Rasa itu berkembang dan semakin menginginkan. Tidak perlu alasan. Tapi aksi untuk mencari jawaban.
Daffa sepanjang hari hanya bisa diam dan tidak banyak merespon omongan temannya. Ia merenung di dalam kelas sambil memperhatikan buku. Bahkan saat jam pelajaran yang kosong. Ia tidak bersemangat melakukan apa-apa. Setelah tugas dari guru selesai. Ia hanya memainkan alat tulisnya.
"Kenapa Bro?" Teman sebangku Daffa penasaran dengan kegabutan si artis kutub itu.
"Bosen!"
"Bikin onar aja."
"Lo kira gue anak begituan."
"Lagi fallingin love ya. Sama siapa?"
"Sok tahu!" Ketus Daffa sambil melirik. Tanpa sengaja ujung netranya malah menangkap sosok Luna yang sedang malas di bangku. Menumpuk kedua tangan dan tampak menidurkan kepalanya.
'Cantik!' begitulah batin Daffa. Seperti ada angin segar yang mendorong dirinya agar berusaha lagi melakukan pendekatan. Bersamaan dengan itu ia melihat Rena mengintip Luna seperti akan melakukan sesuatu.
"Lun! Anterin ke perpus dong. Pinjem buku!"
"Hemb. Males Ren, ngantuk!"
Tapi Rena tetap memaksa dan menyeret tangan Luna sekuat tenaga.
"Iyaya, sabar! Aku anterin."
"Nah gitu dong!"
Daffa melihat Luna dan Rena keluar dari dalam kelas. Tanpa ragu, ia pun segera mengikutinya.
"Kemana?" Tanya teman Daffa.
"Kamar mandi. Mau ikut?"
"Ogah!"
Luna dan Rena sampai duluan di perpustakaan. Mereka segera menuju rak buku yang sedang dicari bukunya.
"Mau pinjem apa sih?" Tanya Luna.
"Kamus?"
"Kamus apa? Bukannya kamu punya banyak di rumah?"
"Kamus Jepang. Punyaku nggak lengkap."
"Aku mau cari buku lain ya."
Sementara itu, Luna bergerak ke rak buku paling ujung. Tempat dimana ia bisa menemukan buku tentang sejarah-sejarah dunia. Ia suka saja membaca itu, apalagi berkaitan dengan tempat yang misterius.
Daffa mulai mendekat. Ia tidak peduli para siswi yang melihat ke arahnya dengan penuh perhatian sejak tadi. Sudah biasa sejak ia masuk ke sekolah Pelita. Maklum, pamornya sebagai artis kutub benar-benar sudah bukan rahasia. Semua penduduk Pelita tahu. Hanya saja Daffa berusaha bersikap biasa dan sewajarnya saja.
Lagi, Daffa berusaha mengulang momen dimana. Antara dirinya dan Luna bisa mengambil buku yang sama di waktu yang bersamaan.
"Apa! Lagi!" Luna menatap tangan yang hendak mengambil bukunya juga. Melihat siapa si pemilik tangan itu. "Daf! Daffa!"
"Wah, kamu lagi. Ya udah kali ini kamu aja yang pinjem duluan. Abis itu kasih ke aku. Aku juga mau pinjam."
"Sengaja ya? Buat apa?"
"Apanya?"
"Buku ini?" Luna jadi tidak berselera meminjam buku tersebut. Mau gimana lagi dirinya bukan tipe gadis yang mengidolakan Daffa. Jadi hatinya belum peka kalau Daffa ingin pendekatan dengan dirinya.
"Kenapa sama buku ini?"
Luna malah merasa gila kalau harus menyalahkan buku itu. Bagaimana bisa buku yang tidak bisa bicara malah jadi bahan untuk disudutkan. Nalarnya mulai menyuruh untuk kembali tenang.
"Ya udahlah, kamu aja yang pinjam. Aku udah nggak minat!" Diberikan begitu saja oleh Luna buku itu pada Daffa. Ia kemudian berlalu.
'Sejak ada dia, tiap mau baca apa. Mesti nggak jadi. Hah … ngeselin." Luna keluar perpustakaan sambil merasa kesal. Ia bahkan lupa kalau Rena masih ada di dalam sana.
Sampai jam pulang, Rena tidak berhenti memarahi Luna. Tega sekali meninggalkan dirinya tanpa bilang-bilang.
