3

1577 Kata
Leo baru saja mendatangi beberapa kontrak sampai seseorang mengetuk pintu kantornya. "Masuk," ucap Leo dingin. Putra, salah satu orang kepercayaannya. "Maaf, Pak? Ada sesuatu yang terjadi. Lebih tepatnya di Bandung," Putra tampak serius. Leo memasang wajah serius. Ada anak perusahaan yang sedang berkembang di Bandung dan dipimpin oleh sahabat baik almarhum ayahnya, Jaya Kusuma. "Ada indikasi penggelapan dana, dan itu dilakukan oleh..." "Halo?" Alana mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Leo yang melamun. "Maaf," Leo langsung menghentikan gerakan tangan Alana dan membawa tangan Alana ke dadanya. "Aku tahu apa yang aku lakukan padamu itu sakit melebihi apa pun. Hanya saja, aku tahu cara yang seperti ini," Leo menarik Alana ke pelukannya. Untuk pertama kalinya, Alana membiarkan tubuhnya rileks dalam pelukan Leo, mencoba menikmati. "Terima kasih," "Bagaimana kabar orang tuamu di Bandung?" tanya Leo. "Mereka baik," jawab Alana menunduk. Dia sangat merindukan orang tuanya. "Besok kita ke Bandung. Sekalian aku ingin mendatangi kontrak dengan perusahaan Dimas." Alana mendongak memandang ke arah Leo yang balik menatapnya dengan tajam. Leo memperhatikan Alana yang sejak bangun sudah memasang wajah ceria. Ia tampak bahagia dan jauh lebih bebas. Apa ini efek akan bertemu keluarganya? Selama perjalanan, Alana tidak segan-segan untuk ikut bersenandung mengikuti alunan lagu yang diputar. "Aku mengantuk," Leo tidur di pangkuan Alana dengan mulut menjilat pusar Alana. Tidak memperdulikan sopir di depan mereka. "Bisakah menundanya?" pinta Alana tegang. "Tidak," Dan selama di perjalanan, Alana harus sekuat tenaga menahan erangan yang bisa saja lolos dari mulutnya, menerima perlakuan bibir Leo di area pinggang ke bawah. Tiga jam kemudian, mereka sampai di Bandung. Alana langsung menghambur ke pelukan orang tuanya. Menyampaikan rasa rindu yang sudah berbulan-bulan. "Selamat datang," Ayah Alana, Rifa Hermawan, menjabat tangan kokoh Leo. "Terima kasih," Leo berpikir, selama hidupnya ia tidak pernah canggung maupun gugup jika berkumpul dengan siapa pun. Tapi ini? Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan ataupun dilakukan. Berkumpul bersama keluarga Alana menjadi suatu beban yang berbeda. "Tidur saja, aku tahu kau sangat lelah," Alana mengusap-usap rambut Leo. "Ya..." Perlahan, kedua pasang mata Leo terpejam. Alana memperhatikan wajah Leo yang perlahan santai. Leo terkesan pria yang menakutkan. Dengan rahang yang tegas, alis mata yang tebal, mata yang seperti elang, hidung mancungnya. Dia tampan. Sangat tampan. Alana memberanikan diri untuk menempelkan bibirnya di kening Leo, hanya menempel. Dan Leo kembali membuka mata setelah Alana menutup pintu kamar. "Bagaimana kabarmu?" Rifa Hermawan, Ayah Alana, bertanya. Sangat jelas raut kekhawatiran di wajah mereka. "Sangat baik," Alana mengambil gelas berisi jus jeruk yang terhidang di meja. Mereka sedang berkumpul di ruang tamu. "Kalian tidak usah khawatir. Aku hidup dengan baik dan nyaman." "Maaf. Alana harus ikut terseret ke dalam lingkaran seperti ini," Rifa menunduk mencoba menahan tangisnya. "Sudah. Tidak apa-apa. Aku ke sini kangen kalian. Lebih baik gunakan waktu saat ini untuk bersenang-senang," pinta Alana. Ibu Alana mengangguk setuju. "Sudah bangun?" Leo mengangguk. Dia melihat jam dinding dan sudah menunjukkan pukul sembilan. Dia sudah melewatkan jam makan malam. "Aku tidak tega membangunkanmu, lapar?" Tanya Alana pelan. Lagi-lagi Leo mengangguk. "Sebentar. Kubawakan makanan." "Jangan. Aku ingin makan di dapur, ayo?" Leo menarik lengan Alana untuk mengikutinya. "Aku ingin kesederhanaan denganmu." Alana menyiapkan nasi dan lauk pauknya, sementara Leo duduk memandangi Alana dari belakang. Dia begitu cekatan dan tidak canggung sama sekali. "Aku suka melihatmu sibuk di dapur," Alana menegang. Dia bisa merasakan Leo berdiri di belakangnya. "Sangat seksi," Leo menyentuh punggung Alana. Alana tidak bisa berbuat apa-apa. Tangan Leo merayap ke bawah pinggang Alana, mengusap p****t Alana dengan lembut. Sementara bibirnya tidak tinggal diam, menggigit pundak yang tertutup kaus. Alana merintih. "Hmm..." gumam Leo. Lidahnya menari-nari di telinga Alana, memberikan rangsangan. Dengan gerakan cepat, Leo membalik tubuh Alana agar langsung berhadapan. Kedua tangan Leo sudah bertengger di pinggang Alana. "Tutup matamu dan rileks," Alana dapat merasakan embusan napas hangat di wajahnya. Seluruh tubuhnya merinding hanya karena hal kecil seperti ini. Lembut dan hangat menempel di ujung hidung Alana. Itu berlangsung cukup lama. "Aku memujamu, wanitaku," Leo mendaratkan lagi sebuah ciuman di alis Alana. Alana semakin merasa bersalah. Sisi perasaannya selalu menyelinap di sisi logikanya setiap menerima perlakuan lembut dari suaminya. Di sini, Leopard Kusuma yang selalu ingin membuat Alana bahagia dengan cintanya, namun cintanya terkesan gila. Dan sosok Andi selalu muncul membayanginya. "Aku lapar," Rifa Hermawan selalu menyesal. Penyesalan yang paling dalam hidupnya, yaitu begitu mudahnya menyerahkan putrinya pada orang lain. Karena kebodohan itu, semua anggota keluarganya menderita, terutama putri kesayangannya, Alana. Tiadanya anak sama saja dengan hilangnya masa depan kita. Itu juga yang dirasakan Rifa saat Alana pergi, dibawa oleh suaminya. Sepertinya kata suami terlalu bagus, lebih tepatnya yang membeli Alana. Malam itu, Rifa ingat dengan jelas saat Alana terduduk lemas di ujung sofa. "Dengan semua pinjaman dan simpanan, masih terlalu banyak yang harus kita bayarkan," Rifa benci tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan keluarganya. "Berapa hari lagi?" Alana mengangkat kepalanya, menatap langsung pada ayahnya yang sama lemah. "Dua hari." Pukulan terberat Rifa, melihat Alana terisak. "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." "Aku mau menjenguk Ibu." "Besok pagi aku harus sudah di kantor." Alana mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan. Ini bukan hal yang selalu ia rasakan pada Andi, ini hanya kegugupan dan ketakutan pada sang suami, Leo. Leo menjentikkan lidahnya di paha Alana, menjilat semua permukaan paha Alana. Ini begitu menyenangkan. Lebih menyenangakan dari hobinya berburu di hutan. Dari sudut matanya, Leo bisa melihat Alana yang berusaha menahan diri. Kedua tangannya mengepal dan menggigit bibir bawahnya. "Jika masih betah, aku langsung ke sini habis dari kantor." Leo sudah berada di atas tubuh Alana. Kedua sikunya menopang di antara leher Alana agar beban berat tubuhnya tidak langsung menindih Alana. "T-terima kasih," Alana bukan orang penakut, hanya saja dengan keadaan seperti ini, Alana berubah menjadi penakut. "Alana Kusuma. Please Open your Heart?" bisik Leo. "Lihatlah aku sebagai seorang pria yang mencintaimu, bukan seorang pria yang mengambilmu dengan paksa dari keluargamu." Aku tidak bisa. Maaf. Tangan Leo sudah menyelinap di balik kaus yang Alana pakai, mencari kaitan bra. Saat sudah ditemukan, dengan cepat ia melepasnya. Sekarang Alana hanya memakai kaus tanpa bra dan celana pendek. "Aku tidak perlu melepas kausmu. Jika sampai? Aku tidak akan berhenti." Seringai menggoda muncul di sudut bibirnya. Alana tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Menutup mata jalan yang terbaik. Mulut Leo sudah menempel di leher Alana, menghisap kuat-kuat yang dijamin akan meninggalkan bekas merah. Menjepit p****g p******a Alana dengan ibu jarinya. Meski terhalang kain, Leo dapat merasakan p****g Alana mengeras. Sangat Happy, pikirnya. "L-Leo..." sebut Alana tanpa sadar. Ini sangat menyenangkan, Alana memanggil namanya, apalagi di saat seperti ini. "Lakukan lagi?" pinta Leo. "Ngh..." Jepitan Leo semakin kencang. Dia menundukkan mulutnya hingga sejajar dengan d**a Alana, mendekati p****g yang sudah menonjol di balik kaus. "Sebut namaku lagi?" Leo melepas pungutan di p******a Alana. Lalu menatap Alana selama beberapa detik sebelum mengulurkan tangan dan menangkup p******a Alana yang masih terlindungi kaus dengan hati-hati, meremas pelan-pelan. Alana melengkungkan punggungnya sampai erangan kecil keluar. Tubuh Alana tidak bisa diam. Tangannya ke sana kemari mencari pegangan untuk mempertahankan diri dari siksaan yang menyenangkan. Napas Alana memburu seperti habis berlari maraton. Dia merasa pusing menerima sentuhan demi sentuhan. "Kau indah..." bisik Leo parau. "Jauh lebih indah di saat seperti ini." Hana Hermawan memperhatikan setiap gerakan yang dibuat putrinya. Dia mengamati, tapi tidak berani memberikan pendapat apa pun selama hasil pengamatannya belum yakin seratus persen. Selama dua hari ini, Alana bertingkah layaknya induk ayam, memperhatikan Leo. Itu sangat wajar karena Leo suaminya. Bukannya seorang istri harus melayani sang suami dalam keadaan apa pun? Begitu juga Alana pada Leo. Yang jadi pertanyaan, apa putrinya itu sudah menaruh hati pada orang yang sudah memaksanya untuk menjadi pendampingnya. "Leo ke Jakarta?" Hana duduk di samping Alana yang sedang menonton televisi. "Ada urusan mendadak, Bu. Sehabis itu langsung ke sini," Hana melihat bercak keunguan di leher Alana yang tidak tertutup kerah. "Al, Ibu selalu berdoa setiap waktu agar putri ibu ini selalu mendapat kebahagiaan di mana pun." Alana langsung memeluk Hana, sang ibu dengan erat. Berada dalam pelukan sang ibu mampu menghilangkan beban untuk sementara waktu. "Lingkungan baru, Leo mencoba memberikan semua kebahagiaan padaku, Bu. Dan... jujur, aku belum mampu menerimanya secara terbuka," isak tangis terdengar sangat memilukan. "Dan semua ini masih terpaksa?" Hana melepas pelukan Alana, lalu menelusuri setiap inci tubuh Alana. Seakan mengerti arah pandangan sang ibu, Alana memegang lehernya sendiri mencoba menutupi. "Dia bersikap kasar padamu, Nak?" Ini dia hal yang ditakutkan Hana terjadi pada Alana: kekerasan seksual. Alana menggeleng, "Leo tidak pernah menyakiti secara sengaja. Dia hanya butuh pengendalian emosi saja." "Jangan pernah berbohong pada Ibu. Dulu kami begitu mudahnya melepasmu untuk bersama serigala. Tapi mulai dari sekarang, jangan harap," "Terima kasih, Bu." "Sekarang ceritakan bagaimana kegiatanmu di Jakarta?" tanya Hana mencoba mengalihkan arah pembicaraan. Leo baru saja selesai memimpin rapat ketika ada pesan masuk di ponselnya. Dia tersenyum bahagia saat membaca isi pesannya: Jangan lupa makan siang. Walau hanya kalimat sederhana, itu sudah membuat Leo membuncah bahagia. Sekarang Alana sedikit demi sedikit sudah mulai menerima perasaannya, sentuhannya. Dulu, ayahnya, Jaya Kusuma, berpesan. Mendapatkan berlian bukan hanya dengan perasaan saja. Kelicikan juga sangat diperlukan untuk mendapatkan berlian yang sangat istimewa. Sekarang Alana sudah menjadi miliknya, tinggal mencintainya, menjaganya, dan melindunginya. Leo segera mengetik balasan pesan untuk Alana. Aku bisa lupa makan siang tapi tidak bisa lupa dirimu, Lov! Segala urusan di kantor sudah selesai. Leo ingin segera ke Bandung untuk menemui Alana. Ia tidak mengindahkan sapaan beberapa karyawan, karena dari dulu juga Leo tidak pernah membalas sapaan atau senyuman karyawannya. Baru saja akan masuk mobil, Leo melihat seseorang turun dari mobil. Dia…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN