#10. Perjanjian II

1259 Kata
"Ki, yang bener kamu. Kenapa kamu bawa dia ke sini? Kalau Kanjeng Ratu Kidul tahu, habislah aku, Ki." Wanita paruh baya tampak risau di dipan. Wajahnya mengerut berulang kali, membuat guratan - guratan di kulit yang tak lagi kencang. Kelopak matanya sedikit turun, begitu pula pipinya yang mungkin tembam di masa muda, kini layu termakan usia. Rambutnya mulai memutih. Tak banyak, tapi cukup kentara, garis - garis putih di antara yang hitam dan tergelung asal. Sementara anak - anak rambut dibiarkan unjuk gigi. Tak ada aksesoris emas maupun tembaga yang menghiasi mahkotanya. Dia mengenakan pakaian sederhana. Kebaya cokelat tanpa motif, lengan panjang dengan potongan leher membentuk huruf 'u'. Berbahan katun yang nyaman dan mampu menyerap peluh dengan sempurna. Lihatlah punggungnya yang basah! Embun - embun keringat telah menciptakan jejak di sana. Sebagai penutup tubuh bagian bawah, wanita itu mengenakan batik bermotif mega mendung. Panjangnya hanya sampai di pertengahan betis. Setagen hitam di pinggang mengunci tata letak kain. Rumah berdinding papan itu terbagi menjadi dua bagian. Ruang tamu, ruang makan, dan tempat tidur berada di tempat yang sama. Dipan yang ditempati Putra sekarang, itu satu - satunya perkakas untuk duduk dan merebah. Di balik dinding anyam bambu, dapur masih mengepul. Teko tanah liat menanti isinya yang masih digodok di atas tungku tanah liat. Lidah - lidah api menjilati p****t panci yang telah berubah warna, hitam legam. Potongan kayu dan ranting bekerja sama, merelakan dirinya terbakar demi tuan yang duduk di dipan. "Anak ini sudah dilindungi. Jadi, kamu tenang saja. Nggak usah takut. Yang penting, kopiku itu lho," sahut Maung. "Halah, kamu itu mesti gitu, Ki. Dilindungi siapa? Asal usul dia aja kita nggak tahu. Kamu yakin itu mustika yang sama?" Wanita itu menghampiri tungku, lalu memasukkan beberapa ranting. Kayu - kayu kering bercabang itu bagai menu istimewa. Api membara melumatnya hingga suara - suara gemeletak riuh di dalam. Sementara itu, suara gemuruh terdengar dari panci. Wanita tua membuka tutupnya menggunakan kain lusuh. Setelah mengintip gejolak air yang menyemburkan hawa panas, dia mengangkat panci dan menuang sebagian isinya ke cangkir yang telah berisi bubuk kopi dan gula. Mata Putra terbuka ketika hidungnya menyadari keberadaan aroma kopi yang berkeliaran. Kemudian, dia berjingkat, lalu duduk termenung sembari menggapai kesadaran yang berhamburan. Sebenarnya, tak ada kotoran di mata lelaki itu, tapi dia merasa seolah - olah ada gumpalan yang menggelantung di bulu mata dan mendiami sudutnya. "Akhirnya bangun juga, sini ngopi," ucap Maung sembari memindah satu cangkir ke samping kanan, tepat di depan kaki Putra yang bersila. Dia memijat pundak dan memutar kepala, memberi sedikit peregangan untuk lehernya yang terasa kaku. Mungkin karena tempatnya merebah tak senyaman kasur di rumah, atau bantal kapuk yang sudah mengeras itu. "Di mana ini? Apa kita sudah keluar dari alam aneh dan menyebalkan itu?" tanya lelaki yang sedang mengamati atap jerami. "Hust, jaga bicaramu, Bocah Ganteng! Kalau mereka dengar, bisa murka nanti," sergah wanita yang pantas dia panggil nenek. Sepiring gorengan mendarat di dipan. Tahu dan tempe masih mengepul. Sementara di penggorengan, ada beberapa bakwan yang dihajar minyak panas. Putra meneliti gerak wanita itu dan bertanya - tanya dalam hati tentang siapakah dia, manusia atau jin juga? "Kenapa kamu masih menawanku di sini?" "Aku tidak menawanmu. Setelah manusia masuk ke dunia ini, tiada yang bisa keluar tanpa seizinnya," ucap Maung setelah menggigit tempe. "Kanjeng Ratu Kidul?" Maung mengangguk - angguk. "Hanya dia dan putrinya yang bisa membuka gerbang keluar untuk manusia. Nyai, bawa sini kopiku!" Wanita berkebaya mengangkat cangkir lurik, lalu memberikannya ke Maung. Minuman itu berpindah tangan di hadapan Putra dan bersanding dengan gelasnya kemudian. Setelah itu, dia kembali duduk di depan pawon, menilik tingkat kematangan bakwan. "Putri itu punya hati yang