***********
Awal Mula Keanehan Part 2
***********
Cahaya matahari pagi mulai masuk melalui celah – celah pintu dan jendela kamarku. Perasaan bingung masih menyelimuti pikiranku, seketika itu aku beranjak menuju kamar mandi. Kupikir setelah mandi pikiranku mulai terasa jernih Kembali tetapi tetap saja. Kududuk terdiam, sebesit terpikirkan sesuatu.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku?"
"Siapa orang berbaju putih itu?"
"Apa maksud dari perkataanya?"
"Siapa wanita itu?
"Kenapa dia menangis dan siapa yang dia maksud?" aku berbicara dalam hati sambil memikirkan semua yang telah terjadi padaku.
Kulihat jam di ponselku tepat pukul 08:00, dan kubuka aplikasi chat di ponselku. Ku kirimkan pesan untuk Rei sahabatku.
Rei, sebentar lagi aku berangkat.
Kutunggu di tempat biasa ya.
Tak lama setelah kukirim pesan , ku mulai bergegas menuju ke café tempat dimana aku dan Rei bertemu dan berbagi cerita. Tak lama setelah ku sampai di café , kuparkirkan kendaraanku dan mulai berjalan masuk. Tempat yang begitu tenang dan nyaman, kursi dan meja yang tertata rapi dan bersih. Bersihnya lantai dan aroma wewangian yang membuatku dan Rei betah berlama – lama ditempat ini. Entah itu hanya sekedar berbincang – bincang atau bermain game untuk menghilangkan Stres dan penat kami seharian. Tepat di meja kasir aku memesan secangkir kopi dan camilan.
"Kok tumben pagi sekali datangnya mas?" tanya penjaga café.
"Iya mas, lagi jenuh di kosan." Jawabku sambil mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu untuk membayar pesananku.
Perlahan kuberjalan ke tempat dimana aku dan rei biasanya duduk. Dua baris dari bangku paling pojok, tepat di bawah kipas angin. Sejuknya hembusan dari kipas angin membuatku sedikit mengantuk. Ku ambil ponsel yang berada di dalam tas. Sambil menunggu datangnya Rei aku mulai membuka i********: kulihat postingan Runi. Beberapa postingan foto terbarunya mulai meracuniku, senyumannya yang manis dan gayanya yang lucu dan imut membuatku tersipu – sipu sendiri melihatnya. Kulihat juga komentar – komentarnya, beberapa komentar mengatakan hal yang sama seperti apa yang aku pikirkan. Terlalu asik aku melihat foto – foto dan komentar di i********: Runi membuatku lupa watku.
"Hayoo, lagi mikirin apa kamu?"
suara yang keras dan sentuhan di pundak membuatku terkejut.
"Astaga Rei, kamu ternyata. Ini lagi ngelihatin instagramnya Runi. Gara – gara mimpi semalam aku sampai kepikiran terus."
Seketika itu ekspresi wajah Rei terlihat berbeda mungkin dia teringat sesuatu tentang perkataanku di telfon semalam.
"Oh ya Ryo, memang apa yang terjadi semalam?"
"Aku mimpi aneh Rei."
"Mimpi aneh gimana?" balas Rei.
"Aku mimpi ketemu Runi." jawabku dengan sedikit bingung.
"Cie – cie sampai kebawa mimpi segala. Terus bagian anehnya dimana?" balas Rei dengan nada meledeku.
Akupun menceritakan mimpiku secara detail tentang semua yang aku alami semalam. Berawal dari aku yang tiba – tiba menunggu bus di halte, tepat dimana aku duduk saat di dalam bus, hingga apa yang terjadi di dalam mall.
Aku menceritakanya dengan sangat detail tanpa menambah ataupun memgurangi apa yang aku alami. Hingga akhirnya aku tunjukan bekas luka di sikuku. Seketita ekspresi wajah Rei berubah menjadi cemas dan terkejut.
"Yakin itu bukan luka dari garukan kukumu?" sahut Rei sambil mengamati luka disikuku.
"Aku sendiri gak yakin Rei, tapi kalo itu luka garukan rasa sakitnya gak seperti ini."
"Iya, Tapi bekas luka mu ini memang seperti luka benturan dan goresan lecet."
"Nah disitu bagian anehnya Rei."
"Sebentar Ryo, jika di mimpimu kamu tertabrak dan mengalami luka yang serius apa mungkin…." tanya Rei dengan ekspresi wajah yang sangat cemas.
"Entahlah Rei aku juga gak tau bakalan gimana. Tapi dari bekas luka yang ada ini itu mungkin saja terjadi"
Seketika itu aku mulai berfikir tentang apa yg Rei ucapkan, apa yang terjadi didalam mimpi mungkin akan terbawa disaat aku bangun. Prasaan cemas dan takut tiba – tiba datang menghantuiku.
"Sudahlah Ryo gak usah terlalu dipikirin."
"Gak dipikirin gimana maksudmu? Kalo di mimpi aku sampai mati gimana coba."
"Ya sudah jelas kan, kamu gak bakalan bangun lagi dari mimpimu." balas Rei.
"Bercandamu gak lucu Rei…." balasku dengan nada kesal.
"Maaf – Maaf Ryo, intinya kamu harus berhati – hati di dalam mimpimu. Apapun yang terjadi di mimpimu mungkin akan terbawa dikenyataan."
