Bangun Dan Meraihnya

1000 Kata
Karena di antara awan gelap itu pasti ada secerca sinar mentari. Ada harapan dan ada mimpi di antara kemelut hati. Siapa yang tidak merasa senang, tinggal di rumah besar, bagus, mengagumkan, penuh fasilitas dan mewah. Menikmati segala kenikmatan dunia yang bagai mimpi bagi Luna adalah hal yang masih sulit dipercaya. Senyum-senyum sendiri, tingkat kebahagiaan Luna bertambah sekian persen. Ia merasa surga dunia ada dalam genggaman. Menjatuhkan diri di atas kasur empuk. Lalu kedua tangan mulai membuka box kecil berisi ponsel dari pak Ferdi. "Ih, inikan hape yang ada di sponsor." Luna bangun dan semangat melihat ponsel baru. Memandangnya seakan itu cinta pertama. "Ah … hape baru, hape baru!" Terlalu senang sampai-sampai, Luna seperti mengajak menari ponsel itu. "Langsung aja ces. Besok bisa dibawa sekolah." *** "Tau, gitu dari awal ketemu, udah aku restui aja ibu nikah sama Om Ferdi. Gila, barang yang dikasih ke aku. Topcer abis. Bikin guling seneng," ucap Luna antusias. "Senengnya sampe merangkak nggak. Kalau belum merangkak di bawah kolong tempat tidur. Senengnya belum yang sampe level toxic." Tobi menyela. Rena dan Luna langsung menatap ke arah Tobi. Tatapan yang menohok. Aura sekeliling jadi tidak enak. "Kamu kira, Luna itu psiko. Atau kamu pengen punya teman psiko." Luna tak kalah sadis. "Sini, kalau mau aku merangkak di bawah kolong tempat tidur. Kamu jadi demit dulu." Luna mengangkat kedua tangan mengarahkan ke leher Tobi yang cukup bisa untuk dicekik. "Eh, Luna, jangan macam-macam. Nggak ada aku. Kamu bakal cuma punya temen satu lho di dunia ini." Luna memainkan raut wajahnya. "Ah, masak!" "Iya!" Tobi bangun dan hendak lari. Tapi, apesnya Tobi. Dirinya malah emnabaray Mellya yang sedang berjalan dengan membawa tumpukan buku. Tumpukan buku-buku itu akhirnya terjatuh. Tercecer di atas lantai. Sangat menyebalkan bagi Mellya yang sudah susah payah membawa buku itu untuk bisa dibacanya di dalam kelas. "Tobiiiiiii …!" teriak Mellya sambil memasang wajah murka pada Tobi. "Cepet ambil buku-buku itu, dan rapikan. Terus taruh di atas mejaku." "I-iya!" jawab Tobi kaget. Ia langsung memunguti buku-buku itu dan membawanya segera ke atas meja Mellya. Mellya yang sedang berjalan menuju ke mejanya. Kemudian menoleh ke arah Luna. "Elo salah sama temen lo ini, dan itu, sama aja ngerepotin." Rena memasang wajah tidak terima. "Idih … nggak ada yang mau repotin situ. Buang-buang waktu banget!" Mellya tidak peduli dan dengan gusar dan sombong berjalan berliku-likuk ke arah mejanya. "Kampungan," gumam Rena tapi tidak sampai kedengaran Mellya. Sampai akhirnya, jam istirahat tiba. Rena masih saja mengingat bagaimana kelakuan Mellya saat akan masuk kelas tadi. "Gila tau dia. Apa dia juga bakal gila gitu kalau di rumah?" Tanya Rena. Luna mengangguk. Ia kemudian meneguk minum es tehnya yang sudah siap di atas meja kantin. "Lebih parah malahan." "Kok kamu betah sih lun. Kamu juga nggak pernah cerita sama aku?" Tanya Rena lebih jauh. "Aslinya sih nggak betah, tapi kalau ingat-ingat papa Ferd yangi baik banget sama aku. Jadi, lupa jahatnya Mellya kalau sama aku kayak apa." "Ih …, kamu ih, menganggap masalah sesimpel itu." Sebenarnya Luna tidak menganggapnya sesimpel dan sesederhana itu. Masalah yang dihadapi antara dirinya dengan Mellya. Sudah pasti akan berkembang sampai