Akibat Mikirin Daffa

1144 Kata
Luna seperti menghitung irama jantungnya sendiri. Masih ditatap dengan begitu tajam oleh ibunya sendiri, dan membuat perasaan jadi semakin tidak tenang. Luna pun menghirup nafas dalam, ia kembali berpikir untuk menyusun kalimat. Bagaimana juga ia bisa melihat dan merasakan kalau ibunya memang sangat penasaran. “Masak kamu enggak ingat sih Sayang? Kalau kamu tadi sempat bilang, kamu akan stres berkepanjangan pas ...” Bu Mira mengingat kapan terjadi momen seperti itu. “Oh pas kamu balik dari dapur tadi, iya baru aja tadi. Jadi, tadi pas kamu ambil minuman di kulkas, ibu juga lagi ada di dapur, lagi ambilkan minuman hangat untuk papa kamu. Saat kamu balik dari kulkas dan mau jalan ke kamar. pas naik tangga, kamu bilang itu. kamu kaan stres berkepanjangan. Ibu nggak mau kamu jadi!” Bu Mira tidak melanjutkan kata-katanya. Luna paham apa yang dimaksud sang ibu. Patsi ibunya berpikir kalau dirinya akan gila. Hah! Pening di kepala jadis mekin pening. ‘Ini semua gara-gara Daffa,’ batin Luna. “Jadi, gimana? kamu udah ingat nggak kapan kamu bilang begitu? Luna, kamu cerita apa aja sama ibu, pasti ibu dengerin. Asal, kamu jangan sampai stres ya!” “Astaghfirullahaladzim ibu! Luna nggak akan stres Bu, yang Luna pikirkan juga cuma hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran dan sekolah.” “Kalau Mellya. Ibu lihat Mellya kurang perhatian dan sayang sama kamu!” Luna memandang lesu. Ternyata, ibunya bisa berpikir demikian. Ya, kalau boleh jujur, itu memang salah satu masalah saat ini. tapi, Luna sudah beradaptasi dengan itu sejak awal masuk ke dalam rumah ini. “Itu pasti cuma perasaan ibu saja. Mellya baik banget kok sama aku!” sambil tersenyum Luna berusaha kuat dan yakin untuk mengatakan itu. Luna lalu memegang tangan ibunya. “Bu, Luna baru ingat kalau tadi Luna emang sempet agak nggak fokus. Tapi, nggak papa. Cuma ada sedikit masalah sama pelajaran yang memang harusnya nggak Luna pelajari dulu. Tapi, Luna udah terlanjur penasaran sama pelajaran anak kelas dua belas. Jadi Luna coba cari tau, eh malah bikin Luna stres!” “Oh begitu, ya jangan dipaksa dong Sayang! Ibu nggak amua kamu kesulitan tau!’ “Iya Bu. Siap! Ini aja Luna udah mau tidur aja kok!” “Ya, kamu sampe belum tidur sampai jam segini! Bandel ih! Apa perlu ibu temani kamu tidur malam ini?” “Ih! Luna udah gede Bu. Lagian kan udah ada papa yang jadi bantal, guling sama selimut ibu sekarang!” Luna kemudian memeluk ibunya dengan penuh bahagia, juga rasa syukur. “Jadi, ibu tidur sini atau tidur sama papa?” “Ya tidur sama papa aja lah Bu, kok sama Luna sih!!!!” “Kalau begitu ibu tinggalin kamu ni?” “Iya Bu, aku nggak papa kok! Beneran, aku cuma kepikiran pelajaran aja!” “Ya udah kalau begitu kamu berbaring. Ibu selimutin kamu!” Luna pun menurut, ia pun berbaring dan dalam hitungan beberapa menit saja. Luna sudah terlihat begitu pulas. Bu Mira tersenyum senang melihatnya. Ia pun melakukan hal yang sama saat meninggalkan Pak Ferdi di kamarnya tadi. Beranjak dari tempat tidur dengan pelan-pelan, agar Luna tidak terbangun. Lalu menuju pintu kamar dan keluar dari kamar Luna. Menutup pintunya lagi dan berusaha untuk tidak memunculkan suara decitan sedikitpun. Luna yang memang memasang pendengaran tajam. Sudah tahu, kalau ibunya telah keluar. Perlahan dirinya mulai berusaha membuka kelopak mata. “Akhirnya!” Luna langsung bangun cepat dan membuka lagi meja kerjanya. “Semangat untuk malam ini, semoga besok aku nggak jadi panda!” Luna mengepalkan tangan agar bisa berusaha ekstra semangat. Bagaimana juga ia harus segera selesai. Supaya bisa bebas dari Daffa dan bayangannya. *** Luna masuk sekolah dengan mata yang dipenuhi lingkaran hitam. Ternyata begadang semalaman sudah berhasil membuat dirinya hadi panda versi manusia. Mellya melihat itu. Ia berjalan bersama dengan Luna, dan merasa seperti aib saja memiliki saudara tiri yang penampilannya tidak keren sama sekali. Karena kesal dan ingin mengomel lagi pada Luna, Mellya pun menghentikan langkahnya. Lalu menatap ke arah saudara tirinya dengan wajah penuh kekesalan. “Luna berhenti! Gue mau bicara sama lo!” “Ada apa sih Mellya? Aku mohon, kali ini aja! Aku capek banget!” “Capek! Lo kira gue nggak capek sodaraan sama lo, meski kita cuma sodara tiri! Tapi, elo itu beneran ngerepotin dan bikin malu aja! Lihat aja penampilan lo pagi ini. Udah mata item kayak vampir, rambut nggak disisir!” "Apa! Aku sisiran kok." “Mana, masih kayak rambut mak lampor juga." Luna hanya diam dan menghela nafas. "Makanya jangan begadang, biar mata elo bisa lihat dengan benar. Tidur tinggal molor aja, susah amat! Makanya kaca di kamar gedein. Udah kita jaga jarak aja. Jangan terlalu deket kita!" Mellya pun jalan lagi lebih dulu menuju kelas. Luna pasrah, diam sambil menatap punggung Mellya yang makin lama makin menjauh. "Ini semua gara-gara Daffa. Mataku juga jadi beneran kayak panda 'kan!" Luna menghela nafas lebih panjang lagi. Ia pun tidak lama setelahnya masuk serta ke dalam kelas. *** Kelas menjadi tempat paling favorit bagi Luna. Meski akhir-akhir ini kelasenajdinsuram iarean awan mwndiung dari Daffa. Ternyata sosok itu juga mampu menjadi mataharinya. Entah mengapa, semenjak selesai menelusuri jejak digital Daffa Anggara. Luna merasa seperti tidak bisa berhenti lepas begitu saja untuk tidak membayangkan senyum laki-laki itu. Ia bahkan sempat melamun, manakala guru sedang menerangkan dan menghadap ke arah murid. Membayangkan kalau guru itu adalah Daffa. Luna sampai syok dan mengedipkan mata secara terus-menerus. 'Hah, aku kira Daffa. Ternyata pak guru,' batin Luna. Rasanya hari dan pikirannya dalam sekejap jadi kacau balau, kalau sempat kemasukkan bayangan Daffa. Ia merasa fokusnya hilang begitu saja. "Luna! Udah waktunya jam istirahat nih, kita ke kantin yuk?" ajak Rena. Tapi, Luna seperti tidak merespon. Ia bahkan menatap lurus saja ke depan tanpa berkedip. Tobi yang sudah akan keluar kelas, sempat melihat ke arah Luna dan Rena. Karena luna tidak kunjung bergerak, dan membuat yang melihat juga ikut bingung. Tobi pun akhirnya berjalan mendekati. "Hiihhhh, idi ipi ini?" tanya Daffa. Rena menatap Daffa. "Mungkin ini yang namanya terlalu lelah." "Luna! Lunaaaaa, haruskah aku meniup saksofon buat menyadarkan kamu, kalau ini jam istirahat. Ayolah? Ini jamnya terus berjalan kalau jammya sampai habis dan kita nggak bisa istirahat gimana? Luna, Lunaaaa!" Panggil Tobi lalu ia pun menggebrak meja di depannya. Barulah saat itu, Luna sadar kalau dia sedang melamun. Akhirnya berhasil juga mengajak Luna ke kantin. Meski harus susah payah, karena Luna masih saja kelihatan bingung. Mereka bertiga akhirnya bisa juga ke meja yang selalu penuh makanan. Daffa memesankan bakso. Luna tetapi masih begitu saja. "Apa dia lagi kebanyakan duit, terus bingung cara ngabisinnya. 'kan kontennya kemarin boom banget!" Ucap Daffa. "Masak sih? Aku rasa nggak itu. Pasti ada alasan lain!" "Kenapa nggak ditanyain aja?" "Kamu aja, tanyain sambil gebrak meja. Biar Luna sadar." Tobi berpikir sejenak. "Gimana kalau kita bangunkan dengan bakso. Lalu kita interview dia? Penasaran seharian ini dari awal masuk sampai istirahat kerjaannya malah melamun aja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN