Gangguan

1129 Kata
Sabar karena hidup itu tentunya harus berjalan. Di dalam kamarnya, Mellya merasa dipenuhi amarah yang menggunung. Ia sudah dapat laptop baru, tapi ada yang masih membuat hatinya resah. Cemburu itu masih membelenggu hatinya. Andai anak satu-satunya di rumah itu hanya dirinya saja. Pasti tidak akan seperti ini kisah yang dialami. ‘Daddy kan tetap memanjakan kamu kok Sayang. Cuma Luna juga perlu disayang, tapi nggak akan mengurangi kasih sayang daddy sama kamu!’ Teringat perkataan Pak Ferdi saat dirinya akan masuk kamar tadi. “Daddy boong, daddy udah nggak sepenuhnya sayang sama Mellya. Kelihatan kok. Lihat aja nanti Luna, lo nggak akan gue biarin dapatkan semuanya. Cukup mami lo aja yang bisa jadi ratu disini!” *** Ternyata kekesalan Mellya masih terasa sampai hari esoknya. Di sekolah, Mellya tidak tahan melihat sebagian besar guru berhasil dipikat Luna. Saudara angkatnya itu benar-benar cari perhatian. “Lo bisa nggak sih sehari aja nggak bikin onar!” ucap Mellya saat kelas sudah kosong. Hanya ada dirinya dengan Luna. Ia menggebrak bangku yang dipakai oleh Luna. “Siapa yang bikin onar?” Mellya malas beraku kamu. “Ya elo lah!” “Apa!” “Jangan sok cakep atau pemes ya, mentang-mentang udah jadi anak donatur sekolah ini. Tetap aja habitat asal lo nggak disini.” Menarik dagu Luna dan melepasnya dengan sedikit kasar. Ia lalu pergi meninggalkan Luna yang mematung dan terlihat syok. ‘Barusan itu apa, pembullyan kah! Atau, perhatian dari Mellya?’ batin Luna bertanya. Ia pun merapikan buku dan bermaksud menuju kantin. Hatinya berdebar setelah itu. Perasaan Mellya semakin tidak nyaman. Setiap berpapasan dengan Mellya. Ia merasa ada keganjalan. Tatapan mata Mellya, raut wajahnya. Tampak sama sekali tidak bersahabat. Luna berusaha melupakan. Tapi, ini sulit. Gambaran kondisi dirinya di sekolah lama seakan seperti muncul menghantui. “Lun! Kamu kenapa?” tanya Rena. Ia melihat teman baiknya sedikit aneh. Luna hanya menggelengkan kepala. “Aku nggak papa kok!” “Tapi, kamu kelihatan lesu. Kalau sakit, mending aku anterin ke UKS. Kamu bisa istirahat disana.” “Nggak perlu Ren! Aku nggak papa, lagian kan ini udah jam masuk!” “Ya udah, tapi kalau ada apa-apa. Bilang ya!” “Iya!” Guru siang itu akhirnya datang dan masuk ke dalam kelas. Luna pun membuka buku tulisnya untuk bersiap mencatat. Siapa sangka di lembaran pertama buku tersebut. dirinya malah membaca tulisan ancaman dari Mellya. “Awas lo, jangan sok caper lagi sama guru. Jangan sok kaya juga, hidup enak hasil numpang orang aja, apa yang perlu dipamerin. Jangan bilang daddy juga kalau gue gangguin lo. Awas aja ya, bakal lebih jahat gue sama lo!” Luna membaca tulisan tersebut, dengan kerongkongan yang tiba-tiba kering tandus. Ia merasa tercekak dengan kalimat dari Mellya. Nyatanya saudara tiri tetaplah jadi saudara tiri yang bisa jahat padanya. “Sabar Lun! Minimal sekolah ini lebih baik, daripada sekolah lama,’ batin Luna menguatkan. Pulang sekolah, seperti biasa. Luna bersama dengan Mellya berdiri berjejer menunggu kedatangan mobil pak Ferdi. “Kayaknya Daddy nggak jemput deh!” ucap Mellya. Ia lalu melihat ponsel, barangkali ada pesan dan benar siang ini daddynya tidak bisa datang menjemput. “Luna! Lagi nunggu dijemput ya, kalau gitu aku anterin aja pulang, gimana?” tanya Farrel. Teman sekelas Luna yang kebetulan melihat Luna dan Mellya sudah