"Kalau udah bosan berteman sama aku. Ngomong, jangan biarkan aku nyari dan nunggu di perpus sampai jamuran." Rena tidak bisa meredam diri untuk tidak marah pada Luna. Ia tetap saja menyusun kalimat mengeluarkan kekesalannya.
"Nggak gitu Ren! Tadi itu soalnya …!" Luna mencoba memberikan penjelasan tapi gagal. Rena seakan tidak mau mendengar apa-apa lagi.
Saat berjalan bersama menuju pagar sekolah. Rena ingat sesuatu. Sepertinya ada yang tertinggal di meja di kelasnya. "Tuh kan, gara-gara kesel sama kamu. Buku yang aku pinjem tadi malah ketinggalan di kelas."
"Ya udah aku anterin buat ngambil," ucap Luna berbaik hati. Sengaja juga untuk membujuk Rena agar mau memaafkan dirinya yang sudah pergi meninggalkan Rena di perpustakaan tadi. Sampai-sampai temannya itu harus menunggu dan mencari cukup lama dan hal tersebut membuat hari Rena sangat melelahkan.
"Nggak usah dianterin. Aku bisa sendiri!" Ketus Rena.
Sedangkan di dalam kelas masih ada Daffa sedang memainkan ponselnya. Kebetulan Luna masuk dan melihat itu. Seketika di dalam hatinya jadi ingat sesuatu. 'Lho, bukannya tadi bilang hapenya rusak?' Luna memperhatikan dengan jelas sambil mengingat kejadian pagi tadi. Sewaktu Daffa bicara hapenya masuk konter.
Sementara itu, Rena masih gusar dan tidak ingin memperhatikan sekeliling. Ia terlanjur emosi pada Luna yang menurutnya tidak setia kawan. Lalu tanpa sengaja, Rena malah menghantamkan sikunya ke sandaran kursi. Alhasil dia pun kesakitan.
"Tuh kan, makanya jangan emosi sama aku. Gini kan jadinya. Coba aku lihat!" Luna berusaha melihat sikut Rena. Agak sedikit merah.
"Ih … kamu juga ngapain sih ninggalin aku gitu aja di perpustakaan tadi. Harusnya ngomonge dulu. Kasih tau aku dulu. Kan bisa."
Daffa kali ini malah memperhatikan pertengkaran kedua sahabat itu. Ia memperhatikan dengan seksama. Rasanya instingnya mengatakan kalau pertengkaran mereka berdua pasti ada kaitannya dengan kejadian di perpus tadi siang. Ia pun kembali melihat lagi ke arah Luna dan Rena. Sepertinya mereka berdua masih berlanjut untuk berdebat.
"Iya lain kali aku nggak akan lupa lagi. Tapi, please jangan cuek gini lah. Aku ini cuma berteman sama kamu."
"Ya kan bisa aja kamu udah Nemu teman yang mau diincar buat jadi teman baru. Kan sekarang kamu udah lemes sebagai anak orang kaya. Ya kalau bosen dan pengen ganti teman. Bilang aja. Jangan bikin aku kesel tiba-tiba."
"Nggak gitu Rena!"
"Oh …. Atau karena aku ganggu kamu tidur tadi. Terus kamu kesel dan dendam sama aku buat bikin aku merasakan kesel yang sama!" Rena tetap membuat kesimpulan sendiri. Ia bahkan sudah lupa kalau sikutnya tadi menabrak sandaran kursi dengan cukup keras dan masih menyisakan rasa sakit.
Luna merasa lelah karena belum bisa menjelaskan kalau dia pergi dari perpustakaan karena kesal pada Daffa. Sedangkan Daffa sebagai tersangka juga sedang ada dalam satu tempat bersamanya saat ini sambil memperhatikan. Langsung saja Luna memasang wajah sebal pada Daffa dengan sedikit mata menatap tajam. Seolah mengatakan, ini semua gara-gara kamu.
"Ren, kasih aku ngejelasin. Jadi, aku buru-buru pergi dari perpustakaan tadi gara-gara …!" Luna sudah ingin menjelaskan. Lalu tiba-tiba saja Daffa berdiri di sampingnya ikut membantu Luna bicara.
"Gara-gara aku Luna ninggalin kamu di perpus gitu aja. Jadi jangan silahkan Luna dulu ya!" Sela Daffa yang membuat Rena tidak percaya.