Putra menghempas semua barang yang ada di nakas biliknya. Suara gaduh tercipta akibat benda - benda yang terbuat dari perak terjatuh. Vas, teko, miniatur kereta kencana, dan beberapa gelas berhamburan di lantai. Basah, dia tak peduli pada rombongan air yang mendekati kaki. Matanya nanar menatap cermin, melirik kostum yang melekat di tubuhnya. Aksesoris emas dan permata, jubah itu, mereka tak ubahnya rantai yang mengekang. Dia membenci pakaian itu, sangat. Ketidakadilan kini menerpa. Menjadi Yang Terpilih, dia tidak memahami bagaimana takdir itu bisa hadir dalam kehidupannya. Lelaki biasa, anak kampung tanpa setitik pun darah biru dalam tubuhnya, malam ini telah duduk di singgasana sebagai calon raja. Tak ada yang mustahil di dunia, tapi setidaknya ada alur yang menyatakan kemustahilan