menunggu cukup lama. “Eh iya, mending lo balik aja sama Farrel. Gue mau balik sama Prita. mau main dulu juga!” ucap Mellya. “Apa!” Luna tidak mau pulang dengan Farrel. Selian masih asing dengan teman laki-lakinya itu. Ia juga belum terbiasa jalan sama cowok. “Kenapa? Kamu nggak mau balik pulang aku yang anterin,” sahut Farrel menilai cara pandang Luna yang tampaknya ingin menolak. Kebetulan ada Rena dan Tobi, melihat Luna dengan Farrel berdekatan. Ditambah lagi tampang Mellya yang seperti sedang mencari keributan. Kedua teman Luna itu pun akhirnya memutuskan berjalan menghampiri mereka. “Kamu nggak ada yang jemput Lun! Kalau begitu biar kita aja yang nganterin pulang!” ucap Rena. Luna melihat Rena datang tepat waktu. “Iya, aku balik sma Rena aja.” Luna mendekati Rena langsung. “Terserahlah, yang penting jangan balik sama gue!” sahut Mellya yang antara kesal dan tidak peduli terhadap Luna. Kali ini Farrel yang ditinggal sendiri, menatap Luna yang ternyata lebih memilih Rena dan Tobi. “Sial! Doi nggak ngelirik gue sama sekali.” Farrel bicara sendiri sambil memperhatikan Luna masuk ke dalam mobil Tobi. Di dalam mobil Tobi, Luna berusaha bernafas lega. “Nggak tau kenapa, kok aku punya felling nggak enak sama Farrel!” “Yee! Farrel itu playboy Lun! Jangan mau dideketin sama dia!” “Binir bingit!” sahut Tobi. “Hah! Ya syukur deh, ada kalian berdua bikin aku nggak jadi pulang sama dia!” sahut Luna merasa lega. “Kalau giti, kiti mikin yik!” ajak Tobi. “Kamu yang traktir?” tanya Rena. “Yes! Ying mini iji!” “Ok! Kamu ikut kan Lun?” “Iya ikut!” Ya anggap saja angin lalu tentang omongan Mellya tadi di sekolah. Lagipula disini lebih baik karena ada Tobi dan Rena. Inikan yang Luna mau untuk hidup yang lebih baik dan manusiawi. Mesi ada yang membuat sakit hati, tapi ada juga yang membuat sakit itu terobati. Luna sudah bisa tersenyum lagi saat bersama Rena dan Tobi. Sementara itu, kebersamaan sekelompok anak Abg di sebuah kafe. “Mungkin Luna itu temenan sama Tobi dan Rena sebelum sekolah Pelita, iya, bisa aja ‘kan!” ucap Prita, teman Mellya yang jalan siang ini bersama dengan Nadia juga. “Bisa jadi begitu sih!” sahut Nadia. “Hahhh … yang bener aja, levelnya upik abu, selamanya dia akan jadi uik abu. Meski punya teman diatas levelnya, tetep aja rendahan. Lihat aja nanti biar aku jadikan upik abu kalau di rumah si Lunlun itu.” “Emang bisa?” Nadia ragu temannya bsa merealisasikan omongannya barusan. “Oh tentu bisa, apa sih yang nggak bisa dilakukan sama Mellya.” Nadia hanya meneguk jus apelnya, begitu juga dengan Prita. “Iya, asal lo ingat kalau ada daddy lo di rumah, nggak akan sebebas itu jadikan Lunlun upik abu!” ucap Prita. “Eh tapi ini, udah sore, kita balik yuk!” “Ayo, minuman gue juga udah habis!” *** Malam yang sempurna untuk belajar, Luna perlahan memulai untuk membuka bukunya. “Ada pr kayaknya,” ucap Luna sendiri dan sedang berusaha mengerjakan pr nya. Tidak disangka pintu kamarnya tiba-tiba terbuka keras dan masuk Mellya ke dalam kamarnya. Gadis itu kemudian melempar buku di meja belajar Luna. “Kerjain juga pr punya gue. Yang bener, awas aja kalau nilai lo lebih tinggi!" "Tapi Mell! Inikan pr kamu? Kok aku yang ngerjain sih!" "Jadi, elo nggak mau! Kalau elo nggak mau gue jadi anak nakal yang nyusahin daday sma mami lo itu, Kerjain pr gue sekarang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN