Waktu makan malam akhirnya tiba, Luna dan Mellya duduk bersebelahan.
Luna tampak biasa saja. Akan tetapi, Mellya seperti ingin membuat onar suasana.
Wajahnya kusut dan seperti tidak selera makan. Sendok yang dipakai juga terdengar terus saja tertabrak keras dengan piring keramiknya.
“Mellya. Kamu kenapa Nak? Apa makanannya nggak enak?” tanya Bu Mira memberikan perhatian.
Mellya langsung memukulkan sendoknya ke piring sangat keras, menghasilkan suara mengejutkan dan tak enak didengar.
“Makanannya emang nggak enak! Siapa sih yang masak, jangan -jangan mama ya! kan ada bibi, kenapa mama yang masak sih! “ emosi Mellya yang tidak suka pada makanan malam ini.
“Mell! Makanannya enak kok!”
“Diam kamu, kamu bilang begitu karena ibu kamu yang masak, iyakan! Udah deh Ma! Lain kali Mama jangan ikut nyiapin makanan. Lihat makanannya jadi nggak enak kan! Ngeselin deh! Padahal laper tapi nggak selera buat makan!” Mellya lalu bangun dan pergi begitu saja meninggalkan meja makan. Padahal piringnya masih terisi makanan penuh, tapi keadaannya sudah sangat berantakan.
“Mellya, kamu mau kemana?” tanya pak Ferdi.
“Kamar!” jawab Mellya singkat dan pergi begitu saja. Ia bahkan tidak takut sedikitpun pada pak Ferdi yang tampak juga kecewa dengan sikap Mellya malam ini.
Bu Mira juga hanya memandang pasrah. Jujur hatinya ada yang sakit. Kesedihan tampak jelas terlukis di wajahnya.
“Sabar ya Ma, mungkin Mellya lagi ada masalah! Biasanya nggak gitu kok!” Pak ferdi menenangkan istrinya.
“Iya Pa!” jawab Bu Mira. Ia lalu menatap Luna yang ikut syok melihat kejadian barusan. “Luna, kamu lanjut aja makannnya ya Sayang!”
“Iya Ma!” jawab Luna.
***
Saat sudah merasa nyaman dan ingin lepas untuk melupakan. Ternyata hati belum bisa rela dan ingin memaksa keadaan sesuai keinginan.
Mungkinkah akan jadi lebih baik, atau terima saja kalau yang terbaik saat ini adalah melepas.
Tentu Luna punya jawaban itu, ia pun mulai belajar menerima kenyataan, kalau tidak semua harus sesuai dengan harapan.
Kedatangan Daffa dan perkenalannya dengan cara unik, pertemanan yang dimulai dengan terpaksa, begitupun akhirannya yang terpaksa untuk bisa meninggalkannya.
Luna dibayangi penggalan episode singkat tentang kebersamaan dirinya bersama Daffa. Ada rasa tidak ingin menjauh dari teman sekelasnya itu, apalagi kemarin sempat ada kesalahpahaman yang berujung pada peristiwa lucu.
“Gara-gara dia aku sampe dikira hamil, Ya Allah lucu banget sih! Tapi, ya udahlah mungkin nanti aku ketemu banyak Daffa yang lain setelah ini. Aku akan kasih tau Mellya kalau aku nggak akan izinkan Daffa dekat sama aku. Aku nggak mau dia cari gara-gara lagi kayak di meja makan tadi. Kasihan ibu!”
Luna mulai mengetuk pintu kamar Mellya. “Aku rasa dia belum tidur!”
Benar, ternyata tidak lama setelah itu, daun pintu terbuka dengan keras. “Ada apa sih? Ganggu banget!” Mellya membuka pintunya dan langsung menatap emosi pada Luna.
“Tolong, jangan ulangi lagi!” ucap Luna, ia coba sabar meski melihat Mellya emosi. Padahal harusnya kan dia yang marah.
“Apanya?”
“Semuanya!”
“Yang mana aja, aku udah lupa!”
“Kejadian di meja makan, dna di kelas sama Farrel! Kamu tau, nggak gitu caranya menyelesaikan masalah!”
“Kalau menurutku emang gitu caranya. Terus kamu mau apa?”
“Aku akan jauhi Daffa, kamu puas sekarang”
Mellya tersenyum lebar. Luna melihatnya dan sedikit terlihat juga laptop menyala di atas tempat tidur Mellya yang sedang memutar video penampilan Daffa di kontennya.
