Daffa Anggara, seorang content creator juga dancer profesional. Awalnya sekolah di Sydney, akan tetapi papanya memutuskan untuk balik ke kampung halaman dan melanjutkan usahanya disini, Indonesia. Usaha seperti beberapa restoran dan minimarket, juga ada peternakan yang dimiliki orang tuanya di kampung.
Nama Daffa sendiri sudah terkenal di dunia pervideoan sebelum Luna muncul sebagai penari bertopeng. Ada banyak subscribers dan memiliki banyak penggemar Daffa di channelnya.
Hingga content Luna lahir sebagai sosok baru dan langsung menggemparkan dunia maya. Secara tidak langsung karena sama-sama menggeluti bidang content video. Daffa menaruh perhatian khusus pada konten milik Luna.
Memiliki nilai seni tersendiri dan terlihat beda. Saat sosok Luna yang tersembunyi itu belum melakukan pergerakan, Luna yang berkedok tampak santai dan anggun. Namun, saat musik mulai terdengar, dan salah satu anggota badannya bergerak, saat itulah, aura luna sebagai dancer yang pro juga kreasi tarian yang unik membuat Daffa tergila-gila. Bukan hanya Daffa lebih tepatnya. Tapi, juga para penikmat dunia maya lainnya. Penasaran dan hanya bisa penasaran, setiap sesi video selesai, hanya meninggalkan jejak misteri, misteri identitas Luna yang masih tersembunyi.
Sehingga saat dirinya tahu kalau papanya akan pindah, ia berusaha keras mencari tahu terlebih dahulu identitas penari bertopeng. Meski belum tahu pasti, namun gosip yang beredar di kalangan netizen, penari bertopeng itu sekolah di SMA Pelita. Akhirnya Daffa memutuskan untuk meminta pindah sekolah saja kesana.
Satu tatapan mata Daffa yang tertuju sejak awal masuk, yaitu Luna. Ia menilai Luna itu beda, terlebih lagi saat makin sering dicermati dan dibandingkan dengan teman perempuan yang kebetulan satu kelas dengan Daffa. Entah ini insting atau memang takdir. Sering ada kesempatan bisa berempat mata dengan Luna, hanya saja semua berakhir hampa.
Semisal saja siang tadi, saat dirinya tidak mendatangkan meja di kantin. Lalu dengan terpaksa ia akhirnya meminta izin pada Luna untuk bisa satu meja dengannya. Karena hanya meja Luna yang tampak dihuni satu orang.
Sempat bercakap-cakap, tapi Luna hanya menjawab singkat. Hati Daffa sampai dongkol berlapis-lapis seperti lapisan bumi. Ia merasa diacuhkan atau memang pribadi Luna demikian. Atau mungkin karena memang belum segitu kenal.
Tidak hanya itu, pernah juga saat di perpustakaan. Beberapa hari lalu, Daffa secara tidak sengaja mengalami kejadian seperti dalam drama. Daffa kira itu hanya terjadi dalam novel romantis atau picisan. Atau serial kejar tayang bermansa anak muda. Tapi, ternyata bisa kejadian betulan dalam dunia nyata.
Dalam kejadian itu, Daffa mengambil sebuah buku yang juga diambil oleh Luna, mereka berdua tidak tahu hingga membuat tangan mereka saling bersentuhan dan kemudian berpandangan cukup lama.
Hati Daffa seperti tersengat listrik, ada tegangan tinggi yang membuat hatinya bergetar. Atau bisa jadi bibirnya juga ikut bergetar. Karena saat kedua matanya mulai menilai dan mulai menyusun kalimat dalam hati yang ingin merealisasikan dalam bentuk omongan. ‘Kamu Luna ‘kan! Kamu mau pinjam buku ini juga. Kalau begitu kamu duluan aja, nanti kalau udah selesai. Hubungi aja aku, aku mau pinjam. Atau kalau perlu simpen aja nomerku. Soalnya aku lumayan butuh buku itu buat nambah bacaan.’
Akan tetapi kata-kata itu tidak sampai keluar dan Daffa malah hanya diam bagai arca candi yang berkedip saja tidak dilakukan.
Luna juga saat itu sempat memandang sejenak dalam hitungan detik. Menatap wajah Daffa yang bersih sekali. Dengan gagap tapi berusaha sadar, bibirnya ternyata masih mampu mengatakan sesuatu. “Kamu mau pinjam buku ini ya, ya sudah kamu pinjam aja dulu. Aku bisa pinjam buku yang lain!” Luna kemudian berlalu begitu saja meninggalkan arca atau stupa atau apalah itu yang cocok buat keadaan Daffa yang mematung.
Kalau ingat itu, Daffa Anggara merasa jadi orang yang konyol. Ia marah pada dirinya sendiri, yang sepanjang hidup seperti tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi, sekali berjumpa dengan Luna dna bertatapan mata, sampai bersentuhan kulit. Ia malah jadi orang yang menurutnya oneng.
“Padahal itukan kesempatan emas, Daffa! gimana bisa sih, gue malah biarin gitu aja. kalau mama tau pasti bilang, ya ampun Dafff … mubadzir banget ada momen langka nggak dimanfaatin, kayak pas belanja lagi diskon gede tapi nggak ada duit.” Daffa malah ingat petuah mamanya yang sering jadi sarapan paginya saat satu meja bersama dengan mama dan papanya.
“Hah ... .” Daffa menghembuskan nafas panjang penuh sesal. Kini buku yang jadi rebutan dirinya dengan Luna sudah nangkring rapi diatas meja belajarnya, berjejer dengan laptop yang menyala. “Dafffa … Daffa!” saking kesal dan merasa penuh sesal. Daffa sampai gemas pada diri sendiri dan mengacak penuh frustasi rambut pendeknya.
“Luna kania Putri, dia kenapa pendiam banget sih kalau sama aku, emang dia nggak ada secuil pun rasa penasaran atau pengen deket gitu sama aku. Aku ‘kan secara nggak langsung, dan semua juga tahu, aku ini bisa dibilang artis kutub. Eh kok kutub sih! Ya anggap aja begitu!” Daffa masih bicara sendiri di depan layar laptopnya sambil menikmati penampilan gadis penari yang memakai kedok di wajah. Ia melihatnya dari awal sampai selesai.
“Perfect banget deh ini cewek, siapa sih sebenarnya kamu! Apa mungkin Luna, atau siapa? Jangan bikin aku penasaran dong baby!” keluh Daffa lagi dan masih saja sendiri. Ia merasa, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mencari tahu.
***
Pagi ini, Daffa sudah berada di meja makan bersama dengan mama dan papanya. Ada keramaian yang tercipta begitu hangat. Memberi kekuatan untuk menyambut hari yang mungkin akan selalu indah.
“Nanti kamu diantar mama aja ya, sekalian mama pengen mampir ke rumah tante Nilam!”
“Hemb …!” sahut Daffa singkat sambil melahap roti sandwichnya.
“Ih, pelit amat kalau ngomong sama mama!”
“Takut keselek!”
Papanya Daffa hanya tertawa. “Udah lah, kalian berdua cepet berangkat, ini sudah hampir jam setengah tujuh lho!”
“Daffa melihat jam di pergelangan tangan. “Iya, ayo Ma! Takut macet malah telat aku nanti!”
Daffa sudah berdiri lalu berjalan dan langkah kakinya hampir menyentuh pintu utama. Namun, ia ingat sesuatu. “Buku! Ya ampun ketinggalan di meja.” Langsung saja memutar tubuh seperti putaran setengah lingkaran.
Daffa lekas berlari menuju meja makan dan mengambil buku yang niatnya hari ini akan dikembalikan ke perpustakaan, tapi sebelum itu. Sebelum buku itu dikembalikan. Ia akan berusaha mencari momen untuk mengajak bicara Luna dengan alasan buku itu.
‘Hampir aja kamu ketinggalan, semoga hari ini hari keberuntunganku!’ batin Daffa yang sudah mendapatkan bukunya, dan tersenyum kecil pada papanya yang masih di meja makan. “Daffa berangkat ya Pa!”
“Iya, hati-hati. Jangan sampai ada yang ketinggalan lagi!”
“Iya!” tersenyum dan berlalu. Daffa segera menuju mobil.