Turun dari mobil yang sudah berhenti di depan gerbang rumah Pak Ferdi. Luna turun lebih dahulu, baru disusul oleh Mellya. Sampai dalam rumah, Mellya langsung menyenggol bahu Luna dengan sengaja dan sangat keras. Terasa menyakitkan dan mengejutkan bagi Luna yang tidak sadar ada serangan demikian dari belakang.
"Lain kali jangan bikin aku nunggu. Merepotkan tau!" ucap Mellya marah. Ia menatap dengan sangat tidak suka.
Luna hanya bisa menghela nafas. Kalau sudah seperti ini, mood rasanya anjlok. Ia pun berjalan lemah ke kamar.
"Gini amat sih! Udah nggak boleh bertemanan sama Daffa. Eh masih dimusuhin aja sama Melly, dikasari lagi." Luna mengeluh sendiri. Tapi, memangnya apa yang bisa dilakukan kalau sudah seperti ini. Paling-paling juga menjatuhkan diri di atas tempat tidur yang paling nyaman dan kemudian memejamkan mata. Berharap bisa segera masuk ke dalam mimpi dan melupakan masalah yang baru saja terjadi.
***
Malam ini langit terlihat begitu gelap. Daffa sedang memperhatikan itu di balkon kamar, sambil mencari bintang yang mungkin ada sebiji saja yang bisa menemani dirinya agar tidak merasa sendiri.
Sayangnya, sampai malam benar-benar menjadi sunyi. Satu bintang pun tak ada yang menyapa untuk tersenyum pada Daffa. Langit benar-benar menunjukkan kehampaan yang membuat seorang Daffa menjadi semakin merasa sendiri di dunianya.
"Kayaknya semua emang niat buat ninggalin aku, bahkan bintang aja nggak mau muncul, hah …!" Daffa mendengus kesal.
Laki-laki itu, sebenarnya masih sebal pada Luna yang dengan begitu gampang, memutuskan untuk tidak mau menerima ajakannya untuk berteman. Padahal kalau perempuan diluar sana, pasti akan menerimanya dengan suka cita.
“Kayaknya dia nggak sadar aku ini sebenarnya siapa. Aku ini Daffa Anggara lho Lun, cowok paling banyak penggemar di Pelita saat ini.” Daffa menggelengkan kepala merasa heran. Ia kemudian memutuskan saja untuk masuk ke kamar.
Masih berpikir bagaimana caranya agar bisa berteman dengan Luna. Daffa benar-benar buntu. Ia rasa saat ini, memang tidak ada jalan lain selain menerima Mellya sebagai temannya.
“Apa mungkin kalau aku berteman dekat sama Mellya, Luna bakal cemburu. Ya, bisa jadi ‘kan! Kayaknya, aku coba aja dulu, nggak ada salahnya.”
Setelah itu, Daffa menyibukkan diri dengan ponselnya. Ia kembali melihat konten video penari bertopeng sambil tiduran di atas tempat tidur. Rasanya sangat menyenangkan dan buat candu, bahkan kadang juga sampai terbawa dalam mimpi.
“Lupakan masalah Luna, bayangin aja si penari bertopeng ini. Kira-kira dia siapa sih! Ya ampun, luwes, energik, dan kayaknya cantik, tapi kenapa dia lama benget nggak ngeluarin video baru. Apa dia lagi break?”
Daffa terus melihat video yang sebenarnya adalah milik Luna. Ia tertarik dengan penari itu. Karena memang begitu hebat, sayang wajahnya sampai sekarang belum ketahuan. Ini membuatnya terlihat misterius, dan Daffa suka.
Rasanya ingin sekali, Daffa mengajak berkolaborasi, tapi penari bertopeng itu menolak. Karena memang Luna sendiri tidak ingin identitasnya terbongkar.
“Kira-kira kamu siapa? Apa mungkin aku sama kamu seumuran, atau mungkin aja kita satu sekolah, satu kelas, soalnya ada yang bilang katanya penari bertopeng itu sekolah di Pelita. Hahh …! Jadi bayangin yang nggak-nggak!” Daffa senyum-senyum sendiri sambil terus berpikir mengenai penari bertopeng. Andai saja dia tahu wajah siapa di balik topeng penari itu. Daffa pasti merasa senang, lantas berguling-guling di atas kasurnya hingga jatuh ke lantai.