mereka tumbuh menjadi wanita dewasa. Luna memikirkannya dan ingat. Hanya saja sampai detik ini dia tidak tahu harus berbuat apa. *** Pulang ke rumah dan lagi-lagi bersama dengan Mellya. Ia langsung menerima serangan satu sisi yang tidak disangka. Saat akan naik tangga, bahu Mellya menabrak tubuhnya. Alhasil, Luna jatuh dan mengenai anak tangga. Lututnya memar, dan ada perasaan kaget yang rasanya menghantui. "Upik abu, jangan harap bisa naik kelas ya." Mellya mengatakan itu sambil naik ke lantai atas. Tanpa melihat Luna yang bagai meratapi nasib. Dengan perasaan kesal dan emosi. Luna menutup pintu kamar dan menguncinya. Membanting tas dan jatuh di tempat tidur. Sesaat memejamkan mata. "Mana bisa tidur kalau lagi emosi gini." Luna melirik laptop yang siap pakai. Sudah ia letakkan di atas meja belajar. Luna mulai bangun dan menyentuh laptop itu. "Bisa dipakai nggak sih?" Hingga dalam hitungan menit, laptop menyala. Asyiknya lagi sudah terkoneksi ada sambungan WiFi rumah. "Ih asyik nih!" Mulai melihat kanal video. Luna memutuskan untuk bernostalgia dengan dirinya saat di sekolah lama. Ia melihat video miliknya yang kalau dilihat. Memang sangat tidak menarik. "Apa-apaan ini, kenapa aku joget udah kayak cacing kepanasan. Asal nih aku yang bikin video. Pantes nggak ada yang lihat." Luna tergerak menari lagi. Ia lupa lututnya yang terluka. Ia menari sampai lelah dan akhirnya jatuh ke lantai Peluh memenuhi kening, senyum ala pemeran jahat terlukis di bibir. Ia merasa bisa melupakan Mellya dan tingkah konyolnya yang kanak-kanak. Menyebalkan dan buat makan hati. *** Setelah memikirkannya selama tujuh hari tujuh malam. Luna akhirnya memutuskan untuk menggeluti dunia pervideoan lagi. Memutuskan untuk tetap menjadikan dirinya sebagai artis utama. Dan tetap sebagai penari, untuk kali ini dia akan lebih berkonsep dan memikirkan bagaimana kualitas video yang akan ia buat. Ada banyak perlengkapan pembuatab video yang bisa ia miliki sendiri dan itu membuat dirinya semakin semangat. Ia belajar beberapa buku untuk membuat video yang menarik. Kedua temannya merasakan keanehan itu selama berhari-hari. Karena Luna sangat mengurangi interaksi dengan Rena juga Tobi. Hingga waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Dengan susah payah akhirnya Luna berhasil membuat sebuah video yang menarik. Dengan menggunakan konsep penari bertopeng, juga menari dengan memakai gerakan yang lebih energik hits dan kekinian. Sedikit-sedikit alay menurut Luna tapi itu adalah nilai dalam seni tari masa kini. Luna kira itu tidak akan masalah. *** Berita mengenai video tarian di mana penarinya menggunakan topeng. Dalam waktu singkat sudah tersebar di seluruh antar kelas sekolah SMA pelita. Hampir semua siswa membicarakannya dan menjadikan topik hangat. Tidak terkecuali bagi Rena juga Tobi. Mereka berdua ingin sekali Luna membuat video seperti itu. menarik dan sangat estetik. Sayang sekali video lama Luna tidak laku seperti video yang satu ini. "Jadi menurut kalian video penari yang pakai topeng itu sangat bagus ya?" tanya Luna untuk awal pembicaraannya mengenai video tersebut. Rena dan Tobi sepakat untuk mengangguk secara bersamaan. Luna tersenyum kecil. Membuat kedua temannya merasa bingung kenapa Luna memasang wajah seperti itu. "Kamu kenapa Lun?" tanya Rena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN