Senang Tapi Tidak Perlu

1115 Kata
Hari minggu telah selesai. Sekolah pun dimulai. Ternyata, topik paling panas disematkan untuk penari bertopeng. Sekelas Mellya pun ikut membicarakannya dengan Nadia dan Prita. Luna tahu hal itu, dirinya ikut merasa senang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana respon mereka kalau tahu penari bertopeng adalah dirinya. Pasti heboh sekali. Daffa masuk ke dalam kelas. Wajahnya yang memang selalu terlihat menggemaskan dan membuat Mellya seketika berubah. Ia langsung bangun dari duduknya dan berjalan mendekat pada Daffa. "Daffa!!!!! Maafin aku kemarin ya, tiba-tiba tinggalin kamu gitu aja," ucap Mellya sambil memeluk Daffa dari belakang, dan meraba lagi roti sobek laki-laki tersebut. "Aku jadi ngerasa bersalah!" Daffa langsung melepas pelukan dan membuat jarak satu meter. Menatap Mellya yang agresif sekali sebagai anak gadis. Mengerikan bagi Daffa. Tapi ia hanya bisa tersenyum palsu. "Iya, aku juga kebetulan ada keperluan," balas Daffa. Ia masih berusaha mundur dan tidak melihat ke belakang kalau ada bangku. Hingga ia terpaksa menabrak dan hampir jatuh. "Daffa, hati-hati." "Aku bisa atasi kok." Daffa langsung mengangkat kedua telapak tangannya untuk mencegah Mellya mendekat. Lalu bel masuk kelas berbunyi. Mellya berusaha tersenyum semanis mungkin. "Kalau begitu aku duduk ya. Lain kali, kita jalan lagi!" "Iya!" Daffa melirik sekilas pada Luna yang tampaknya memperhatikan kejadian barusan. Luna segera mengalihkan muka. Ia menyibukkan diri membuka tas. Kelas begitu hening setelah guru masuk. Hanya terdengar ada suara yang guru yang menerangkan menggema. Luna fokus saja pada penjelasan guru, meski kadang ia merasa seperti ada yang memperhatikan. Mungkin Daffa yang melakukan itu. "Jadi, kita buat kelompok, setiap kelompok terdiri dari tiga orang. Biar saya acak sesuai nomor saja," ucap guru yang menyuruh untuk membuat tim. Setiap tim memiliki tugas membuat prakarya berupa ukiran dari kayu untuk menambah nilai pelajaran kesenian. Siapa sangka dan tanpa diduga-duga. Luna terjebak dalam tim paling angker. Ia menatap mejanya dengan bengong dan tak bersemangat. Lelah hati tak bisa diungkapkan kecuali kalau dirinya boleh berteriak. "Kalau begitu, kita cari bahan pembuatan karya seni sepulang sekolah saja. Usahakan sebelum ujian mulai, tugas ini udah selesai. Masih ada beberapa bulan lagi. Jadi, bisa kan kalau pulang sekolah kita langsung pergi aja!" Jelas Daffa sambil menatap dua teman timnya secara bergantian. Luna hanya menunduk. Mellya segera mengangkat tangannya. "Biar aku aja yang menemani kamu. Soalnya Luna harus cepat pulang. Papa mau ajak dia jalan buat beli baju nanti." Barulah Luna mengangkat wajahnya. Ia menatap Mellya sambil tersenyum ketir dalam hati. 'Hahhh … boong banget. Mana rela dia, kalau papa beliin aku baju tanpa dia. Awas aja itu lidah kena azab kebayangkan dusta,' batin Luna yang sadar kalau Mellya meliriknya. Manik hitam Mellya menyudut seperti mengintai sasaran. Luna hanya bisa pasrah sambil menghela nafas. Ia merasa ini adalah sandi agar dirinya menurut pada ucapan Mellya, menurut agar dirinya tidak perlu ikut acara siang nanti. Karena Mellya ingin berdua saja dengan Daffa. Sambil menepuk kedua pahanya agar bisa menenangkan hati, seperti bahasa tubuh untuk dirinya yang sedang kesal tapi terpaksa ditahan. Luna tersenyum memaksa agar dirinya terlihat baik. "Iya, nanti aku ada janji sama papa. Jadi, aku harus ikut papa dulu. Nggak papa kan. Kasian kalau nggak jadi, soalnya udah janji dari kemarin-kemarin," ucap Luna yang mendukung kedustaan Mellya. "Tuh kan! Gini-gini aku sering ngingetin Luna. Ya meski kemarin aku agak kesel sama dia. Maafin aku ya Luna. Aku janji aku nggak akan bikin kamu repot lagi, asal ….!" Rayu Mellya. "Iya nggak papa!" Senyum saja Luna. Tak ada lagi yang bisa dilakukan saat ini. Selain menurut pada saudara tirinya itu. *** "Ya, asal kamu masih dapat nilai di pelajaran kesenian. Aku rasa biarin aja kalau Mellya mau mendominasi Daffa," ucap Rena berusaha waras. "Iya, malah enak lah, mereka yang repot ngerjain tugas. Kamu tinggal nyantai. Biarin aja mereka berdua yang kerja tim. Kamu tinggal pantau." Tobi menambahkan. "Tapi, kenapa perasaanku bilang sebaliknya. Aku rasa aku yang bakal susah." Luna punya insting tidak enak. Pulang sekolah ini, Luna sengaja keluar cepat-cepat dari kelas. Agar Daffa tidak memiliki kesempatan bertanya ataupun mengajak bicara dirinya. Daffa hanya melihatnya dan coba mengerti. Mungkin dirinya memang harus berhenti berharap kalau Luna bisa berubah lebih akrab seperti beberapa waktu lalu. "Daffa, gimana kita jadi nggak, cari bahan sepulang sekolah ini?" tanya Mellya. Daffa mengangguk, ia lantas jalan berdua dengan Mellya untuk menuju gerbang sekolah. Luna melihat kedekatan itu nyata. Melly dan Daffa naik mobil yang dibawa sopir Daffa. Lalu begitu saja pergi meninggalkan sekolah. "Luna, apa masih ada yang mau kamu tunggu?" tanya pak Ferdi. Siang ini, seperti biasa sang papa yang menjemput dirinya. Meluangkan waktu untuk anak adalah hal utama dan sebuah prinsip. "Enggak Pa. Mellya udah berangkat sama temannya kok. Kita balik aja sekarang." Sampai rumah hanya bisa membanting tubuh di atas kasur dan merangkul guling miliknya. Luna menatap langit kamar yang kosong. Kecuali ada lampu panjang yang setiap malam menyala. "Aku nggak papa. Beneran nggak papa. Aku baik-baik saja." Luna ingat lagi bagaimana Mellya yang sangat ingin dekat dengan Daffa. "Ah …., Mellyaaaa. Ih, pengen aku giles aja kamu." Tidak mau merasa gundah karena mengingat Daffa dan Melly. Gadis itu memutuskan melihat kenaikan view di konten miliknya kemarin malam. Membuka laptop yang dibelikan pak Ferdi, dan hasilnya mencengangkan. Bagai pelangi setelah hujan petir. Melihat hasil kerja kerasnya kemarin. Luna membelalakkan mata karena tidak percaya. "Wah, duittt ini. Aku beneran bakal dapat banyak cuan abis ini. Yes yes, aye-aye!" Luna berteriak di tempat tidur. Kakinya menendang tidak jelas. Seperti bayi yang sedang menangis kejang-kejang. "Hah … biarin aja Mellya sama Daffa. Yang penting kontenku banyak peminatnya. Terimakasih ya Allah nggak sia-sia apa yang aku usahakan. Hubungi Rena sama Tobi ah!" Sementara itu, Daffa sedang sibuk memainkan ponselnya sambil mendengar Mellya bicara. Gadis itu tengah memilih bahan untuk keperluan seni. Tapi sejak tadi, tampaknya ia seperti bicara sendiri. "Daff, kamu dengerin aku bicara nggak. Ini kamu mau pakai kayu yang mana? Yang cocok karakteristiknya sama tugas karya seni kita." "Kenapa nggak tanya sama penjualnya. Yang tahu kayu mana yang cocok buat ukiran kan penjualnya," jawab Daffa yang masih berkutat dengan gawai. "Ah begitu ya!" Sahut Mellya pasrah. Ia pun terpaksa ngobrol dengan Abang penjual. Rasanya, sia-sia saja bisa berdua dengan Daffa, tapi tidak ada hal yang berarti untuk harinya siang ini. Daffa sendiri sibuk menatap layar ponsel. Memperhatikan video yang sudah di up oleh Luna tadi malam. Yang ternyata sangat banyak yang melihat, hingga bisa dipastikan akan bisa monetisasi uangnya. "Andai aku bisa duet ngedance sama kamu. Kenapa ya sampai detik ini aku belum nemu petunjuk siapa kamu." Sekilas Daffa jadi ingat penampilan Luna sebagai penari bertopeng kemarin. Bagaimana sorot mata mereka berdua bisa bertemu dan Daffa merasa tatapan mata itu tidak asing. 'Kayak kenal, tapi siapa?' batin Daffa bertanya. Ia yakin kalau dirinya pasti kenal dengan sosok dibalik topeng tersebut. Tapi, masih belum bisa tahu siapa sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN