Dua tahun lamanya dia menanti. Selama itu pula dia merindu. Ketika tiba masa untuk bertemu, walau sekadar memandangnya dari kejauhan, takdir mempermainkan mereka. Untuk kedua kalinya, mereka dipisahkan. Kini, mereka harus berpisah untuk selamanya. Kusuma menghela napas. Dia berdiri seraya memandang keluar jendela kamarnya. Tak lama kemudian, dia duduk di kursi panjang. Tidak sampai lima menit, kursi itu terasa tak nyaman bagi Kusuma. Dia berjalan mondar – mandir seperti setrika listrik. Dihampirinya setumpuk buku yang tergeletak berserakan di meja. Dia membaca satu judul. Akan tetapi, sebab beban pikirannya tak jua tenang, Kusuma kehilangan selera untuk membacanya, tak terkecuali buku favoritnya sekali p un. Dia menutup buku itu, kemudian meletakkannya kembali di meja tanpa memperhatikan

