Sena dan Kirana menyalami Laras yang sedang memberi instruksi pada seseorang untuk mengatur letak kursi dan meja untuk tamu.
“Mau ada acara apa kok pasang tenda segala, Bun?” tanya Sena.
“Bunda ngundang tetangga, teman pengajian sama anak-anak panti,” jawab Laras.
“Oh Bunda dapat giliran pengajian?” tanya Sena lagi.
Laras menggeleng. “Bukan. Bunda mau memberi tahu mereka kalau kamu sudah nikah sama Kiran biar yang punya anak gadis enggak pada minta kenalan sama kamu lagi. Sekalian minta doa agar pernikahan kalian langgeng dan bahagia,” jelasnya.
Wanita paruh baya itu lalu beralih pada menantunya. “Kiran, kamu sudah mandi atau belum?”
“Alhamdulillah sudah tadi di rumah Ibu. Kenapa, Bun? Apa saya bau?” Kirana seketika menoleh ke samping kanan dan kiri sambil mengangkat bahu untuk mencium bau tubuhnya.
Laras kembali menggeleng. “Kamu ga bau kok. Cantik dan wangi malah,” ucapnya sambil mengerling pada Sena. Ingin tahu bagaimana reaksi putra tunggalnya itu yang tampak selalu datar.
“Kalau salat Magrib sudah belum?” Laras kembali bertanya pada Kirana.
“Belum, Bun. Ini baru mau salat,” jawab Kirana.
“Nanti setelah salat Magrib ke kamar tamu ya. Bunda udah nyiapin gamis sama MUA buat merias kamu,” titah Laras.
Kirana mengangguk. “Iya, Bun. Kalau begitu saya dan Mas Sena ke kamar dulu,” pamitnya.
Sena dan Kirana lalu naik ke lantai atas. Barang-barang milik Kirana sudah ada di kamar, tadi dibawakan oleh sopir keluarga.
“Kita mau salat sendiri atau berjemaah, Mas?” tanya Kirana setelah mereka masuk ke kamar.
“Berjemaah saja karena pahalanya lebih banyak. Tunggu sebentar, aku mandi dulu.” Sena melepas jam tangan, ikat pinggang, sepatu, dan kaos kaki sebelum masuk ke kamar mandi.
Kirana gegas menyiapkan pakaian untuk Sena yang diletakkan di atas tempat tidur. Dia lalu menata pakaian yang tadi dibawa dari rumah Utami di dalam lemari. Sambil menunggu Sena ke luar dari kamar mandi, Kirana menggelar dua sajadah untuk mereka.
“Pak Sena, ganti bajunya di sini saja. Saya mau pakai kamar mandinya,” ucap Kirana sambil menunduk setelah suaminya ke luar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang terlilit di pinggang. Saking groginya dia sampai memanggil Pak Sena lagi.
Belum sempat Sena menjawab, Kirana sudah masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Membuat pria itu menggeleng dan tersenyum sendiri melihat tingkah laku sang istri. Dia lalu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Kirana.
Begitu Kirana ke luar dari kamar mandi, Sena sudah duduk di atas sajadah. Gadis itu gegas mengenakan mukena lalu berdiri di belakang Sena. Mereka pun salat berjemaah untuk ketiga kalinya hari ini. Kirana kembali mencium tangan suaminya setelah salat. Namun, Sena tak sempat mencium kening istrinya karena gadis itu langsung menjauh begitu mendengar ketukan di pintu.
“Mbak Kiran, sudah ditunggu Ibu di kamar tamu.” Suara Mbok Jum kemudian terdengar.
Kirana gegas membuka pintu kamar. “Saya turun sebentar lagi, Mbok. Ini baru selesai salat,” jelasnya.
“Iya, Mbak.” Setelah mengatakannya Mbok Jum pergi dari depan kamar Sena.
Kirana pun melepas mukena lalu merapikan peralatan salatnya. “Mas, saya ke bawah dulu ya,” pamitnya. Tanpa menunggu tanggapan Sena, gadis itu ke luar dari kamar.
Sena menghela napas panjang begitu Kirana meninggalkannya sendiri. Dia berdiri, melipat sajadah lalu meletakkannya di atas sajadah Kirana. Setelah itu turun ke lantai bawah masih dengan mengenakan baju koko dan sarung.
“Sena, tadi kamu apain Kiran kok lama banget turunnya?” Sena terperanjat begitu mendengar sang bunda menuduhnya melakukan sesuatu pada pada istrinya.
“Demi Allah, aku ga ngapa-ngapain Kirana, Bun. Tadi kami salat Magrib berjemaah. Baru selesai salat, Mbok Jum terus ngetuk pintu,” terang Sena.
“Masa cuma salat saja. Hampir setengah jam loh kalian di kamar.” Laras tidak percaya begitu saja dengan penjelasan putranya.
“Tadi aku mandi dulu sebelum salat, Bun, makanya lama. Kalau Bunda tidak percaya tanya saja sama Kirana.” Sena sudah kehabisan akal untuk menjelaskan pada bundanya. Bisa-bisanya Laras menaruh curiga padanya. Lagian kalau dia mau melakukan apa-apa sama Kirana ‘kan sudah halal. Lalu apa masalahnya?
Tunggu! Kenapa dia jadi berpikir melakukan apa-apa dengan Kirana? Mereka ‘kan tidak benar-benar menganggap pernikahan itu serius. Bukan mereka sih, lebih tepatnya Sena yang menganggap pernikahan mereka hanya sandiwara. Seharusnya dia tidak memikirkan hal itu ‘kan? Berulang kali Sena menggeleng, menepis pemikiran yang muncul di kepalanya.
“Sena, kenapa kamu geleng-geleng kepala?” Suara Laras berhasil membuat Sena kembali ke alam nyata.
“Ah, leherku pegal, Bun. Banyak kerjaan hari ini,” ucap Sena sambil memegang tengkuk dan mengoyangkan kepala ke kiri dan kanan. Tentu saja dia bohong, karena bukan itu alasan sebenarnya.
Satu jam kemudian, Kirana selesai dirias. Dia sudah mengenakan gamis dan hijab yang tadi disiapkan oleh Laras. Gadis itu tampak semakin cantik dan anggun dalam balutan busana muslim berwarna hijau muda dan hijab berwarna senada.
“Masya Allah cantiknya menantuku,” puji Laras saat Kirana ke luar dari kamar tamu.
Sontak Sena menoleh ke arah istrinya. Benar apa yang dikatakan oleh sang bunda kalau Kirana semakin tampak cantik. Diam-diam dia pun mengagumi kecantikan gadis yang sudah dinikahinya itu.
“Sena, buruan ganti baju sana! Jangan memandang Kiran terus! Keburu tamu-tamu datang nanti,” titah Laras yang membuat Sena mengalihkan pandangan pada bundanya.
“Baju apa, Bun?” tanya Sena dengan alis bertaut.
“Baju yang kembar sama Kiran. Bajunya ada di kamar tamu,” jawab Laras.
“Iya, Bun.” Sena pun beranjak ke kamar tamu. Di sana ada satu setel kurta atau baju koko yang modelnya seperti pakaian tradisional Pakistan. Warna setelan itu senada dengan gamis yang dipakai Kirana.
Pukul 7.30 malam, para tamu mulai berdatangan. Hadi, Laras, Sena, dan Kirana menyambut kedatangan mereka semua. Pada kesempatan itu, Laras sekalian mengenalkan menantunya pada para tetangga dan teman-teman pengajiannya. Mereka semua memuji kecantikan Kirana.
Pukul 8.00 malam, acara dimulai. Sena dan Kirana disandingkan di hadapan para tamu seperti pengantin pada umumnya. Mau tidak mau mereka terus tersenyum dan bersikap mesra. Sena bahkan menggenggam tangan istrinya sepanjang acara. Entah kenapa rasanya sangat nyaman dan dia enggan melepaskan.
Pukul 9.30 malam, seluruh tamu sudah pulang. Pihak katering dan persewaan tenda kursi mulai membereskan peralatan mereka.
“Sena, Kiran, makan dulu. Kalian belum makan malam ‘kan?” titah Laras.
“Ya, Bun.” Sena pun mengajak istrinya ke ruang makan di mana pihak katering sudah menyiapkan hidangan untuk keluarga dan para pekerjanya.
Kirana melayani suaminya terlebih dahulu sebelum mengambil makan untuk dirinya sendiri.
“Kenapa makanmu sedikit? Kamu tidak suka makanannya?” tanya Sena begitu melihat porsi makan istrinya.
Kirana menggeleng. “Sudah malam, Mas. Kalau kekenyangan nanti saya jadi susah tidur,” jelasnya.
“Dulu waktu bunda baru menikah jarang tidur cepat. Jadi sering bergadang. Makanya terus lahir Sena,” lontar Laras yang membuat Kirana langsung menelan saliva. Untung saja gadis itu tidak sampai tersedak.
“Kalian ini pengantin baru loh. Masa ga mau lembur buat ngasih kami cucu,” cetus Laras. Kali ini Sena yang tersedak begitu mendengar ucapan sang bunda. Bagaimana bisa Laras mengatakannya dengan begitu gamblang?
Kirana langsung mengangsurkan gelas begitu Sena berhenti batuk. “Minum dulu, Mas,” ucapnya.
“Makasih, Na.” Sena menerima gelas dari Kirana lalu menenggak airnya hingga tinggal setengah gelas.
“Menurut bunda, kalian harus bulan madu. Tidak usah lama-lama empat hari sampai seminggu gitu. Pergi ke Bali atau ke mana yang dekat. Kalau kalian tidak sempat mengurus, nanti bunda yang urus semuanya. Kalian tinggal berangkat,” ujar Laras.
“Bun, kerjaanku tuh lagi banyak. Kirana juga lagi ngerjain skripsi. Kami ga bisa libur lama. Paling weekend aja liburnya.” Sena mengutarakan alasannya agar bisa menolak usulan bulan madu yang dilontarkan sang bunda.
Laras menghela napas panjang. “Ya kalau cuma weekend ambil aja yang dekat. Ada resor bagus di Gunung Kidul, Parangtritis, dan Borobudur untuk bulan madu. Kalian maunya di mana? Apa tiga-tiganya saja? Jadi tiap weekend kalian bulan madu. Gimana?” Wanita paruh baya itu memandang anak dan menantunya dengan penuh antusias.