Bab 1. Digerebek Warga
"Suara apa tadi, Pak? Kenapa mobilnya jadi oleng?" Kirana panik setelah mendengar suara letusan dan laju mobil jadi berubah.
"Sepertinya ban mobil ini pecah," jawab Sena dengan tenang meskipun raut wajahnya tampak tegang.
"Terus bagaimana, Pak? Kenapa tidak berhenti saja?" Gadis berusia 22 tahun itu jadi semakin panik.
"Bisa tidak kamu diam! Aku harus konsentrasi mengendalikan mobil ini!" tukas Sena sambil menahan emosi. Dia butuh konsentrasi dan ketenangan agar bisa mengendalikan laju mobil yang berubah karena bannya pecah. Kalau panik dan mengerem mendadak justru akan fatal.
Kirana langsung kicep begitu Sena menaikkan nada suaranya. Dosen yang juga menjabat sebagai dekan itu memang terkenal tegas, bahkan ada yang menjulukinya dosen killer karena tidak pernah menoleransi mahasiswa yang tidak disiplin di kelasnya. Selama satu tahun menjadi asisten dosen Sena, dia tidak pernah mendengar pria itu berteriak padanya. Baru kali ini.
Gadis itu memutuskan diam dan terus berdoa dalam hati agar mereka selamat. Dia berusaha percaya pada pria yang sedang memegang kemudi di sampingnya.
Setelah beberapa saat, Sena akhirnya bisa mengendalikan dan menghentikan mobil di pinggir jalan. Dia melepas sabuk pengaman, lalu ke luar dari kendaraannya. Melihat kondisi ban yang pecah.
Pria itu menggeleng berkali-kali karena menyadari kecerobohannya. Dia tahu ada jadwal kunjungan ke lokasi KKN, tapi Sena lupa kalau kondisi jalanan menuju lokasi masih belum beraspal dan banyak bebatuan. Harusnya dia memakai mobil yang aman untuk dikendarai di medan seperti itu. Kesalahan lainnya, Sena tidak mengecek kondisi ban sebelum berangkat.
"Bagaimana, Pak?" Sena menoleh saat mendengar Kirana bertanya padanya.
"Kamu lihat sendiri 'kan kondisi bannya. Itu harus diganti agar kita bisa pulang," jawab Sena.
"Ada ban cadangannya 'kan, Pak?" Kirana kembali bertanya.
"Semoga saja." Sena kemudian membuka bagasi belakang mobil. Dia membalik karpet bagasi lalu membuka penutup yang ada di sana. "Ada ban cadangannya," ucapnya kemudian.
"Alhamdulillah." Kirana menghela napas lega. "Pak Sena, bisa 'kan mengganti ban?" Gadis itu kemudian menatap sang dosen.
Sena memegang tengkuknya sambil meringis. "Aku belum pernah melakukannya. Aku akan telepon bengkel." Dia kemudian masuk ke mobil untuk mengambil gawai.
"Sial!" umpatnya setelah melihat tak ada sinyal di sana.
"Kenapa, Pak?" Kirana kembali bertanya.
"Ponselku tidak ada sinyal. Bagaimana punyamu?" Sena bertanya balik.
Kirana pun menggeleng. "Sama, Pak. Aduh bagaimana ini? Mana mendung, sudah mau Magrib," keluhnya.
Sena melipat lengan kemeja sampai ke siku. Dia kembali membuka bagasi belakang. Mengambil peralatan lalu meletakkannya di samping ban yang pecah.
“Pak Sena, mau ngapain?” tanya Kirana.
“Aku mau coba ganti ban sendiri. Atau kamu mau kita bermalam di sini?” Sena memandang asistennya itu.
“Ja—jangan, Pak. Nanti ibu saya khawatir kalau saya tidak pulang. Tapi, Pak Sena yakin bisa ‘kan?” Siapa pun pasti akan meragukan kemampuan Sena yang sama sekali belum pernah mengganti ban mobil.
“Semoga saja bisa.” Sena sendiri tak merasa yakin, tapi dia bukan orang yang mudah menyerah. Saat ada orang yang meremehkan, Sena justru akan memberikan kemampuan terbaiknya.
“Sekarang lebih baik kamu menyalakan lampu hazard. Duduk di mobil, terus berdoa biar kita bisa secepatnya pulang daripada malah membuatku kesal!” perintah Sena.
“Baik, Pak. Tapi gimana caranya menyalakan lampu hazard?” Wajar ‘kan kalau Kirana tidak tahu? Dia tidak bisa menyetir dan tidak punya mobil.
Sena mendengkus. “Kamu masuk ke mobil. Cari tombol warna merah yang ada gambar segitiga di dashboard. Terus tekan tombol itu!” jelasnya.
Kirana pun melakukan seperti apa yang diperintahkan Sena. Setelah itu dia duduk di kursi samping supir agar tidak membuat sang dosen marah. Melantunkan doa dan zikir untuk meminta perlindungan dan keselamatan sambil menunggu Sena.
Tanpa diduga, tiba-tiba hujan lebat. Sena terpaksa masuk ke mobil agar tidak kehujanan. Sebagian kemejanya sudah basah. Untung saja dia memakai dalaman kaos oblong, jadi tidak akan kedinginan karena melepas kemeja.
“Kenapa kemejanya dilepas, Pak?” Mendadak Kirana ketakukan karena mereka hanya berdua di dalam mobil.
“Kamu ga lihat kemejaku basah? Memangnya kamu pikir aku mau ngapain? Hilangkan pikiran kotormu itu!” Sena menyentil kening asdosnya itu.
“Aduh! Sakit, Pak,” keluh Kirana sambil mengelus keningnya yang disentil
Sena membuka sedikit keempat jendela mobil dan mengunci semua pintu. Setelah itu mengatur kursinya agar lebih nyaman untuk tiduran. Pria itu lalu memejamkan mata.
“Pak, kenapa pintunya dikunci dan malah tidur?” Kirana tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya. Bagaimana tidak khawatir? Mereka hanya berdua di tempat yang sepi itu. Di tengah hujan deras. Apalagi hari semakin gelap.
Sena membuka mata lalu menoleh pada gadis yang usianya 13 tahun di bawahnya itu. “Memangnya kamu punya ide kegiatan yang bisa kita lakukan sambil menunggu hujan reda?”
Kirana menggeleng karena dia pun tidak bisa berpikir dengan jernih.
Sena tersenyum mengejek. “Ya sudah, aku mau tidur. Terserah kamu mau ngapain!” Dia kembali memejamkan mata.
Karena Kirana bingung mau melakukan apa, gadis itu memutuskan mengikuti apa yang dilakukan sang dosen. Dia mengatur kursinya lebih rendah. Merebahkan diri lalu memejamkan mata sambil terus berzikir dalam hati.
Sena sontak membuka mata saat mendengar kaca mobilnya diketuk dari luar. Malam yang gelap, sepi, dan dingin membuat situasi jadi mencekam. Apalagi mereka ada di tengah jalan yang kanan kirinya penuh pepohonan.
Sena mengambil kunci roda yang tadi dia bawa masuk. Berjaga-jaga kalau yang mengetuk kaca mobil adalah orang yang punya niat jahat. Perlahan dia turunkan kaca mobil di sisinya sampai sebatas mata. “Maaf, ada apa ya, Pak?” tanyanya kemudian.
“Kenapa berhenti di sini, Mas?” tanya orang yang mengetuk kaca mobil tanpa menjawab pertanyaan Sena.
“Ban saya pecah, Pak. Tadi pas ganti ban hujan deras. Jadi saya neduh dulu,” jelas Sena. “Kalau tidak percaya, silakan lihat ban belakang yang sebelah kanan, Pak,” imbuhnya.
Mendengar suara ribut-ribut, Kirana pun bangun. “Ada apa ini, Pak?” tanyanya dengan raut wajah bingung.
“Kamu tenang saja. Sepertinya mereka warga sekitar. Mereka tanya kenapa kita berhenti di sini,” jelas Sena dengan tenang.
“Ternyata berduaan sama cewek di dalam mobil,” lontar salah seorang warga yang menyoroti kaca depan mobil dengan senter hingga bisa melihat sosok Kirana.
“Wah, enggak benar ini. Kalian pasti berbuat tidak senonoh di tempat sepi begini,” tuduh warga lainnya.
“Pak, dia itu mahasiswa sekaligus asisten saya. Tadi kami baru mengunjungi tempat KKN. Waktu perjalanan pulang tiba-tiba ban pecah, lalu kami berhenti di sini. Demi Allah, kami tidak melakukan apa pun,” jelas Sena.
“Jangan bawa-bawa nama Allah, Mas!” teriak yang lain.
“Sebaiknya Mas dan Mbak ke luar dari mobil. Ikut kami ke rumah Pak Kadus. Nanti silakan dijelaskan di sana sebelum warga terpancing emosi dan malah melakukan tindakan anarki,” pinta warga yang tadi mengetuk kaca.
Mau tidak mau Sena menurut. Dia meminta Kirana tetap tenang. Mereka nanti tinggal menjelaskan duduk permasalahannya, setelah itu bisa pulang. Begitulah cara Sena menenangkan Kirana, meskipun gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
Sena dan Kirana pun mengikuti para warga setelah mengunci pintu mobil. Mereka menyusuri jalan tanah yang becek karena hujan. Kirana refleks memegang lengan Sena karena takut. Awalnya Sena mau menepis, tapi melihat raut wajah Kirana yang ketakutan membuatnya tidak tega. Bagaimanapun saat ini Kirana berada dalam tanggung jawabnya karena dia yang mengajak asistennya itu pergi.
Setelah berjalan selama 10 menit, mereka akhirnya tiba di rumah yang ada pendoponya. Di sana ternyata sudah banyak warga yang berkumpul. Seorang warga kemudian berbicara dengan pria paruh baya yang duduk di depan para warga. Sesudah itu Sena dan Kirana diminta duduk di samping pria tersebut.
“Menurut laporan warga saya, Mas dan Mbak ini berhenti di tengah jalan yang sepi. Apa bisa dijelaskan apa yang terjadi?” tanya pria yang menjabat sebagai kepala dusun itu.
Sena kemudian memperkenalkan dirinya dan Kirana. Setelah itu dia menceritakan kronologi kejadian dari ban pecah, sampai akhirnya digerebek warga.
“Itu hanya alasan saja, pasti mereka tadi berbuat m***m. Mana mungkin pria dan wanita berduaan di tempat sepi tanpa melakukan apa-apa,” teriak seorang warga.
“Iya, benar. Sudah banyak kejadian seperti itu,” sahut warga lainnya.
Suasana menjadi riuh karena warga bicara bersahut-sahutan sampai Pak Kadus menghentikan mereka.
“Mas dan Mbak, dengar sendiri ‘kan kalau warga tidak percaya? Karena memang sudah beberapa kali kejadian. Banyak yang berbuat tidak senonoh di sana dengan berbagai alasan. Kalau sudah begini hanya ada satu cara agar warga tetap tenang dan kalian bisa pulang dengan selamat,” tutur Pak Kadus.
Sontak Sena dan Kirana saling menoleh begitu mendengar ada harapan bagi mereka.
“Bagaimana caranya, Pak?” tanya Sena penuh antusias.
“Mas dan Mbak harus menikah saat ini juga,” jawab Pak Kadus.
“Apa? Menikah?”