Kusuma terbangun dari tidur panjangnya. Dia mengerjapkan mata yang telah sekian lama memejam. Semua tampak samar. Indra penglihatnya belum sempurna menangkap apa pun di sekitarnya. Namun, dia bisa merasakan ada sesuatu yang menindih perutnya. Gadis itu mengerjakan mata lagi, dan sekali lagi. Perlahan - lahan, fungsi retinanya berangsur membaik. Sepetak kamar nan redup beraroma maskulin. Aroma yang dia kenali berasal dari tubuh Putra. Dia memutar pandang ke udara dan jatuh ke pria yang terlelap di samping ranjang sambil menggenggam tangan kanannya. Kabar perut, ah, lengan lain pria itu melintang di sana. Kepalanya kembali jatuh. Tenaganya seakan - akan lenyap entah ke mana. Kusuma merasa lemah dan lelah. Padahal, dia ingin kembali melanjutkan keberhasilan yang terhenti kemarin. Dia melir

