Bab 1
Aruna terdiam menatap hujan dari balik jendela. Dia tengah menunggu kepulangan sang suami, Mahesa. Ada rasa sepi menyelimuti hati Aruna.
"Maaf, aku tidak bisa menyentuhmu." Satu kalimat itu selalu melekat dalam ingatan Aruna sejak dua tahun silam.
Krett
Terdengar pintu utama terbuka, sosok pria yang dia nantikan telah tiba. Seperti biasa, Aruna membantu Mahesa membuka jas kantor dan mengambil tas kerjanya.
"Air hangat sudah aku siapkan, Mas!"
Mahesa hanya mengangguk dan berlalu menuju kamar pribadi mereka. Sementara, Aruna membuntitinya di belakang. Saat Mahesa mandi, Aruna menyiapkan makan malam.
"Aku sudah makan tadi dengan teman kantor."
Padahal Aruna menantikan makan malam berdua dengannya. Tapi, Mahesa justru memilih mengabaikannya.
"Besok aku ada tugas keluar kota. Kamu siapkan bajuku malam ini."
"Baik, Mas." Aruna terdiam. "Mas, boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa?"
Aruna menatap mata Mahesa, dan Mahesa seakan tahu apa yang Aruna maksud hanya dengan satu tatapan mata saja.
"Maaf, aku tidak bisa!"
"Kenapa? Apa salahku?"
"Tidak ada. Tapi aku tidak bisa."
Dua tahun menikah bersama Mahesa, Aruna sama sekali belum di sentuh. Ia sempat meragukan kejantanan Mahesa. Tapi, Aruna yakin bukan masalah itu.
Mahesa kembali masuk ke kamar dan segera tidur. Dengan berlinang air mata, Aruna menyiapkan baju untuk Mahesa dinas besok.
"Aku pergi satu Minggu, kamu jaga diri baik-baik di rumah." Hanya itu pesan dari Mahesa saat dia akan pergi dinas keluar kota.
Aruna menatap kepergian Mahesa dengan begitu banyak pertanyaan. Apa dia sanggup dengan pernikahan ini? Apa dia bisa menahan semua?
Aruna memilih menyibukkan diri dengan aktivitas di rumah. Namun, saat melihat cermin dia menyadari kalau dia tidak secantik dulu lagi.
"Apa ini yang membuat Mas Mahesa tak mau menyentuhku? Apa aku perlu mengubah penampilanku?"
Akhirnya, Aruna memutuskan pergi berbelanja ke mall. Dia juga akan pergi ke salon untuk memperbaiki penampilannya.
Dia seperti orang hilang saat berbelanja seorang diri. Bagaimana tidak? Dia tak pernah mempunyai teman dekat. Dia selalu menyibukkan diri di dalam rumah.
"Mbak cantik sekali!" Seorang karyawati memuji Aruna yang tengah memilih baju.
"Benarkah?" Aruna masih belum yakin. Apakah di mata Mahesa dia akan cantik juga?
"Benar, Mbak."
Aruna tersenyum menanggapi pujian karyawati itu. Hingga dia memutuskan membeli dua helai mini dress dengan model terbaru.
Mahesa tak pernah mempermasalahkan seberapa besar Aruna menghabiskan uangnya. Bahkan uang bulanan Aruna bertambah dua bulan ini.
Terlalu lama berbelanja, Aruna merasa lapar. Dia segera memilih tempat makan.
"Ah di sana, ramai pasti makanannya enak!" Aruna segera memesan beberapa menu.
Aruna makan dengan lahap, hingga tak sadar ada sosok pria yang memperhatikan dirinya sejak tadi. Pria itu tersenyum saat melihat Aruna makan dengan lahap.
"Apa dia tak pernah makan enak?"
Senyum manis pria itu adalah dambaan dari semua wanita.
Aruna telah menghabiskan menu yang dia pesan. Setelah itu dia segera pulang. Namun, dia melupakan sesuatu yang tertunggak di meja.
Sampai tempat parkir, dia kebingungan. Dia mencari sesuatu di dalam tas tapi hasilnya nihil.
"Tadi aku taruh disini! Ah kenapa aku lupa naruh sih!"
Di saat Aruna kebingungan, seorang pria yang sejak tadi memperhatikan dia mendekat.
"Cari ini!"
