyaman sekali rasanya." Sesekali ku cek ponselku. Terdapat satu pesan dari nomer yang tidak ku kenal. Terimakasih banyak Ryo hari ini menyenangkan sekali. Begitu isi pesanya. Terimakasih? menyenangkan? sebenarnya ini nomer siapa? seketika itu aku teringat. Hari ini aku bertemu dengan Rei dan Rani saja. Tidak mungkin, apa ini nomer ponsel Rani? ku balas pesan tersebut. Iya sama - sama. Maaf ini siapa ya? Tak selang beberapa lama munculah balasan pesan dariku. Ini aku Rani, aku dapat nomer kamu dari Rei. Seketika itu aku terkejut, "astaga Rei apa yang sebenarny kamu inginkan? ini terlalu cepat untuku." Aku balas lagi pesan dari Rani. Maaf Rani aku tidak tau kalo ini nomer telfon kamu. isi pesan balasanku. Gambar Wajah tersenyum. itu balasan pesan Rani. Aku bingung mau membalas apa lagi. Disaat mataku mulai lelah dan kupejamkan tiba - tiba. Aku terbangun di pinggiran jalan yang gelap. "Apakah mimpi yang sama lagi?" aku berkata dalam hati dan mulai ku telusuri jalan tersebut, hingga akhirnya. Ada seseorang wanita sedang menangis dan duduk di tempat duduk yang berada di pinggir jalan. Iya ini mimpi yang sama seperti sebelumnya tapi, kenapa sekarang suara si wanita tersebut sama sekali tidak terdengar. Mimpi yang sama terlulang kembali, semuanya sama persis seperti mimpiku sebelumnya. lagi - lagi sesorang yang misterius itu mendorongku hingga aku terjatuh. aku terjatuh di kegelapan yang tak berujung. Semakin dalam aku terjatuh, tiba - tiba aku terbangun dari tidurku. "Astaga mimpi yang sama lagi." disaat itu aku mencari telfon genggamku. Ku lihat jam berapa sekarang. Ternyata hari telah berganti jam di ponsel ku menunjukan pukul 7:00. Perlahan sinar matahari pagi melewati celah - celah kamarku. Akhirnya hari yang aku tunggu - tunggu tiba. Hari minggu, hari dimana event atau acara Japan X Corss diadakan. aku bergegas tuk mandi dan kubersihkan seluruh badanku. Setelah cukup lama aku bersiap - siap akhirnya selesai juga. akupun bergegas untuk segera berangkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN