Apapun Itu Semuanya Gagal

1015 Kata
Pagi ini, keceriaan sekolah SMA Pelita sudah ada di depan mata Daffa Anggara yang sedang berjalan masuk. Ia akan segera saja menuju kelasnya, rasanya tidak sabar memulai hari di sekolah. Terlihat kelas sudah penuh. Daffa duduk di bangkunya seperti biasa. Ia akan sabar menunggu jam pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai. Setelah silih berganti guru masuk dan memberikan pelajaran. Tiba saatnya, bagi Daffa mendekati Luna. Ia sudah memutuskan untuk tidak perlu menunggu. Biarkan saja ada dua teman Luna yang tampaknya selalu ikuti Luna kemana saja. Ya, mungkin pertemanan mereka bertiga sedekat itu, sampai-sampai Daffa menilainya sudah seperti saudara saja. “Ya, kalau nunggu Luna sendirian, emang kelamaan. Kalau mereka berdua sadar kan harusnya mereka pergi pas aku mau bicara serius sama Luna,’ batin Daffa sambil membawa buku yang akan dikembalikan ke perpustakaan. Ia juga sedikit memperhatikan Tobi dan Rena. Mellya sendiri juga masih berada di dalam kelas. ia mengintai mangsa, siapa lagi kalau bukan Daffa. “Luna!” panggil Daffa. Ia sudah berdiri tepat di depan Luna yang masih duduk di kursinya. Luna kaget kenapa Daffa memanggilnya. “I-iya, ada apa?” “Ini buku yang mau kamu pinjam di perpus beberapa hari lalu. Aku udah selesai, mungkin kamu mau pinjam bukunya langsung.” Daffa memberikan buku tersebut. Rena dan Tobi seperti melihat drama tv, sepasang mata merak masing-masing tidak bisa berkedip melihat Daffa Anggara, si artis kutub yang memang keren, sedang memberikan buku perpustakaan. Mereka berdua tahu, itu seperti basa-basi yang ingin mengajak bicara Luna. Hanya saja Luna malah melihat kaku ke arah buku yang masih saja ada di tangan Daffa. “Lun! Bukunya itu lho!” Rena justru yang antusias. Mellya yang memang sudah seperti elang yang mengintai mangsa. Langsung saja menyambar buku yang dibawa Daffa. “Ah, si Luna kan udah ada bacaan lain di rumah, iya kan Lun! Jadi, buku ini aku pinjam dulu ya! Aku kan juga lagi cari buku ini. Ih … Daffa tau banget sih aku lagi butuh ini. Udah kayak takdir aja!” Daffa memasang wajah bingung. Maksudnya takdir?” “Ya takdir. Takdir antara aku, kamu dan buku ini!” Mellya berkata-kata seperti membaca puisi. Ingin muntah rasanya Tobi dan Rena yang mendengarnya. Sudah bertabuh nyeri telinga Rena, dan bibirnya seakan menyuruh untuk mengatakan sesuatu pada Mellya. Tapi, Mellya sudah terlalu kreatif untuk terus bisa mengajak bicara Daffa. “Daff! Nanti kalau buku ini udah selesai aku baca, aku kembaliin buku ini ke kamu lagi ya!” Mellya tersenyum manis bagai model lipstik yang pamer bibir. Dirinya berusaha menampakkan sisi cantik natural. Tobi seketika mendadak semakin mulas betulan. “Kenapa kesannya beneran pengen muntah, aku mual banget, nggak kuat kudu ke kamar mandi! Kalian berdua tungguin aja aku di kantin langsung!” Tobi kemudian pergi dengan cepat menghilang dari kelas. Luna dan Rena saling berbalas pandang. Memberi kode untuk kabur. Akan tetapi, belum sampai kabur, terdengar lagi Mellya mengeluarkan sejurus kalimat. “Eh Daff, aku minta nomernya aja kalau begitu, nanti kalau aku udah selesai baca, aku kabarin ke kamu ya!” Masih