Putra dan Kusuma bagai orang asing. Mereka duduk bersebelahan dalam kabin civic bersama Wandra di belakang. Puluhan pertanyaan pria itu tentang sosok gadis yang dibawa temannya, tak mendapat tanggapan. Wajah beku mereka akhirnya mengerutkan nyali untuk mengulang pertanyaan. Wandra pun bungkam hingga tiba di pelataran rumah. "Put, siapa dia?" Sekali lagi Wandra bertanya sebelum masuk rumah. Kali ini, Putra merespons. Dia keluar mobil dan menjawab, "Dia ratunya jin. Masih mau kenalan?" Dipikir gila, Wandra meninggalkan pria itu dengan kecewa. Mendengar tawa Kusuma, Putra kembali masuk kendaraan. Dia menyalakan mesin sambil berujar, "Tawamu cukup manis untuk didengar, tapi kenapa kamu selalu menyembunyikannya?" Gadis itu bungkam seketika. Putra tersenyum miring, lalu menginjak pedal gas.