Aruna mendongakkan kepala, "Iya itu kunci mobilku!" seru Aruna ketika melihat kunci yang dia cari berada di tangan pria itu. "Berikan padaku!"
"Ada syaratnya kalau mau kunci ini."
"Syarat?" Mata Aruna membulat. Sedikit rasa kesal dalam hati Aruna. Dia sudah ingin pulang tapi harus bertemu pria menjengkelkan.
"Berikan nomor ponsel kamu padaku!"
"Tidak mau!" Tanpa berpikir Aruna menolak cepat.
"Oke." Pria itu menyimpan kunci itu ke dalam saku dan berbalik.
"Tunggu ... Baiklah!" Akhirnya Aruna menyerah. Dia tak mungkin pulang tanpa membawa mobilnya. Apalagi itu mobil hadiah dari Mahesa saat usia pernikahan mereka genap satu tahun. "Berikan ponselmu!"
Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya dan memberikannya pada Aruna. Tak ingin tertipu, pria itu langsung menelpon nomor yang Aruna simpan di ponselnya.
"Ini bukan nomor kamu!" Pria itu merasa dibohongi karena saat dihubungi nomor tersebut tidak aktif.
"Ponselku mati, makanya tidak aktif."
"Jangan berbohong!"
Aruna makin kesal, dia mengambil kembali ponsel pria itu dan menyimpan nomornya disana. Pria itu kembali menelpon nomor itu dan ternyata benar nomor Aruna.
"Itu nomorku, simpan ya!"
"Mana kunciku!"
Pria itu memberikan kunci pada Aruna, dan Aruna segera memasuki mobil.
Dua hari setelah kejadian itu, Aruna kembali bertemu dengan pria menjengkelkan itu. Pria itu mengirim makanan yang Aruna pesan lewat online.
"Kamu ...!" Aruna menunjuk wajah pria itu mulai kesal. "Kamu kurir?"
Pria itu hanya tersenyum, "Jangan lupa bintang limanya, Mbak!"
Aruna mengambil pesanannya dan segera menutup pintu. Dia memberikan ulasan bintang satu untuk kurir itu.
Pintu terdengar di gedor saat Aruna hendak melangkah.
"Mbak ... Tolong ganti bintang lima dong, Mbak!" Pria itu berteriak dari luar pintu.
Aruna mengabaikannya, dia memutuskan untuk segera makan. Sementara, pria itu terpaku di depan pintu.
"Jahat sekali dia!"
Pria itu melangkah meninggalkan rumah Aruna. Kali ini dia yang dibuat jengkel oleh Aruna.
Sorenya, kran air di kamar mandi rumah Aruna bocor. Dia terpaksa memanggil tukang untuk memperbaikinya. Namun, entah sengaja atau bagaimana tukang yang biasanya tidak bisa. Yang datang tukang baru dan ternyata pria menjengkelkan itu.
"Ketemu lagi, Mbak! Mana yang perlu di perbaiki?"
Aruna mengantarkan pria itu ke kamar mandi. Setelah itu, Aruna meninggalkan pria itu. Aruna tak terbiasa berdua saja dengan pria asing.
Aruna haus dia melewati kamar mandi itu, dia melihat pria itu membenarkan kran dengan telanjang d**a.
Seketika, Aruna merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirinya ketika melihat tubuh kekar itu. Dia segera ke dapur untuk mengambil air.
"Sudah selesai, Mbak!" Pria itu mendekati Aruna yang sedang minum. Aruna berbalik, dia menyemburkan air minum yang ada di mulutnya ke wajah pria itu karena kaget. "Buset...basah lagi!"
"Maaf ...!" Aruna yang reflek segera mengelap baju pria itu yang basah karena ulahnya. Saat itu tanpa sengaja mata mereka saling bertemu.
Perasaan yang tadi Aruna tahan kini kembali muncul. Tubuh kekar pria asing itu sangat menggoda sekali. Tanpa ia sadari, otak Aruna berpikir sedikit m***m.
"Mbak ... Mbak ...!''
Aruna masih belum menyadari kalau tangannya masih menyentuh d**a bidang pria itu. Matanya masih tertuju pada mata indah sang pria asing.
Entah bagaimana bukan menjauhi pria itu, Aruna malah mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu. Dan alhasil sesuatu yang tak terduga terjadi diantara mereka.