Dari kejauhan pelayan cafe terlihat mendatangi meja kami dengan membawa sesuatu, "Maaf mengganggu mas, ini pesananya secangkir kopi hitam pahit, kentang goreng dan soda gembira." Kata pelayan cafe sambil menaruh pesanan kami diatas meja.
"Terimakasih mas." balas Rei kepada pelayan tersebut.
Ponsel milik Rei berdering. Sepintas terlihat tulisan Rani memanggil di ponsel milik Rei.
"Hallo iya Ran sudah sampai kah? , Iya sebentar aku segera keluar."
"Aku tinggal sebentar ya Ryo. Temanku sudah sampai di depan." Rei bergegas keluar dari café menghampiri temanya yang sedang menunggu diluar.
Tak lama Rei akhirnya kembali masuk bersama seorang wanita. Mereka berjalan mendekat kearahku.
"Ryo, kenalkan ini temanku Rani."
Aku terdiam sejenak, dalam hatiku berkata. "Cantiknya…"
"Hei… malah diam." bentak Rei padaku.
Bentakan Rei akhirnya menyadarkan diriku yang sedang takjub dan terdiam membisu, aku bergegas berdiri dan mengulurkan tanganku. "Maaf, iya aku Ryo." aku berkata dengan nada gugup.
Rani menjabatangaku sambil berkata, "Saya Rani, salam kenal Ryo."
Potongan rambut yang pendek, wajah yang cantik, dan suaranya yang lembut membuat hatiku semakin berdetak kencang.
"Hei Ryo, mau sampai kapan kamu pegang tanganya?"
Seketika itu aku melepas jabatan tanganya, "Maaf Rani."
"Iya, gapapa kok Ryo." jawab Rani dengan wajah tersenyum.
"Dasar wibu, gak pernah ketemu cewek cantik ya? Sekalinya ketemu jadi salah tingkah." Sindir Rei.
Tapi benar apa yang Rei katakan. Ini baru pertama kalinya aku bertemu seseorang yang luar biasa menurutku.
"Astaga Ryo, sudah salaman nggak mau ngelepasin sekarang dipandangi terus. Woi sadar woi, sampai malu tu orang."
"He…., Siapa yang malu Rei?"
"Astaga Ryo, lihat tu siapa yang km buat malu."
Seketika itu aku tersadar bahwa seseorang di depanku lah yang menjadi maksud dari perkataan Rei. Tanpa sadar aku telah memandangi wajah Rani yang begitu cantiknya.
Dengan wajah tersipu malu aku berkata "Maa Rani aku ngelamun tadi."
"Ih… pasti ngelamun jorok ya?" balas Rani dengan nada mengejeku.
"Eh… bukan begitu. Kamu cantik Rani." Spontan tiba - tiba kata itu terucap dari mulutku.
"Gak salah denger ni?" jawab Rei.
"Makasih, Ryo." kata Rani dengan senyumanya yang begitu manis.
Melihat senyuman Rani yang begitu manisnya membuat jantungku semakin berdetak kencang. Seketika kekhawatiranku tentang apa yang telah aku alamipun menghilang.
"Ada yang lagi jatuh cinta nih." Jawab Rei spontan.
Mungkin memang benar apa yang Rei katakan. Baru pertama kali ini aku merasakanya, perasaan kagum, senang dan malu bercampur menjadi satu.
Akupun mengambil kentang goreng dan mulai memakanya. Namun aku heran melihat ekspresi kedua orang di depanku. Wajah mereka seolah - olah terpanah melihatku yang sedang asik memakan kentang goreng.
"Hei Ryo, kamu sehat kan? Emang gak aneh ya rasanya?" Dengan wajah bingung Rei menanyakan sesuatu yang tidak aku mengerti.
"Sehat kok Rei, memang ada yang salah ya?" Jawabku dengan santainya.
Entah apa yg sedang terjadi aku tidak tau, tetapi mereka berdua tertawa lepas sambil terbahak - bahak.
"Eh… emang ada yang lucu ya?" Tanyaku penasaran.
"Hahahaha, beneran kamu gak sadar Ryo?" Jawab Rei dengan wajah puas tertawa lepasnya.
"Ryo, kentangnya gak pahit?" Tanya Rani kepadaku
Setelah mendengar perkataan Rani aku mulai tersadar, memang tumben kentang goreng yang kumakan rasanya agak pahit berbedar dengan biasanya. Rasa malu yang luar biasa muncul ketika aku menyadari bahwa yang telah membuat mereka tertawa lepas adalah karena tingkahku. Ketang goreng yang seharusnya dimakan dengan saos tomat ataupun mayones, telah berubah menjadi kentang goreng dengan saos kopi.
Aku terdiam sejenak, perlahan kesansarkan kepalaku ke meja. Sambil menahan rasa malu yang luar biasa dan juga menahan tertawa karena tingkaku. Hingga akhirnya aku tak sanggup menahanya.
Kami bertiga akhirnya tertawa berasama - sama. Akibat tingkah kekonyolanku.
Obrolan ringan dan canda tawa mulai terlihat. Beberapa cerita mengenai tempat asal Rani dan bagaimana mereka bertemu.
Takterasa waktupun berlalu. Pertemuan yang singkat ini murupakan kebahagian tersendiri bagiku. Untuk pertamakalinya aku merasakan sebuah kebahagiaan.