Putus Asa Atau Bangkit

1225 Kata
“Tapi, Mell! Ini ‘kan pr kamu, kenapa aku yang ngerjain, ini tugas sekolah kamu lho!” Luna menatap buku yang dilempar ke arah mejanya tanpa mau bersedia untuk menyentuh benda tersebut. “Eh! Lo disini numpang, kalau aku mau, aku bisa usir kamu dari sini! Paham!” Melotot Mellya menatap Luna. “Tapi, Mell!” “Nggak usah tapi-tapian bawel banget sih! Tinggal ngerjain pr aja, cuma sebiji. Lagian elo kan hidup enak disini, mana dibeliin Daffy laptop segala. udah untung dapat kamar bagus, sekolah elite. masak cuma ngerjain pr aku sebiji aja nggak mau. Nggak tau balas budi banget” “Bukannya nggak tau balas budi, tapi ini kan tugas dari guru buat kamu!” Masih mendengar Luna membantah, Mellya pun segera mengacak-acak isi meja belajar Luna dengan kedua tangannya. Membuatnya berantakan dan sebagian bahkan jatuh ke lantai. “Mell, apa yang udah kamu lakuin.” Luna tidak mengira meja belajarnya akan jadi sekacau ini. Menatap semuanya dengan tidak percaya. Lalu memandang ke arah Mellya. “Berantakin meja lo,” jawan Mellya dengan sangat santai. “Kalau lo tetep nggak mau ngerjain pr gue, yang gue berantakan nggak cuma meja elo aja, tapi hidup lo juga!” Senyum Mellya tersungging di salah satu sudut bibir. Menunjukkan sisi jahat Mellya yang tampaknya selama ini tersembunyi dengan begitu apik. “Udah ya, aku tinggal. Bye, good night!” Mellya membalikkan tubuh dan melambaikan telapak tangan dengan arah yang berlawanan ke arah Luna. Luna melihat pintu kamarnya sudah tertutup lagi. Ia lalu melihat jam di dinding kamar. Akan begitu larut kalau dan melelahkan kalau harus mengerjakan pr milik Mellya juga. “Duh …! Hidup gini amat sih!” keluh Luna. Dengan terpaksa ia pun memunguti buku yang jatuh dan membereskan sisa lainnya yang juga berantakan. Duduk lagi di kursi. Ia memegang kening dengan kedua tangan. Mengingat nawang yang dulu mengganggu hidupnya, lalu sekarang saudara tirinya. “Kayaknya di dunia ini memang selalu ada orang jahat!” Esok hari yang cerah alami. Matahari sebagai pusat tata surya terlihat begitu silau, dan terasa terik meski masih pagi. Luna Kania Putri sudah berada di sekolahnya, sedang berjalan malas ke arah kelas. Ia merasa kondisi tubuhnya sangat baik, tapi tidak dengan hatinya, sangat kurang baik. “Eh Lun! Kenapa?” sapa Rena saat dirinya sudah sampai di kelas. Wajah Luna masih seperti jemuran belum kering, lusuh dan kusut. “Woy!” Tobi ternyata baru muncul dan langsung membuat meja para ledies itu bergerak saat dia langsung duduk begitu saja. “Eh, Lun, belum disetrika ya?” Luna melihat baju seragamnya. “Udah kok!” “Bukan seragamnya, tapi muka kamu!” sahut Tobi. Tapi kondisi yang ada malah seperti tanah kuburan, hening dan hanya terdengar Rena saja yang tertawa seperti mak lampir, mungkin. “Eh idi ipi?” tanya Tobi yang kumat bahasa merkuriusnya. Rena mengangkat kedua bahu tanda dirinya juga tidak tahu. Namun, tidak lama setelah itu, muncul Mellya dengan geng sosialitanya. Gadis yang merupakan saudara tiri Luna itu berjalan mendekat ke meja Luna, lalu menengadahkan tangan menatap Luna. Luna tanpa berkata-kata, hanya bahasa tubuh dan wajah yang bicara. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, dan memberikannya pada Mellya dengan malas. Mellya tersenyum sambil menerimanya. Ia kemudian berjalan girang ke arah temannya yang sudah menunggu. “Wah, beneran dijadiin upik abu nih!” “Kasihan, salah sendiri hidup numpang.” kedua teman Mellya, Nadia dan Prita bagai netizen yang mengomentari status seseorang, mereka berdua juga tidak lepas pandangan dari Luna yang tampaknya memang tidak mampu melawan perintah dari Mellya. “Lun maksudnya apa?” Rena akhirnya mulai menemukan titik terang, setelah melihat dan mengamati itu semua. “Itu buku pr nya Mellya?” Luna kali ini mengangguk. “Astaga Luna!!!! Kamu kok mau sih ngerjain tugas pr dia!” “Terus gimana dong? Kenyataannya aku emang numpang hidup enak kan sama dia!” “Kosepnya nggak gitu Luna, dia itu saudara tiri kamu, daddy-nya dia menikah sama ibu kamu.” *** Beberapa hari berlalu, sejak Mellya berani menyuruh Luna mengerjakan tugas sekolah. Semakin lama, semakin merambah ke yang lain. bahkan menyiapkan buku sekolah untuk jadwal besok, dirinya juga diperintah. “Kamu yang sekolah, kenapa aku yang ngerjain semuanya.” Luna mengeluh dan merasa hidupnya tidak pernah bisa beruntung. Semakin hari, beban terasa begitu berat. Luna hampir tidak percaya kalau dirinya harus bertekuk lutut pada setiap omongan Mellya. Untuk bercerita pada ibunya juga ragu. Ia tidak mau menghancurkan kebahagiaan ibunya yang sudah bertahun-tahun hidup menjadi janda. Akhirnya tugas malam ini juga selesai. Luna menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur dengan begitu malas dan penuh rasa lelah. Ia mengangkat satu tangannya ke langit-langit kamar, membayangkan dirinya menggapai bintang. Lalu ada angin bertiup dari arah pintu yang menghubungkan dengan balkon kamarnya. tampaknya pintu tersebut belum tertutup dengan sempurna. Masih ada celah untuk angin malam menyapa masuk ke dalam kamarnya. Luna pun terpaksa bangun, menuju pintu tersebut. Akan tetapi, bukannya menutup pintu tersebut. Dirinya malah berjalan terus ke arah balkon dan membiarkan dirinya berada disana untuk beberapa saat. Angin semakin dingin menabrak permulaan kulit Luna. Ia biarkan saja dulu seperti itu, menganggap angin itu adalah temannya malam ini. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Masak iya sih selamanya aku mau ditindas sama Mellya.” Luna bicara sendiri. Untuk beberapa saat dibiarkan hatinya merasa sepi. Lalu masuk lagi ke dalam kamar, dan usai menutup pintu balkon, dia melihat sebuah paper bag berukuran besar yang disandarkan ebiet saja di dinding dekat lemari yang ada di kamarnya. Letaknya ada di sudut, sehingga Luna hampir lupa kalau punya benda itu. “Itukan!" Luna bergerak ke arah paper bag itu berada. "Aku kok lupa kalau papa udah belikan aku benda itu.” Semangat Luna kembali muncul, ia kemudian membuka paper bag berisi laptop dan segera menchargernya. mungkin baru besok bisa digunakan. “Ya, mau gimana lagi. Anggap aja memang itu bayaran yang kudu aku bayar untuk bisa menikmati semua ini.” Luna berusaha menghibur hatinya. Ia berharap saja walaupun mungkin esok meski ada hal pahit yang harus dilalui, tetap harus berharap ada yang manis. Seperti kopi yang meski pahit mendominasi tetap masih bisa dinikmati. *** Pagi ini, Luna seperti biasa, dirinya diantar pak Ferdi, juga saat pulang sekolah. Pak Ferdi kembali menjemputnya. “Makasih ya Pa, Papa tiap hari antar jemput Luna, baik banget,” ucap Luna. “Nggak apa, kan kebetulan appa juga algi senggang kalau siang. kalau nggak banyak kerjaan papa akan jemput antar kalian berdua.” Mellya yang sudah lebih dulu turun dari mobil mendengar samar-samar omongan Luna yang membuatnya sakit hati. Hanya berusaha mencari perhatian sama daddynya saja. Ia malas, dan mengabaikan saja masuk ke dalam rumah dengan segera. Luna juga sudah akan masuk. Tapi, pak Ferdi memanggil namanya lagi. “Luna tunggu, papa punya sesuatu buat kamu!” “Iya pa!” “Ini!” Pak Ferdi mengambilkan sesuatu di kursi sampingnya. “Ini kamu pakai ya, ganti hape kamu yang lama itu dengan hape ini.” Luna menerimanya dengan ragu. “Apa! Tapi aku kan nggak minta Pa!” “Nggak papa terima aja, ini keluaran terbaru yang kameranya canggih banget, ya kata spg hp nya gitu, papa sih nggak paham, papa cuma sesuaikan aja selera kamu sama Mellya. Dia biasanya juga beli hape kayak gini, yang kameranya canggih.” “Kalau gitu, Luna terima ya Pa, makasih banyak!” “Iya Sayang, Papa seneng kalau kamu seneng!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN