Kusuma menarik diri dari kegilaannya. Dia kembali tersadar bahwa tindakannya tak lebih dari keegoisan, sekaligus kesia - siaan. Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah menang dari Ratu Kencono Sari. Baik ilmu kanuragan maupun kekuasaannya. Wanita itu berhak memiliki apa yang diinginkan. Sedangkan dia berkewajiban memenuhi segala yang sang Ratu butuhkan. "Aku telah melanggar larangan kerajaan. Tidak seharusnya aku menginginkanmu." Kalimat itu keluar dengan pasrah dari bibir Kusuma. Dia menatap langit - langit kamar. Tiba - tiba tempat itu terasa sesak. Dia butuh Udara untuk setiap relung hatinya yang tersiksa. Kusuma beranjak dari ranjang. Dia hampiri ruang tamu yang terasa lengang. Namun, di mana keleluasaan itu ketika Putra masih berada di dekat. Kusuma duduk di kursi berlangan. Dia kemb

