Setelah melintasi portal waktu, Putra terperanjat. Mentari yang sebelumnya terang benderang, lenyap tergantikan kegelapan yang pekat. Dia memutar pandang. Terlihat lingkar cahaya biru ciptaan Kusuma memudar dan lenyap terbawa angin, di belakangnya. Tipisnya cahaya sedikit mampu membuat Putra melihat pohon - pohon di sekelilingnya. Suara decit bambu dan daun - daun yang dimainkan angin. Riuhnya nyanyian serangga yang saling bersahutan. Keheningan malam bahkan mempersilakan dia mendengar jelas kicauan burung hantu yang bertengger entah di mana. "Gadis Neon, di mana ini?" tanya Putra gugup. Kusuma tersenyum, dia melangkah ke depan tanpa menghiraukan pertanyaan itu. Kemudian, kilau cahaya biru berpadu putih terpancar dari tubuhnya. Begitu terang sehingga mata Putra silau dibuatnya. Ketika