***
“Aduh …!” Ternyata, Luna baru saja terjatuh dari tempat tidur, dan ia mendarat keras di atas lantai kamarnya yang dingin karena memang sudah begitu larut.
“Duh, sampai jatuh! Padahal aku tadi mimpi indah banget, bisa kolab nari sama Daffa. Duh … andai itu angka mimpi,” ucap Luna kesal sambil berusaha naik kembali ke atas tempat tidur. Ia peluk lagi guling yang setiap malam jadi temannya.
Lalu, tanpa mau menunggu lama. Luna segera memejamkan mata, berharap kalau mimpinya bisa berlanjut. Mimpi indah dengan Daffa.
Mimpi kalau Luna sedang berada di sebuah pesta. Lalu isa berdansa romantis dengan Daffa.
Daffa terlihat ganteng parah dengan setelan jas formal yang ditambah dasi rapi ala CEO kaya raya. Sedangkan Luna, mengenakan gaun pesta hitam yang terlihat cantik dan anggun.
Anehnya lagi, Luna tidak mengenakan topeng di wajahnya. Seolah-olah Daffa tahu kalau dirinyalah penari bertopeng tersebut.
“Ah … ternyata nggak bisa lanjut lagi mimpinya! Kenapa sih aku tadi jatuh ke lantai, kan sayang banget! Jadi, bangun kan aku!” Menggerutu Luna karena sadar kalau mimpinya memang tidak mungkin lanjut lagi.
“Ah … padahal kan mimpinya indahhh bangettttt!” kesal Luna coba dilampiaskan pada gulingnya yang langsung dicekik tanpa ampun.
“Padahal bukan gulingnya juga yang salah, aku aja yang tidurnya banyak tingkah sampai ada acara jatuh dari tempat tidur! Hahhhh … nggak bisa tidur nih pasti abis ini!”
Malam yang panjang itu, akhirnya bisa terlewati. Luna dengan semangat menyiapkan perbekalan dance-nya untuk dibawa ke rumah Tobi. Karena sesuai rencana hari ini, Luna dengan bantuan kedua temannya akan membuat konten lagi.
Tanpa ada perasaan apa-apa. Hanya merasa semangat saja, karena memang sudah lama tidak membuat konten sejak terakhir kali upload sebulan yang lalu. Ditambah lagi, setelah ini akan ada ujian semester yang pasti akan membuat fokus Luna pecah.
Luna akhirnya pamit pada papa dan ibunya untuk pergi ke rumah Tobi. Bersamaan dengan Mellya yang juga sepertinya akan pergi.
“Jadi, apa ada yang perlu diantar?” tanya Pak Ferdi sambil menatap kedua putri kesayangannya.
“Nggak perlu Pa! Luna naik taksi aja!”
“Aku juga nggak perlu Dad! Soalnya udah dijemput, paling sebentar lagi juga datang yang mau ajak aku jalan!”
“Oh! Ya udah kalau begitu.”
Tidak lama kemudian seorang asisten rumah tangga datang menghampiri Mellya. “Non! Ada teman cowoknya lagi nunggu di depan, katanya mau ajak Nona Mellya jalan!”
“Nah itu! Aku udah dijemput kan Dad! Aku pergi dulu kalau begitu!” Mellya segera menuju ke teras rumah. Ia berjalan cepat dan terlihat sangat semangat.
“Aku juga berangkat ya Pa!” Luna ikut pamit sekali lagi, dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Luna berjalan seperti biasa dan santai sekali. Pikirannya masih senang karena akan membuat konten dengan kedua temannya. Tapi, tiba-tiba saat langkah kakinya sampai di teras. Ia terpaksa berhenti karena melihat sosok yang sulit dipercaya akan ada di rumahnya.
‘Daffa! Jadi Mellya mau jalan sama Daffa!’ batin Luna menatap mereka berdua tanpa berkedip. Rasanya cepat sekali kedekatan itu terjalin antara Daffa dan Mellya.