Berangkat dan pulang sekolah, sehari-hari Luna hanya bisa melihat hubungan Daffa dan Mellya semakin dekat. Tampak Daffa kadang juga memberi perhatian pada Mellya. Tapi, itu semua murni dilakukan untuk membuat hati Luna panas.
"Hah …! Mana mungkin Luna bisa cemburu. Apa aku harus pacaran dulu sama Mellya. Biar tau rasa dia kalau aku sudah jauh banget dari dia. Tapi, nggak mau ah. Mellya bukan tipeku!" Bicara sendiri Daffa sambil menatap tumpukan buku di perpus. Ia sedang mencari buku untuk pelajaran. Termasuk tugas kesenian yang berat rasanya kalau hanya dirinya dan Mellya yang mengerjakan. Selalu saja begitu setiap ingin mengerjakan sama-sama. Ada saja alasan yang dibuat Mellya agar Luna tidak ikut.
Kebetulan Luna Kania Putri ternyata ada juga di dalam perpustakaan. Ia sedang menenangkan hati dengan menyendiri. Kebetulan jam kosong dan ia putuskan untuk bersemedi membuat konsep konten baru.
Dengan earphone terpasang di kedua telinga. Luna tampak asyik menggerakkan kedua tangan sesekali, sambil duduk dan memegang pulpen, dan mencatat apa yang penting. Ia juga sibuk membayang nada dan gerak apa yang bisa digunakan untuk konten barunya. Haruskah ia melihat rekomendasi dancer orang luar dulu sebagai tambahan kosa gerak tari agar lebih bervariasi. Luna rasa nanti saja lah, membuat latar dan kostum saja dulu untuk siang ini dan gerakan utama yang bisa menjadi candu untuk dilihat terus-menerus tanpa bisa bosan.
Daffa mengetahui Luna yang sedang sendirian tersebut. Aneh melihat Luna saat itu. Tangan dan tubuh terlihat seperti melakukan sesuatu. Bergerak tapi hanya sebentar, gerakannya seperti berirama. Penasaran, Daffa pun semakin mendekat. Tapi, hanya berani mengintip untuk memastikan. Mengamatinya dalam diam.
'Dia lagi ngapain?' batin Daffa.
Daffa pun kembali ke kelas. Ingatannya penuh dengan Luna yang ada di perpustakaan tadi. Ia sempat berpikir Luna mungkin sedang peregangan otot atau olahraga ringan. Tapi, mengapa harus di perpustakaan, sambil bawa buku lagi
Karena memang pergantian jam sudah hampir tiba, Luna juga ikut masuk ke dalam kelas. Ia membawa bukunya, dengan sampul gambar kelinci yang tampak oleh Daffa.
'Buku yang tadi,' batin Daffa.
Kembali ke kursi, Luna menyembunyikan buku itu ke dalam laci, dan mengeluarkan buku lain untuk pelajaran selanjutnya.
Daffa masih sekilas memperhatikan. Hatinya tergelitik cari tahu apa yang ada di buku bersampul kelinci tersebut.
"Daf, nanti siang aku diajak Prita sama Nadia pergi. Kalau tugas kelompok kesenian kita kerjain besok. Nggak papa 'kan?" Tiba-tiba Mellya mendekat, dengan wajah sok imut dan menggemaskan ia coba merayu Daffa agar tugas dikerjakan besok saja.
Daffa mengangguk. "Nggak papa!" Tersenyum Daffa menatap Mellya. Tampaknya ia punya rencana dadakan untuk siang ini.
***
Pulang sekolah adalah momen yang ditunggu Luna. Tapi, siang hari ini, dirinya tidak sadar kalau Daffa sedang mengintai. Kesal karena tugas prakarya kesenian harus dirinya saja yang bekerja. Daffa pun menunggu momen dimana Mellya tidak ada. Lalu saat kesempatan itu sudah datang, lekas saja didekati Luna untuk meluapkan kesalnya.
"Aku nggak mau, kalau cuma aku sama Mellya aja yang beli ini itu, nyiapin bahan, ngerjain ukiran. Kamu kita itu semua tugas individu, enak banget kamu nggak ngapa-ngapain," ucap Daffa.
Rena melotot. "Eh, babang jidat lebar, ngomong yang bener dong. Siapa juga yang nggak mau ngerjain tugas prakarya. Noh si Meluyo yang ngelarang Luna imut deket-deket sama kamu! Paham sampai sini?"
"Tapi, kita itu satu tim, nggak bisa nurut gitu aja sama satu orang!" Daffa membalas mata Rena.
"Terus kenapa kamu baru komentar sekarang jenong!" Sahut Tobi.
Luna tidak perlu banyak bicara. Kedua temannya itu ternyata sudah siap membelanya.
"Maka dari itu, siang ini aku mau Luna bantu aku nyiapin bahan yang kurang. Mellya juga lemot kerjanya. Dia kayak nggak ada tenaga sama sekali buat bikin prakarya."
"Apa! Enak aja, kenapa kamu nggak langsung kasih aku tugas aja sih. Ngapain gitu. Yang bikin aku nggak harus berduaan sama kamu!" Luna menatap Daffa kesal. Seperti mencari kesempatan, atau itu hanya pikirin buruk Luna belaka. Yang pasti, Luna tidak suka kalau harus keluar dengan Daffa.
"Aku butuh opini tentang bahan yang benar dan cocok untuk prakarya. Kamu tau, kalau Mellya sama sekali nggak pro soal itu. Jadi gimana, mau aku pilihkan bahan yang susah buat dicongkel, oke nggak papa. Biar aku beli bahannya. Kamu yang bertugas buat membuat ukirannya!" sahut Daffa lagi.
"Apa!" Kaget Luna. Sedangkan Tobi dan Rena saling bertatap.
"Udahlah Lun, kamu ikut aja. Daripada nanti harus kamu yang bikin ukiran. Itu kan susah banget. Tetap kudu dikerjakan bareng-bareng."
Luna mendengar pendapat Rena. Ia pun menarik tali tasnya dengan kesal.
"Ya udah, aku ikut kamu. Aku telpon papa dulu, izin pulang telat dan biar nggak usah dijemput." Luna melotot pada Daffa. Daffa pun merasa berhasil dengan misinya.
Daffa dengan senang hati membuka pintu mobilnya untuk Luna. Senang sekali bisa lagi bersama dengan gadis itu. Menatap wajah Luna yang bersih dan tidak menor. Beda sekali penampilannya dengan Mellya.
"Mau minum?" tanya Daffa menawari.
"Nggak!"
"Atau kita makan dulu?"
"Udah kenyang." Ketus nada bicara Luna.
"Tapi, aku lapar. Pak, kita makan dulu di kafe biasanya ya." Daffa memberi perintah pada sopirnya.
Luna seketika melihat ke arah Daffa. Kesal bertubi-tubi, karena Daffa sepertinya seenaknya sendiri. "Daff, emang di kantin tadi, kamu nggak makan apa?"
"Makan sih, tapi udah laper lagi."
"Ya ampun, ngeselin nih bocah."
Sampai di depan kafe gaul, banyak pelajar mendatangi tempat itu. Daffa memilih meja dan mengajak Luna masuk.
"Kalau makan cepetan, aku nggak mau pulang kesorean!" ucap Luna usai melihat Daffa memesan makanan.
"Kalau begitu, bantuin."
Lagi, Luna dibuat bingung dengan pernyataan Daffa. "bantuin apanya?"
"Bantuin makan, aku pesen banyak soalnya."
"Apa!" Luna terbengong. Tak lama setelah itu, datang karyawan kafe membawa banyak makanan.
"Silahkan!"
"Iya mbak!" ucap Daffa pada pelayan yang datang saat itu. Lalu dalam sekejap meja kafe yang ditempati Luna dan Daffa sudah penuh makanan.
"Kita harus habiskan makanan ini, baru setelah itu pergi cari bahan tambahan prakarya!" ucap Daffa tanpa merasa bersalah.
"Apa!" Luna melihat ada satu, dua, tiga, empat lebih piring yang terisi makanan.
Daffa mulai melahap sosis bakar. Lalu minum orange juice. Terasa segar, tapi Luna belum berniat menyentuh hidangan yang ada.
"Kamu nggak mau bantuin aku makan, berarti kita akan makin lama disini. Ya nggak papa. Toh masih sama kamu. Aku nggak sendirian"
Luna menggigit bibir bawah karena terganggu sekali dengan omongan Daffa. Rasanya ingin mencaci maki, laki -laki dihadapannya. Tak banyak bicara, Luna menarik sebuah piring. Tidak, tapi langsung dua piring. Ia rasa cukup begitu saja. Luna yakin, seyakin-yakinnya kalau tidak ada keinginan untuk banyak makan. Suasana hatinya sedang tidak mendukung.
Daffa tersenyum puas melihat Luna. 'Akhirnya kamu makan juga. Asal kamu tau, dari dulu aku tu pengen banget traktir makan kamu Lun. Cuma nggak ada kesempatan aja,' batin Daffa. Ia melihat Luna makan dengan baik. Rasanya menyenangkan, juga bisa membuat hati lega. Andai saja bisa setiap hari begini.