Jika boleh, ibarat kata hati Luna itu adalah gelas. Maka hati Luna sedang dibatas ujung meja. Rasanya ingin pecah tapi tidak jadi.
Untuk apa juga memecahkan gelas. Kalau nanti sulit disatukan. Pecah dan andai bisa bersatu, jejak pun masih ada.
'Aku nggak tertarik sama dia!'
'Apalagi suka!'
'Minat sama Daffa, kata bang Haji Rhoma, no way.'
Batin Luna berbicara sendiri. Menyadarkan hati kalau, memang harus seperti ini yang terjadi. Ia pun lanjut jalan. Kakinya melangkah lagi sambil kehilangan konsentrasi.
Mungkin hati Luna tidak jadi jatuh dari ujung meja, tapi tubuh Luna justru jatuh di ujung jalan teras yang memiliki beberapa anak tangga kecil. Kaki Luna terpeleset disitu.
"Awas!" Teriak Daffa dan ia dengan sigap menangkap Luna. Tangannya Luna berhasil diraih dan gadis itu malah jatuh dalam pelukan Daffa.
Dalam sepersekian detik, Luna terjebak oleh takdir. Begitu juga dengan Daffa. Mereka malah menikmati momen yang membuat Mellya kepanasan.
"Ih … lama banget sih! Lun, kamu lagi-lagi cari kesempatan ya. Doyan banget pegang-pegang." Mellya cepat melepas tangan Daffa yang memeluk tubuh Luna dari belakang.
Daffa masih bernyanyi di hatinya. Tapi, terpaksa berhenti. Saat tangannya diseret paksa oleh Mellya untuk melepas Luna. Ia baru sadar kalau Mellya sedang mengomeli Luna.
"Siapa juga yang mau pegang-pegang sih!" Luna kesal dan memilih langsung kabur. Ia berjalan cepat menuju depan pagar dan menunggu mobil yang sudah dipesannya dalam aplikasi.
Daffa merasa bersalah, lagi-lagi karena dirinya. Luna kembali kena marah oleh Mellya.
"Kenapa Luna bantah terus sih!"
"Udah biarin. Kita jadi jalan 'kan?" tanya Daffa.
Mellya baru ingat tentang itu. "Iya jadilah."
"Kalau begitu kita berangkat aja sekarang!"
Mereka berdua menuju motor milik Daffa. Daffa naik dulu. Lalu Mellya turut naik di boncengan belakang.
"Daf, aku nggak pernah naik motor. Boleh nggak kalau aku pegangan sama kamu. Ehm .. aku takut aja jatuh!” ucap Mellya.
“Iya, boleh kok!” jawab Daffa.
Mellya senang sekali, dan langsung memeluk dengan erat punggung Daffa. Saking eratnya sampai-sampai Mellya bisa mencium wangi parfum yang sedang dipakai laki-laki tersebut.
‘Hah, kalau gini sih namanya bukan pegangan!’ Daffa melihat ada sepasang tangan merangkul perutnya, rasanya agak geli. Tapi, mau gimana lagi. Terpaksa ia harus mau terima.
Sedangkan Mellya kesenangan samai tidak bisa menutup mulutnya. Ia menganga tidak percaya, karena bis amerasakana bantalan roti sobek milik Daffa.
“Sial, nih cewek mulai grep-grep lagi! Dikira perutku adonan roti apa!’ Sekilas melihat tangan Mellya menekan-nekan. Ingin marah, tapi anggap saja itu harga yang memang harus dibayar oleh Daffa.
Luna melihat Daffa dan Mellya berboncengan. Seperti tidak ada jarak antara mereka berdua, menempel seperti pengantin baru.
“Mellya nemplok kayak dibonceng bapaknya aja!” gerutu Luna yang masih menunggu mobil. “Tapi, bapaknya Luna ‘kan bapakku juga! Hah …! Lihat mereka bentar aja bikin aku seketika lupa ingatan.” Luna memutar bola mata dan menghembuskan nafas panjang. Lalu tak lama setelah itu, mobil jemputannya datang.
Tidak mau lama larut dengan pemandangan tadi, Luna pun mengirim pesan pada Tobi. Memberitahu kalau dirinya sudah meluncur di jalan raya.
***
Sebuah rumah dengan gaya minimalis dan bercat putih. Pagar besinya tinggi dengan pepohonan ada di sekitarnya. Rerumputan mendominasi, teras yang dikelilingi bunga, juga bonsai kaktus yang imut.
Inilah rumah Tobi, pagar besinya terbuka untuk Luna kapan saja. Ia berjalan masuk setelah satpam menyapanya dan mempersilahkan.
"Sudah ditunggu di halaman samping Nona!"
"Iya, pak, makasih! Saya langsung kesana kalau begitu."
Luna berjalan ke arah samping rumah, melewati barisan rumput yang dipotong cantik.
"Luna! Sini!" panggil Tobi.
"Konsep yang kamu kirim semalam, udah aku renovasi."
"Renovasi, emangnya rumah!" Sahut Luna.
"Ya, sejenisnya."
Luna langsung menatap konsep yang sudah diperbaiki oleh Rena juga Tobi. Konsep kali ini sangat menantang. Karena ini adalah konsep perpaduan pemikiran ketiga remaja itu dengan permintaan netizen.
"Yakin nggak akan terjadi sesuatu?" tanya Luna.
"Kayaknya nggak. Kita kan udah cukup pro buat take gambarnya," jawab Tobi.
"Tapi, kira-kira harus ambil video sampai berapa kali?"
"Tergantung kamu. Kan kamu yang perfom!" jawab Rena.
"Tapi, terlalu beresiko. Ini akan menciptakan kerumunan pasti. Apa aku bisa." Luna ragu. Ia lalu meraba bagian hatinya yang mungkin akan berdebar hebat nanti saat melakukan syuting menari.
"Bisa nggak bisa. Kalau nggak dicoba. Nggak akan tahu hasilnya."
"Ayolah Lun, ini gebrakan buat video kamu. Banyak orang kenal kamu dan selama proses syuting. Nggak cuma kamu aja yang pakai topeng. Tapi, kita juga." Tobi menjelaskan lagi. Ia lalu memegang tangan Luna berusaha menunjukkan kalau dirinya sangat yakin.
"Ayolah Lun. Ini nggak akan buat kamu grogi. Bayangin aja kalau kamu lagi dance di depan cermin studio tari."
"Tapi Ren!" Menatap Rena tidak yakin.
"Ingat cuan!" ucap Rena.
Setelah berhasil meyakinkan Luna, untuk melakukan performa di depan umum. Mereka bertiga akhirnya berangkat ke TKP. Tobi yang bernegosiasi dengan pemilik kafe XXC, sebuah kafe yang baru buka dan menyajikan tempat luas untuk customernya.
"Kalau gitu, saya bantu persiapan. Biar saya suruh karyawan merapikan halaman depan, disana pasti ada banyak yang akan menonton performa kalian. Sekalian jangan lupa ada nama kafe ini juga, sekalian bantu promosi tempat ini ya.
"Itu pasti Pak. Kalau begitu terimakasih!" Tobi memberikan tangannya untuk jabat tangan tanda setuju.
Akan diadakannya syuting dari video konten penari bertopeng, di kafe XXC. Beritanya menyebar dengan cepat. Termasuk ke ponsel milik Daffa.
Ia sedang berada disebuah book store yang letaknya sebaris dengan kafe XXC. Melihat pemberitaan dari temannya mengenai syuting konten penari bertopeng akan diadakan di depan umum, Daffa merasa ini hal langka dan dirinya harus melihat.
Daffa mencari keberadaan Mellya yang sedang memilih buku novel. Ia tanpa sadar malah menggenggam pergelangan tangan gadis itu untuk mengajaknya pergi.
Mellya syok sampai tidak bisa bicara, buku yang dipegang saja sampai jatuh bagai kelopak bunga yang gugur dan tidak bisa dihentikan.
“Ada apa?”
“Aku mau pergi ke sebuah tempat!” jawab Daffa.
Mellya ikut saja, namun tiba-tiba gadis itu juga mendapat telepon dari Prita.
Sambil naik motor, Mellya coba mengangkat panggilan teleponnya. “Ada apa?” Mellya ikut kaget, karena Prita bilang kalau penari bertopeng yang terkenal akan melakukan performa di kafe XXC.
“Apa! Kalau gitu kita ketemuan disana, aku juga mau kesana sama Daffa!”
Motor yang dikendarai oleh Daffa melaju cukup cepat. Meski ada beberapa pengendara yang benar-benar bertingkah ugal-ugalan mengganggu laju kendaraan lainnya. Akhirnya Daffa sampai juga.
Mellya turun, dan menyerahkan helmnya begitu saja. Sayang sekali, ia harus mengakhiri kebersamaan siang ini dengan Daffa. Kedua temannya, Nadia dan Prita menunggu dirinya untuk melihat penari bertopeng beraksi. Selagi dilakukan di depan umum.
“Jadi, kamu mau balik sekarang?” tanya Daffa.
“Iya, maaf ya daf! Padahal aku suenengg banget bisa jalan sama kamu! Tapi, aku beneran lagi ada hal penting!”
“Nggak papa, mungkin lain kali kita bisa jalan lagi!” ucap Daffa sambil tersenyum. Padahal hatinya mengucapkan syukur sekali karena Mellya akhirnya pergi meninggalkan dirinya. ‘Yes aku bisa fokus,’ batin Daffa.
Mereka berdua akhirnya berpisah. Mellya menemui kedua temannya dan Daffa mencari titik yang tepat untuk melihat pertunjukan siang ini.
“Akhirnya aku bisa liat pertunjukkannya secara langsung.” Daffa bicara sendiri, ia juga mengenakan masker untuk menutupi wajah agar tak ada yang tahu juga kalau seorang Daffa Anggara ingin melihat pertunjukkan semacam ini, dan dalam sekejap keadaan depan kafe XXC tampak ramai dipenuhi pengunjung.