Luna seperti orang gila, menatap Tobi dan Rena sambil tersenyum sendiri. "Kalian mau aku kasih tau sesuatu nggak?"
"Ipi?" Sahut Tobi.
Luna memberi kode tangan untuk bergerak lebih dekat padanya, seolah itu kabar penting. "Jadi, penari bertopeng itu … aku!"
"Hah! Yang bener aja Lun?" Tanya Rena dengan suara meninggi.
Tobi diam. Sejenak dirinya menatap Luna penuh penilaian. "Kamu itu Lun adalah teman terbaik kita. Jadi, please. Jangan bohong!"
Luna kesal kedua temannya tidak memberikan respect yang bagus. Ia pun mengeluarkan ponsel. "Nih akun video aku, coba untuk periksa. Jahat banget nuduh teman bohong. Kayak aku pernah bohong aja."
Tobi dengan cepat menyambar ponsel Luna. Mengaktifkan dan mengeceknya.
"Gimana Tob?" tanya Rena.
Tobi menatap kecewa awalnya. Tapi, itu pura-pura. Lalu, senyum mekar di bibirnya begitu mengejutkan.
"Ih …, nggak jelas banget!" Rena sambar saja ponsel milik Luna dan melihatnya sendiri. "Ya ampun Lun!"
Tobi memegang kuat bahu Luna. "Kita adakan pesta kecil-kecilan. Itu video kamu udah bisa diajukan monetisasi tau!"
Luna mengangguk.
Hidup memang harus berjalan indah. Kalaupun harus jatuh dan menemukan kerikil di jalan. Sudah pasti harus bangun dan menyingkirkan kerikil itu. Menganggapnya sebagai masalah yang harus segera diselesaikan.
Luna menyibakkan rambut panjangnya di depan cermin lemari baju kamarnya. Memandang diri sendiri. Menganggap diri mempesona. Ia sudah menemukan jalan. Jalan bahagia. Lalu menari di depan cermin sambil mengingat bagaimana populer dirinya di dunia Maya sebagai penari.
"Hah … akhirnya aku punya penghasilan sendiri." Luna memeluk dirinya merasa bahagia.
Namun, tiba-tiba, pintu kamar dibuka paksa. Luna yang mendengar dan tahu akan ada orang yang masuk. Buru-buru menutup layar laptop dan pura-pura tidak melakukan apapun. Ia memandang ke arah sosok yang, siapa lagi kalau bukan Mellya.
Mellya melempar dua buku, tepat di depan pangkuan Luna. "Seperti biasa ya."
Luna memegang dua buku dengan kesal tapi tetap wajahnya datar. "Kamu nggak pengen ngerjain sendiri?"
"Eh, jangan bicara gitu lagi ya. Lagian buat diri lo berguna napa? Biar nggak terkesan mau hidup enak secara instan."
"Tapi aku akan saudara kamu Mell!"
"Sodara ketemu gede. Yang kecilnya nggak pernah bareng dan, masalahnya aku nggak mau punya sodara." Mellya lalu memutar tubuh angkuh. Berjalan menuju pintu untuk langsung keluar kamar, karena tidak mau berlama-lama disana.
Pintu tertutup keras. Luna sedikit berjingkat karena kaget. "Sabar ya Lun. Abis ini, lulus SMA. Kita cari kampus yang jauh dari sini. Tapi, duit asli ngonline ditabung ya. Buat simpenan nanti kuliah. Biar nggak serumah sama badak bercula lima."
Luna bangun dan membuka laptopnya lagi. Ia sebenarnya sudah beradaptasi soal Mellya yang suka menyuruhnya mengerjakan ini dan itu. Mengganggunya saat sendiri, dan selalu berkata-kata yang membuat kesal hati. Luna tabah dan menghadapi sekuat tenaga.
***
Semester pertama sudah terlewati, dnq terbukti nilai Luna didominasi angka yang tinggi. Senyum semangat, wajah ceria terpampang nyata. Minimal hal yang dirinya usahakan sendiri memang jauh lebih baik dari Mellya.
"Gila kamu Lun kece badai. Belum apa-apa udah masuk tiga besar aja." Rena menyeruput es jeruknya.
"Ya, aku emang fokus banget buat belajar. Secara udah nggak mikirin cuan lagi. Paling bebanku cuma Mellya."
