Menyuruh Daffa menjauh

1059 Kata
Mellya tidak mengira kalau Daffa akan lebih memperhatikan Luna. Ia kesal sekali saat masuk sekolah lagi. Pagi ini, pemandangan buruk tercipta di depan matanya. Luna dan Mellya berangkat lebih awal karena pak Ferdi ada meeting pagi. Namun, saat mereka berdua sudah ada di dalam kelas bersama. Justru Luna lah yang lebih dulu dihampiri oleh Daffa, muak Mellya melihat itu. Ingin bertindak kasar tapi keadaan tidak memungkinkan. ‘Awas aja Lun! Aku akan bikin perhitungan buat kamu,’ ancam Mellya di dalam hatinya. sampai kelas akhirnya dimulai, ia masih saja dendam pada Luna. Istirahat yang direncanakan berjalan seperti biasa, makan di kantin bertiga, atau sekarang jadi berempat dengan Daffa. Namun, untuk siang ini Luna bilang akan menyusul ke kantin paling akhir. Ada yang ingin dibicarakan dengan Mellya dulu di dalam kelas. “Tapi, Lun! Awas lho! Dia mulai nggak waras buat ngerjain kamu!” “Iya, masak kamu dikunci di kelas sih! Kalau nggak ada Daffa bisa nginep kamu disini!” “Iya, udah tenang aja, aku akan hati-hati sama dia.” Luna memutuskan untuk tinggal di kelas dulu menemui Mellya. Sedangkan Rena dan Tobi berjalan keluar kelas. Hanya saja, mereka berdua tidak pergi ke kantin. Melainkan menunggu dulu di depan pintu sambil mencermati. Apa akan terjadi sesuatu pada temannya atau tidak. Daffa sudah menunggu di kantin. Ia tidak tahu kalau ketiga teman barunya, Rena, Tobi dan Luna akan lama datangnya. Sesaat coba sabar, menunggu di meja yang bisa dipakai untuk berempat. Akan tetapi, lama-lama merasa bosan juga. Hingga segelas minuman yang sudah dipesan habis tidak bersisa. “Mana sih mereka? Lama banget?” Daffa memutuskan saja untuk balik ke kelas lagi Saat sampai, ia melihat Tbi dan rena sedang bertengkar dengan Prita juga Nadia. “Ada apa ini?” tanya Daffa. “Daf! Tolongin Luna, dia di dalam kelas sama Mellya. Nggak tau ada apa, cuma Luna sempat menjerit dan pintunya nggak bisa dibuka!” Jelas Rena cepat. “Pintunya dikunci dari dalam sob!” sahut Tobi yang sudah dijambak rambutnya oleh Nadia. Daffa tanpa banyak bicara langsung berusaha membuka pintu kelas tersebut. Ia berusaha keras mendorongnya. ‘“Enggak Daffa! Jangan lakukan itu!” teriak Nadia. “Ah! Buka cepat! Sambil mendorongkan bahu kanan pada pintu yang terkunci dari dalam. Dan akhirnya pintu tersebut bisa dibuka. “Kamu mau apakan Luna?” tanya Daffa melihat Mellya membawa ponsel dalam mode kamera menyala. Ada juga Farrel, teman sekelas Luna dan Mellya di dalam kelas. Mellya kaget. “Aku! Aku nggak apa-apakan dia kok!” “Udah Daff! Aku nggak papa!” Luna membetulkan rambutnya yang berantakan sekali. Ia lalu memegang tangan Daffa untuk pergi dari sana. ‘Ya Allah … makasih, aku terselamatkan.’ batin Luna. Tiba di kantin, Luan bercerita tentang apa yang terjadi. Tobi dan Rena seketika emosi tingkat angkasa. “Nggak bisa dibiarin Lun! AKmu kudu melakukan sesuatu!” Rena mengingatkan. “Ngelakuin apa?” Daffa diam, ia tidak mengira kalau Luna dan Mellya memiliki hubungan serumit ini. Padahal sudah jadi saudara yang tinggal satu rumah. “Dai maunya apa sih sebenarnya, kenapa makin lama makin berani buta ngerjain kamu.” Rena kembali angkat bicara. “Kalau yang tadi itu sih, bukannya ngerjain. Tapi, mau bikin skandal dia. Mungkin Mellya mau bikin Luna keluar dari sekolah ini!” tambah Tobi. “Coba deh Lun! Kamu tau nggak kenapa dia mkin gila gini? Apa aada yng diinginkna dari kamu. Selama ini kamu juga kan udah turuti semua keinginan dia. Ngerjain pr nya, tugasnya, nulis catatan. Dia mau apa lagi?” “Dia mau daffa jauhin aku!” jawab Luna. Daffa yang tadunya hanya diam berusaha mencerna keadaan, malah syok mendnegar itu. “Apa, kok aku yng malah suruh jauh dari Luna.” “Mending kamu jauh deh Daff! Ini demi kebaikan Luna juga.” Rena langsung memberi nasehat. “Kayaknya Mellya naksir kamu! Makanya dia nggak suka kamu deket sama Luna.” Tobi menambah. “Tapi kan nggak bisa gitu juga, yang namanya berteman kan nggak bisa diatur gitu aja, sesuai apa yang diinginkan sama Mellya” bela Daffa. “Tapi, kita nggak mau,teman kita dapat kesusahan gara-gara kamu Daff. Maafin kita! Mending kita pindah meja yuk!" Tegas Rena dan mengajak dua temannya pergi ke meja lain Luna menurut saja pada Rena. Lagipula, ia juga berpikir sependapat dengan Rena. *** "Farrel, garap aja sekarang!" titah Mellya sambil menyiapkan kamera. "Apa, kalian mau apa?" Tanya Luna. Rasanya menyeramkan sekali keadaan yang dihadapi Luna saat ini. Ia berada di dalam kelas bertiga dengan Mellya dan Farrel. Kalau terjadi sesuatu, sudah pasti hanya dirinya sendiri yang bisa menolong. "Farrel kamu mau ngapain?" Luna bertanya, ia menelan saliva takut. Cemas mengamati tingkah Farrel yang makin lama, kakinya berjalan makin dekat padanya dengan tatapan liar. "Aku cuma mau enak-enakan sama kamu!" jawab Farrel lalu menatap pada Mellya. Ada senyum satu sisi yang menampakkan wajah mereka berdua yang memang punya rencana jahat. "Mellya, hentikan semua ini! Kamu maunya apa sih?" Mellya menatap Luna tajam dan penuh kesal. "Aku mau kamu jauh dari Daffa. Kalau kamu mau cowok. Nih Farrel aja. Jangan sama Daffa!" "Apa, Daffa itu datang sendiri sama aku. Aku nggak deketin dia. Mending kamu bilang aja langsung sama Daffa, jangan bilang itu sama aku!" Luna masih berusaha berani. "Hihhh, ni anak, udah kepepet, masih aja banyak bicara." Mellya merasa semakin kesal. "Udah lakukan aja Farrel. Aku siap buat rekam dan sebarin kalau dia berani macam-macam." "Siap Mellya!" "Apa!" Luna melangkah mundur dan ia berencana lari cepat ke arah pintu kelas. Ia akan kabur lewat sana. Tapi, Farrel sudah sempat menangkap tangannya dan membuat ia tertahan. "Lepassss!" Injak kaki Farrel cukup keras. "Ah!" Menjerit Farrel. "Farrel, cepetan. Nanti ada anak balik ke kelas gimana?" "Iyaya!" Langsung memegang Luna lagi dan berusaha menciumnya. Farrel mendorong tubuh Luna hingga menempel ke dinding. Ada sentuhan yang dipaksa oleh teman laki-laki sekelasnya itu. Rasanya ingin lari, tapi tidak bisa lari. "Hah …!" Sepasang mata terbuka sambil merasa cemas sekali dalam hati. Hati berdebar begitu takut. "Sampe terbawa mimpi. Ya Allah, benar-benar bikin kepikiran. Aku akan kasih tau Mellya kalau aku nggak berteman lagi sama Daffa!" Ternyata Luna yang baru pulang sekolah dan langsung tertidur, di tempat tidur. Ia beban memikirkan ancaman Mellya sampai terbawa mimpi siangnya. "Iya, lebih cepat lebih baik. Aku nggak mau ada kejadian serupa terjadi lagi," ucap Luna. Ia harus mau melakukan itu, meski jujur sudah begitu nyaman dengan kehadiran Daffa saat ini dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN