Istana terasa sunyi setelah ditinggal pemiliknya. Safitri merasakan kekosongan itu. Di perpustakaan, tempat yang sering kali digunakan Kusuma untuk menghabiskan sebagian besar waktunya, teranya begitu senyap. Dia pandangi buku - buku di meja, menilik satu per satu judul favorit Kusuma, pun tumpukan buku yang dibaca gadis itu sebelum meninggalkan istana. Gadis yang biasanya duduk manis di kursi paling ujung tempat itu, entah bagaimana kabarnya. Dia tak bisa terhubung dengan Kusuma. Telah dia coba berulang kali, tapi tabir yang memisahkan dua alam enggan menerimanya. Alhasil, dia menanti dalam ketidaktahuan. Berapa lama lagi tugas berat itu akan usai. Safitri tidak menutup mata akan apa yang mungkin dialami Kusuma. Dia tahu betul sebesar apa gadis itu menginginkannya. Kini, dia harus menja