tersenyum penuh rayuan. ‘Untung Tobi udah pergi, bisa beneran muntah di tempat dia kalau sampai lihat dan denger ini! batin Rena, juga sama dengan Luna. Hatinya juga berkata demikian. Karena Tibi memang punya kelainan tidak bisa dirayu oleh wanita. “Aduh! hape gue lagi masuk bengkel!” jawab Daffa. “Apa bengkel, bukannya bengkel tempat benerin mobil.” Mellya tidak sadar makna kalimat Daffa. “Maksud gue itu, hapenya masuk ke bengkelnya hape, alias konter, kemarin abis jatuh dari balkon soalnya.” Mellya spontan menekuk wajah. Luna merasa ini saat yang tepat untuk kabur. “kalau begitu, kalian berdua lanjutin aja ngobrolnya, aku sama Rena mau ke kantin dulu ya, lapper!” Luna lekas menarik tangan Rena dan lari. Sudah keluar kelas dan menemukan tempat duduk yang cocok untuk mereka berdua. Luna pun segera mendaratkan diri untuk duduk di kursi. Terlihat Rena tertawa keras setelah itu. membuat Luna bertanya-tanya. “Ada apa Ren?” “Lucu nggak sih, pas lihat wajahnya Mellya gagal dapat nomor ponselnya Daffa, kasihan banget tau. Udah kelihatan kalau saudara tiri kamu itu suka sama Daffa. Tapi, Daffa kayaknya pengen kenal dekat sama kamu!” Luna menumpuk dua tangannya di atas meja untuk dijadikan bantal. “Ngaco! Mana mungkin Daffa pengen dekat sama aku. Lihat aja tampilanku kayak bungkusan nasi pecel karet kuning, kalau Mellya kan kayak bungkus pizza!” “Ihhh … perumpamaan macam apa itu, kalau Daffa sukanya sama traditional food, jelas dia lebih milih kamu lha Lun!” ucap rena kemudian tertawa lepas. Kemudian Tobi berlari dengan cepat melesat bagai roda mobil balap yang langsung berhenti di kursi dekat Luna. “Aku cariin ternyata udah nongki disini!” “Kamu jadi muntah?” tanya Rena. Tobi mengangguk. “Aku denger omongannya Mellya sama ingat wajahnya aja muntah sape dua liter.” “Ih jangan ngomongin itu napa, kita kan mau makan!” “Sorry, maafin Tobi Luna. Tobi terlalu syok akut denger saudara tiri Luna dramatis, narsis,” ucap Tobi ber-improvisasi. Akan tetapi, langsung disela oleh Rena. “Dan tragis!” Tobi bingung. “Kenapa harus tragis?” Luna yang paham dan terkonek dengan apa yang dikatakan Rena barusan langsung menatap Tobi. “Soalnya Mellya pengen minta nomer hapenya Daffa, tapi nggak dikasih. Tragis kan. Tragis lah!? “Ihhh … kok bisa?” Tobi penasaran. Ia pun langsung pasang mode menyimak pada cerita dua teman perempuannya. Rena antusias bercerita. Sedangkan Luna ikut mendengar dan sedikit menambahkan. *** Sementara itu, Mellya sedang kesal sekali karena misi mendapatkan nomor ponsel seorang Daffa Anggara ternyata gagal total. “Hahhhhhh ....!” Mellya pun berteriak di depan wastafel toilet perempuan. Teriakannya itu membuat sebagian siswi yang ada di sana seketika takut dan lansgung berhamburan keluar dari kamar mandi. “Aku harus bisa kenal dekat sama kamu Daff! Harus! Cuma kamu pria di dunia yang memiliki nilai yang pantas buat gandengan sama aku, Mellya!” ucap Mellya penuh percaya diri. Ia lalu membenarkan rambut hitamnya yang sudah dikibaskan karena emosi. Lalu menatap lagi wajahnya di cermin. "Nggak ada di dunia ini cowok yang bisa menolak aku. Aku yakin nggak ada!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN