Sena sontak meringis setelah mendengar suara dan mendapat jeweran dari sang bunda. Dalam hati dia menyesal kenapa tidak melihat siapa yang masuk ke ruang kerjanya sebelum berbicara. Kali ini pria itu tidak akan bisa mengelak dari amukan sang ibu suri.
“Aduh! Sakit telingaku, Bun,” protesnya karena Laras tidak hanya menjewer tapi juga memilin telinganya.
“Sakitmu itu tidak seberapa dibandingkan sakit hatinya bunda mendengar apa yang kamu katakan tadi! Bunda saja sakit mendengar apalagi Kiran. Kamu itu bisa tidak memperlakukan istrimu dengan baik! Lepas saja itu jabatan dekanmu kalau cuma karena kerjaan sampai berkata kasar seperti itu! Bunda tidak pernah mengajari kamu tidak menghargai wanita, apalagi istrimu!”
Seperti yang sudah Sena duga, Laras akan memberinya ceramah yang panjang.
“Jangan kamu samakan Kiran sama Ratih, mantanmu yang tukang selingkuh itu! Kiran itu gadis baik-baik, pintar, dan lugu. Harusnya kamu bersyukur bisa menikah sama dia. Bukan malah memperlakukannya dengan buruk! Sekali lagi bunda mendengar kamu berkata seperti itu, bunda tidak akan menganggapmu anak lagi!” ancam Laras.
Sena merinding mendengar ancaman bundanya. Meskipun sudah dewasa dan bisa hidup mandiri, tapi dia tidak bisa kalau didiamkan Laras. Pernah suatu hari Sena melanggar larangan sang bunda, alhasil dia mengalami kecelakaan walau tidak parah. Sejak itu Sena tidak mau membantah bundanya lagi. Kalau dipecat jadi anak, akan jadi apa hidupnya. Padahal dia bisa menjadi dekan di usia muda selain karena kemampuannya juga karena doa restu kedua orang tua. Sena percaya, kesuksesan yang dia raih karena doa orang tua terutama sang bunda.
“Iya, Bun. Aku minta maaf dan janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong lepaskan telingaku dulu. Sakit banget, Bun.” Pria bercambang itu memohon pada bundanya dengan wajah memelas.
Laras kemudian melepaskan telinga Sena yang tampak merah. Namun, bukan berarti kemarahannya sudah reda. “Satu lagi, jangan suruh Kiran tidur di sofa! Tempat tidur di kamarmu itu besar, bagaimana bisa kamu tega menyuruh istrimu tidur di sofa?”
“Tunggu, Bun. Kirana tidur di sofa?” Sena terkejut sampai menghentikan kegiatannya mengelus telinganya yang sakit.
Laras mengangguk. “Iya. Pasti kamu ‘kan yang suruh!” Wanita paruh baya itu menatap tajam putranya.
“Demi Allah, aku tidak pernah menyuruh Kirana tidur di sofa, Bun. Setelah sampai rumah, aku ajak Kirana ke kamar, habis itu aku ngerjain laporan di sini sampai sekarang. Aku tidak tahu kalau dia tidur di sofa. Mungkin saja dia ketiduran di sana,” jelas Sena yang tidak mau disalahkan karena dia memang tidak merasa salah.
Laras memicingkan mata. Tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan Sena. “Nanti sofa itu akan bunda buang, kalau perlu bunda ganti tempat tidurnya jadi yang kecil biar kalian tidurnya sambil berpelukan,” lontarnya.
Sena sontak membelalakkan mata. “Tidak masalah kalau sofanya mau bunda singkirkan, tapi tolong jangan diganti tempat tidurnya, Bun. Aku tidak bisa tidur nanti kalau desak-desakan sama Kirana,” pintanya.
“Justru malah bagus ‘kan pengantin baru tidurnya desak-desakan jadi bisa terus berpelukan. Bunda juga ingin segera menimang cucu. Punya istri cantik dan baik seperti itu jangan cuma dianggurin, Sena. Ingat! Umurmu sudah 35 tahun, harus secepatnya punya anak. Jangan sampai kamu tidak kuat gendong anak karena umurmu sudah tua.” Emosi Laras jadi luruh karena gemas pada Sena. Dia malah beralih menggoda putra semata wayangnya itu.
“Bunda, aku sama Kirana itu terpaksa nikahnya. Tolong beri waktu kami untuk saling adaptasi dan mengenal. Meskipun aku sudah lama kenal Kirana, tapi selama ini hubungan kami sebatas dosen dan mahasiswa selain hubungan profesional karena dia jadi asdosku.” Sena coba memberi pengertian pada sang bunda.
“Makanya kamu jangan tutup hatimu, Sena. Lupakan Ratih! Jangan anggap semua wanita sama seperti dia! Kamu lihat bunda ‘kan? Jangankan selingkuh, punya niat selingkuh pun tidak pernah. Kiran bukan Ratih. Selama dia jadi asdosmu, apa dia pernah macam-macam? Bunda rasa tidak pernah.” Laras menatap Sena dengan intens.
“Dari yang bunda dengar dari ibunya, Kiran itu tidak pernah sekali pun membawa pria ke rumah atau punya pacar. Sejak bapaknya meninggal, sepulang sekolah dia membantu ibunya. Entah dengan bantu membuat pesanan, mengajar les, atau bekerja part time. Kiran itu tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, selalu keluarga yang jadi prioritas utama. Bunda yakin kamu lebih tahu sifat Kiran seperti apa. Jadi bunda mohon, jangan sia-siakan wanita sebaik Kiran. Jangan sampai kamu menyesal saat Kiran meninggalkanmu karena sikapmu itu,” tandas Laras.
“Sekarang pindahkan istrimu dari sofa ke tempat tidur!” titah Laras.
“Aku selesaikan laporan ini dulu sebentar, Bun. Setelah itu aku akan membangunkan Kirana,” jawab Sena.
“Laporanmu masih bisa menunggu, Sena! Lakukan sekarang! Bunda mau lihat kamu memindahkan Kiran,” tegas Laras yang jelas tidak mau dibantah.
“Iya, Bun.” Sena menyimpan failnya sebelum bangkit dari kursi lalu beranjak ke kamarnya bersama Laras.
“Jangan bangunkan Kiran, kamu harus gendong dia. Percuma punya badan bagus dan tegap begitu kalau tidak kuat menggendong istrimu,” sindir Laras saat Sena hendak membangunkan Kirana.
Sena menghela napas panjang sebelum mengambil posisi untuk membopong Kirana. Dia menundukkan punggung, lalu menempatkan lengan kanan di belakang leher dan lengan kiri di belakang lutut istrinya. Selanjutnya mengangkat tubuh gadis yang terlihat sangat nyenyak itu. Bahkan Kirana tidak bangun meskipun tubuhnya berpindah tempat.
“Ringan sekali tubuhnya. Apa dia tidak pernah makan selama ini?” batin Sena saat membopong istrinya.
Dengan hati-hati Sena merebahkan Kirana di tempat yang sudah disiapkan bundanya. Sesudah itu menyelimuti tubuh sang istri sampi sebatas d**a. Ada rasa berdesir di hati saat memandang wajah polos yang sedang terlelap itu.
“Ternyata dia sangat cantik meskipun tanpa make up. Apa dia akan semakin cantik kalau hijabnya dibuka?” batinnya. Sena lekas menggeleng. Menepis pemikiran yang muncul di kepalanya.
“Kenapa? Istrimu cantik ‘kan saat tidur begitu. Apalagi kalau hijabnya dibuka, makin cantik. Bunda tadi melihat dia saat tidak memakai hijab. Bunda yang wanita saja kagum, apalagi pria.” Suara Laras membuat Sena tersadar dari lamunannya. Bagaimana bundanya bisa tahu apa yang dia pikirkan?
Kirana memang tidur tanpa melepas hijab instan yang dia kenakan karena masih belum merasa nyaman dengan Sena. Apalagi pria itu menganggap pernikahan mereka hanya sandiwara yang suatu saat akan berakhir dengan perceraian. Tentu saja prosesnya tidak akan susah karena mereka baru menikah secara agama, cukup mengucapkan talak dan tidak perlu mengajukan ke pengadilan agama. Kalau sampai hal itu terjadi, setidaknya Kirana masih menjaga kesucian untuk suami yang benar-benar mencintainya.
“Bunda, ngomong apa sih? Enggak jelas banget,” kilah Sena, mengingkari apa yang ada di hatinya.
“Kirana sudah aku pindahkan ke tempat tidur ya, Bun. Sekarang aku mau lanjut kerja lagi.” Sena gegas meninggalkan kamarnya sebelum mendapat wejangan lagi dari ibu suri.
Laras hanya menghela napas panjang saat putranya ke luar dari kamar. “Sena, Sena. Kapan kamu mau membuka hati? Wanita seperti Ratih itu tidak pantas kamu cintai. Ada Kirana yang jauh lebih baik dan harusnya kamu cintai,” gumamnya.