Bagai dihantam gelombang besar, karang kokoh itu terhuyung - huyung, lalu terpecah menjadi puing - puing yang akan tenggelam di samudra tak berbatas. Tak ada dasar tuk berpijak. Tak ada tepi tuk bersandar. Menikmati kehancuran diri dalam kesendirian. Dia menatap nanar, tak bisa percaya dengan apa yang telah terucap dari mulut Putra. Kusuma mundur perlahan sambil mengumpulkan energi di tangan kanan. Bola cahaya tercipta di bawah telapaknya. Putih terang. Garis - garis cahaya berwarna biru bergerak liar serupa aliran listrik. Sesaat kemudian, Kusuma melemparnya di antara pohon pinus. Gumpalan cahaya itu menyebar, membentuk gerbang berupa garis - garis vertikal setinggi dua meter yang berpusat di puncaknya. Kusuma berpaling, lalu melewatinya tanpa kata. Setelah tubuh gadis itu masuk sepenuh