"Dia masih sering ganggu kamu?" Tobi ikut bertanya.
"Masih!" Luna mengangguk.
Bel masuk berbunyi, sebenarnya saat ini di kelas sedang ada acara class meeting. Jadi sebagiannya murid merasa bebas melakukan kegiatan diluar kelas.
"Eh, dengar-dengar ada anak baru ya?" tanya Reni yang dengar kabar-kabar.
"Masak ada murid baru pas pergantian semester gini?" Tobi menatap Rena.
"Ya kan denger-denger. Makanya kita masuk aja dulu. Kali aja yang denger-denger, itu beneran!"
"Udah ah! Kita masuk yuk. Tugas tambahan buat melengkapi nilai yang kurang masih kudu dikumpulin juga."
"Eh iya! Lupa!"
Ketiga siswi SMA itu akhirnya segera masuk kelas, dan mengikuti jam pelajaran pertama yang mungkin hanya berisi ucapan Guru memberikan penilaian akhir semester.
Duduk di bangku masing-masing. Luna merasa ada pandangan mata mengarah pada dirinya. Ya, Mellya pasti. Karena tugas semalam belum juga diberikan pada Mellya.
"Nih!" Luna memberikan dua buku.
"Gitu dong, jangan bikin aku panas dingin lihat kamu lama banget balikin buku aku."
'Dih! Ngomong begitu kayak aku aja yang pinjem!"
Setelah semua murid duduk di bangku masing-masing. Seorang guru masuk. Guru mata pelajaran dan tidak lama ada guru wali kelas.
"Wah, ada apa ini?"
Murid-murid ramai penasaran karena wali kelas mereka datang pagi ini. Lalu tidak lama kemudian masuklah seorang siswa rupawan. Isi kelas seketika ribut akut bagai pasar dadakan yang penuh orang berdesakan.
"Ginting gila!"
"Kayak pernah liat!"
"Anak yukuber nggak sih."
"Dia kok kayak artis sih!"
Luna berdiam saja di bangku. Memang kalau diperhatikan, seperti pernah lihat. Tapi, dimana, kapan pas apa? Luna tidak tahu. Hingga saat wali kelas sudah menyuruh untuk siswa baru itu memperkenalkan diri. Baru Luna ingat si pemilik suara tersebut.
'Di-dia! Ya ampun, Tuhannya Ya Allah, ini beneran cowok di laptop yang sering aku tonton kan. Eh, kok di laptop. Emang dia manusia digital,' batin Lina ingat siapa murid laki-laki itu.
Sementara sorak sorai keributan dari anak-anak begitu mendominasi sehingga kelas terdengar ramai sekali.
Wali kelas merasa percuma anak baru itu memperkenalkan diri. Suaranya seperti tidak bisa didengar. "Kalian bisa diam nggak sih? Rame banget! Ya ampun …!"
Wali kelas yang suaranya begitu lantang menggema di kelas dan seketika membuat kelas hening meski penuh manusia.
"Nah gitu!" Wali kelas menatap seluruh isi kelas yang sudah jinak. "Sekarang silahkan memperkenalkan diri lagi buat murid baru!" Menatap si murid baru.
Si murid baru kemudian tersenyum pada wali murid yang begitu baik menurutnya. Ia pun lekas menatap lagi para murid di kelas yang akan jadi teman barunya setelah ini.
"Assalamualaikum!"
Kompak isi kelas menjawab salam dari cowok manis imut, ganteng dan tinggi bagai model karpet merah. Menebar senyum pada teman sekelas dan mengangguk kecil.
"Perkenalan, nama saya …!"
***
Murid baru ganteng benar-benar memikat hati para murid kelas Luna. Teruntuk lagi para murid perempuan juga khususnya lagi Mellya. Saudara tiri Luna itu seperti begitu terpikat pada Sosok murid baru yang pada akhirnya ketahuan siapa sebenarnya sosok tersebut.
Mellya ingin mengajak berkenalan, memperhatikan dari bangkunya si sosok murid baru tersebut. Tapi, Mellya melihat keganjilan. Tampaknya Murid baru itu sekilas seperti memperhatikan Luna.
"Apa! nggak salah. nggak bener ini, awas aja kalau Luna berai cari perhatian sama murid baru itu.