Mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa atau tidak. Luna akhirnya bercerita perihal buku bersampul kelincinya yang saat ini sedang dibawa oleh Daffa.
Tobi dan Rena bahkan mendapat cerita juga tentang pertemuan siang usai sekolah yang di-skip untuk bagian Luna yang hampir saja jatuh, namun berhasil ditangani oleh Daffa. Sentuhan dan pelukan yang menyenangkan untuk dikenang bagi Luna saat itu. Tapi cukup hatinya saja yang tau dan merasakan.
"Jadi mata panda kamu ini, ya ampun Luna yang cantik kasian!" Rena memeluk sahabatnya. Lalu menepuk punggungnya. "Makanya kalau ada masalah yang belum runyam itu mending cepetan cerita. Kan bisa kita langsung aja dor si Daffa biar nyerahin buku kamu."
"Apa, didor!"
"Maksudnya di Rena ditodong. Kalau nggak mau kasih ya paksa ambil. Kalau kita bertiga bersatu, pasti Daffa bakal kalah lah Lun!" Jelas Tobi.
"Ah, kenapa aku nggak kepikiran ya. Hah … menyebalkan, lagian konsep buat dia juga selesai," ucap Luna yang menyesal tidak kepikiran untuk segera cerita pada temannya.
"Yi idih, nggik pipi," ucap Tobi. Lalu memasang wajah serius untuk Luna. "Tipi Lin Kiki ciriti!" Sedikit ada raut kesal.
"Iya Tobi! Lain kali aku cerita. Eh, ada makanan baru. Roller banana coklat keju. Mantap itu kayaknya." Luna berhasil melihat salah satu murid yang membawa makanan tersebut. "Gimana kalau aku traktir makanan itu Baksonya juga udah abis."
"Dih, apa nggak kenyang?" Tanya Tobi.
"Luna kan si pemilik perut karet. Jangan lupa deh sama kelebihan teman sendiri," sahut Rena.
"Iya deh aku lupa!" Sahut Tobi yang cara bicaranya sudah normal.
"Tapi aku minta traktir besok aja deh sekarang udah penuh banget nih perut." Rena menolak.
"Yakin kalau nggak akan muat itu perut, roll banana itu ukurannya kecil Rena! Nggak akan bikin kekenyangan."
"Dibilangin, traktir besok. Ya besok."
Di meja kantin itu, Luna kembali. Merasakan kebahagian kecilnya. Dengan senyum dan berbicara dengan Tobi dan Rena. Perasaannya jadi lebih netral dari bayangan Daffa.
***
Masuk kelas, dan saat akan masuk, Luna bertemu dengan Daffa. Ia melihat Daffa ada di belakangnya dengan jarak beberapa meter. Namun, tiba-tiba dengn cepat jarak beberapa meter itu dipangkas oleh Daffa. Ia kini sudah ada tepat di belakang Luna.
"Gimana konsepnya?" tanya Daffa.
"Udah jadi!"
"Secepat itu, terus kenapa nggak kamu kasih ke aku?" Tanya Daffa, mereka berbicara dengan jarak yang aman.
"Kembalikan dulu bukuku. Kalau nggak, aku juga nggak akan kasih konsep itu sama kamu," balas Luna. Lalu ia segera mempercepat langkah. Sepertinya barusan, dirinya mendengar Mellya bicara. Jangan sampai saudara tirinya tahu kalau dirinya sedang bicara lagi dengan Daffa.
Daffa pun sadar hal itu. Ia pun tidak mengejar. Tapi, tangannya mengepal sebentar menahan kesal. Gemas saja mendengar Luna bicara. Bisa sekali Luna ingin bukunya dikembalikan dulu. Sudah seperti transaksi penculikan saja.
Sampai di kelas. Luna berusaha mengirim pesan pada Daffa. Ia meminta Daffa memberikan dulu bukunya.
Daffa membalas pesan tersebut. Bertukar buku dilakukan di tempat kemarin, dan di waktu yang sama. Yaitu usai pulang sekolah.
Luna mengirim gambar ibu jari.
Daffa membalas lagi dengan emoticon wajah yang salah satu matanya berkedip dan mengeluarkan hati.
Luna yang melihat itu. Lalu melirik sekilas pada Daffa. Daffa sadar, dan langsung mengedipkan satu mata untuk Luna. Persis seperti gambar emoticon yang dikirim.
"Ya ampun!!!" Gumam Luna. Antara harus kesal atau tersenyum. Ia bingung, karena kalau boleh jujur, wajah Daffa barusan sungguh sangat menggemaskan.
Tiba saatnya, jam pelajaran masuk. Hanya saja, ternyata bukannya memberikan mata pelajaran. Melainkan hanya memberikan tugas yang harus dikumpulkan. Membuat waktu dengan cepat berakhir, karena anak-anak harus fokus pada soal.
Tidak terasa jam pulang akhirnya juga tiba. Luna mengemasi barang-barangnya. Tobi dan Rwma masih setia dan menatap Luna terus. Luna sampai merasa aneh sendiri.
"Ada apa sih sama kalian?" Tanya Luna pada Tobi dan Rena.
"Kamu yakin mau sendiri aja. Kalau bukunya nggak dikasih?" tanya Rena.
"Kalau nggak dikasih, ya aku nggak akan ngasih konsepnya."
"Apa perlu kita kawal, atau aku aja cukup. Bisalah otot bisep ini buat mukulin dia. Asal jangan diajak adu dance aja," sahut Tobi.
Luna tersenyum. *Makasih ya kalian baik banget deh! Tapi, beneran kayakny nggak perlu. Dia juga tahu kalau itu pengen melindungi aku. Coba aja ngelirik sama itu anak, dia denger lho apa yang kita bicarakan. Termasuk Tobi yang mau mukulin dia barusan kalau dia sampai macam-macam."
Daffa memang melihat sekilas-kilas sambil menyiapkan tasnya. "Otot bisepnya Spongebob mungkin!" Gerutu Daffa saat itu sambil tersenyum. Lalu bergegas memakai tasnya dan segera berjalan keluar jelas dan melewati sisi kosong dekat Tobi.
"Ih, dia bilang sponge, sponge apa. Kurang diajar dia. Udah jangan pegangi aku. Mau aku bikin sambal rica-rica itu anak!" Omel Tobi. Ia berdrama seakan dirinya sedang dihalangi oleh Rena dan Luna.
Kedua gadis itu menatap kesal-kesal sebal. Lantas, Luna dan Rena bangun dari bangku mereka dan asyik berbicara sendiri meninggalkan Tobi.
Tobi melihatnya dengan linglung. "Lho kalau kalian ada disitu, terus siapa yang pegangin aku."
Rena dan Luna hanya mengangkat kedua bahu mereka secara bersamaan. Lalu pergi meninggalkan Tobi begitu saja.
Tobi coba bergerak-gerak lagi. Tapi, memang sepertinya ada yang menahan dirinya untuk tidak bisa maju. Lalu ia pun memperhatikan ke bagian belakang tubuhnya. Ternyata baju seragamnya tersangkut di paku kursi yang sedikit muncul.
"Apa! Hahh … untung kecantol."
Rena dan Luna yang sudah lebih dulu keluar dari kelas. Akhirnya harus melakukan perpisahan kembali. Saat saling menatap satu sama lain, Luna menunjukkan ekspresi wajahnya yang tidak akan terjadi apa-apa dan berharap semuanya akan lancar.
"Aku harap, Daffa beneran bakalan ngembaliin buku kamu," ucap Rena.
"Pasti, kalau nggak dikembalikan. Aku akan rebut paksa buku itu," tambah Luna.
"Kamu yakin, emang bisa?"
"Harus bisa, tapi itu kan rencana kedua. Ya aku sih masih positif thinking kalau Daffa nggak bakalan bikin masalah."
"Semoga aja ya!" Lalu Rena melihat Tobi yang berjalan menghampiri dirinya dan Luna.
"Kok ditinggalin sih?" tanya Tobi.
"Siapa yang ninggalin kamu aja kebanyakan drama," balas Rena.
"Kalau begitu kita berdua pulang duluan ya!"
"Iya!" jawab Luna.
Setelah kedua temannya itu pulang, segera Luna mengirim pesan pada Mellya. Kalau dirinya akan sedikit terlambat karena masih harus di sekolah. Jadi, lebih baik Mellya pulang lebih dulu.
"Kirim!" ucap Luna sendiri. Lalu memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku baju. "Saatnya menemui Daffa. Awas aja kalo dia sampai nggak mau balikin buku aku. Nggak akan aku kasih ampun. Bakal aku kasih review jelek di kolom komentar channel dia! Akan aku tunjukkan sama dunia kalau dia itu cowoknya nyebelin." Rasanya nafas Luna jadi lebih cepat dari biasanya. Tampaknya Luna terlalu menghayati. Ia pun bergegas segera melangkah pergi menuju tempat bertemu dengan Daffa.
Sementara itu, barusan ada Mellya yang juga ingin pulang dan melihat kedua teman Luna sudah pergi. Heran saja menyaksikan itu, karena Luna bilang harus tinggal di sekolah dulu. Tapi, bersama dengan siapa. Sedangkan kedua temannya sudah tidak ada.