‘Ternyata dia penggemarnya Daffa, pantesan ngebet banget sama cowok itu’ batin Luna.
“Kalau begitu deal, aku nggak akan gangguin ibu kamu lagi, tapi aku tetep nungguin kamu. Cuma ya … nggak separah kemarin si!” Pintu langsung ditutup keras dan sekali lagi Luna harus merasa syok untuk kedua kalinya malam ini.
“Sabar-sabar!” ucap Luna.
***
Pagi di sekolah SMA Pelita, anak-anak dihebohkan dengan konten terbaru Daffa yang meluncur tadi malam.
Tidak sedikit penggemar Daffa dari kelas lain datang ke kelasnya, sampai ada yang memberi hadiah dan bingkisan kecil di atas meja milik Daffa Anggara.
Rena, Tobi dan Luna memperhatikan diam-diam. “Aku yakin kalau seluruh isis sekolah ini tau penari bertopeng itu kamu Luna, akan banyak juga yang akan kasih kamu hadiah kayak si Daffa!” ucap Rena.
“Ya udahlah nggak papa, namanya juga rezeki, kan nggak tau rezeki itu datangnya darimana. Yang pasti aku bisa punya kalian berdua aja itu udah rezeki banegt buat aku!” Sedikit mengerucut bibir Luna mengatakan itu, rasanya ia masih beban kalau harus terpaksa menjauh dari Daffa. Tapi, mau bagaimana lagi, ia ingin memiliki hidup yang damai.
“Ih …! Minis bingit sihhh!” Tobi memeluk sayang pada Luna dan Rena dari belakang, dengan rangkulan dua tangan. Karena tepat posisinya ada di antara dua teman perempuannya itu.
Rena dan Luna membalasnya. Mereka bertiga terlihat akrab dan dekat sekali. Membuat Daffa yang melihatnya sekilas di tengah kesibukannya diajak foto teman sekelas jadi iri.
‘Padahal aku pengen deket sama mereka!’ batin Daffa.
Kelas akan dimulai, bel pertanda masuk juga sudah berbunyi. Guru matematika mulai masuk dan duduk di meja guru depan kelas. Memasang kacamata lalu menatap ke arah anak-anak didiknya.
“Pagi kelas!”
“Pagi Bu!”
“Okey, keluarkan buku pr kalian! Kumpulkan di depan“
Luna dan murid lainnya segera mengeluarkan buku tugas masing-masing. Namun, Luna justru belum juga mengeluarkan bukunya. Ia merasa buku itu tidak ada di dalam tasnya.
‘Bukuku mana? Perasaan udah aku taru didalam tas sini!’ batin Luna sambil mengingat apa saja yang sudah dilakukan semalam terhadap isi tasnya. Ia mengecek sekali lagi, memeriksa dan sampai melihat satu per satu buku yang ada. Namun, belum juga ketemu.
Bu Guru tahu kalau Luna belum juga mengumpulkan bukunya. “Luna! Buku kamu mana?”
“Eh! ketinggalan di rumah Bu!”
“Kalau begitu kamu kerjakan tugas halaman 35 semuanya dan harus selesai saat jam pelajaran saya berakhir. Kamu kerjakan di ruang guru.”
“Tap ...!” ingin menolak dengan alasan. Tapi, sepertinya mustahil. Ia pun berjalan menunduk sambil membawa buku tulis dan buku tugas. Lalu bangun dari duduknya. “Baik Bu!” Luna pun berjalan keluar.
Saat berjalan menuju pintu kelas, Luna sekilas melihat tatapan mata Mellya. Ia rasa ini pasti kerjaan Mellya. ‘Hah! Kapan dia melakukannya.’ batin Luna pasrah.
Rena dan Tobi melihat Luna iba. Tapi, mereka berdua juga tidak mau dihukum. Mungkin siang nanti akan coba memberi semangat saat makan di kantin. Bagaimana juga, ini pasti ada yang salah, ditambah mereka berdua juga tahu Mellya memandang Luna dengan sangat tidak suka saat ini.
“Ayo siapa lagi yang nggak bawa buku atau alasan lain, yang pada intinya kalian mungkin lupa tidak mengerjakan pr!” ucap Bu Guru.
Beberapa detik kemudian, Daffa mengangkat tangannya. “Saya Bu!”