lembut. Dia nggak pernah minta imbalan. Dia juga nggak mau melakukan perjanjian dengan manusia. Dia baik sekali. Kalem. Ya, Ki?" Pria yang habis menyesap kopi itu mendesah. "Ya, ya, dia memang layak dikagumi. Rupanya seperti Dewi Nawang Wulan, tubuh sedhet singset, jemari mucuk eri, dan ketika kamu melihat matanya, seperti ada sihir yang membekukanmu." Maung membenarkan kain putih yang melorot dari pundak, "lakunya seperti macan kelaparan, timik - timik." "Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?" Kedua tangan Putra bertaut di depan. Raut muka yang semula ogah - ogahan, kini berubah serius. Cara pandangnya menajam, seakan menodong mereka supaya memberikan lebih banyak informasi. "Lho, bukannya kamu sudah ketemu sama dia, Le?" Jemari keriput mengangkat gorengan pertama dari wajan dan meletakkan camilan panas itu di piring. Mendengar ucapan wanita tua, mata Putra terbelalak, keningnya mengerut seiring alis yang terangkat otomatis. Tampak puluhan tanda tanya berputar - putar di atas kepala lelaki itu. Bahkan ketika si nenek menaruh piring di meja, tatapannya masih sama. "Dia yang ngusir Maung saat kamu terjebak di tengah hutan larangan," lanjutnya. "Apa! Bagaimana ...." Putra teringat akan peristiwa malam itu dan mengerti siapakah sosok yang dimaksud. Lantas, dia menoleh ke arah pria berjanggut putih dengan tatapan yang sedikit beda dengan sebelumnya. Penuh tanya yang dibumbui rasa waswas, "ka-kamu harimau benggala itu." Dia melompat dari dipan seketika dan berdiri dengan sikap siaga. "Itu wujudku yang lain. Jangan salah mengerti! Sebenarnya, aku hanya ingin menakut - nakutimu agar kamu segera meninggalkan tempat itu. Sebab di sana, ada banyak sekali makhluk astral yang hendak berniat buruk padamu," jelas Maung dengan logat Jawa yang kental. "Ah, bodoh!" Sikap siaga Putra luntur. Dia berbicara sambil menjatuhkan bobotnya di tepi ranjang, dengan kedua siku bertumpu di lutut, "aku pikir dia berbohong. Aku pikir dia sama dengan mereka yang ingin menjadikan manusia sebagai budaknya. Jadi, aku memutuskan kabur dari hunian gadis itu." Maung menghela napas panjang, lalu mengangkat kembali cangkirnya. "Dia tidak sama dengan Kanjeng Ratu. Putri Kusuma tidak ingin menyesatkan manusia. Sering kali, dia malah membenarkan jalan mereka yang keliru." "Aneh. Bukankah kaum jin lebih suka menyesatkan manusia?" "Sejatinya dia tidaklah sama dengan kami. Kusuma merupakan anak manusia yang diangkat menjadi putri Kanjeng Ratu." Maung meneguk kopi. "Saat kecil, dia suka bermain di Pantai Parang Kursi. Sejak Kanjeng Ratu mendengar gelak tawanya, dia tak bisa berpaling hingga muncullah menginginkan untuk memiliki tawa itu. Suatu ketika ayah Kusuma datang ke pantai untuk menemui Kanjeng Ratu. Dia meminta pertolongan sebab istrinya sakit keras. Alhasil, perjanjian itu tercipta." "Bagaimana kamu tahu kebenaran dari kisah itu?" "Akulah yang menyarankan agar Kanjeng Ratu mengangkatnya sebagai seorang putri, bukan b***k seperti yang lain. Tak banyak yang tahu kisah ini, bahkan Kusuma sekali pun." Giliran Putra yang melepas udara dari mulutnya dengan malas. "Merahasiakannya, apa kau bercanda? Ingatan seorang anak itu sangat kuat. Dia pasti tahu siapa orang tua dan tempat asalnya," sanggah Putra. Kalimat ceplas - seplos pemuda membuat Maung berdecak-decak. Kalau di dunia manusia, dia tak menampik asumsi itu. Namun, ini dunia yang berbeda di mana yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. "Kanjeng Ratu Kidul telah menghapus ingatannya di masa lalu. Jikalau pun rahasia ini sampai terdengar Kusuma, maka nyawa keluarganya akan dalam bahaya, sebab perjanjian itu tidak hanya melibatkan ayah dan ibunya, tapi juga seluruh keturunan keluarga itu." Mulut Putra terkunci. Dia pun menggembok informasi yang baru saja terdengar dalam bilik memori. Seluruh anggota keluarga, perjanjian yang diwariskan, tampak tak masuk akal. Namun, ketika dia teringat akan mitos para raja di keraton Yogyakarta, tak ada lagi logika yang menguatkan opininya. Dia pun mulai meyakini akan kebenarannya. "Lalu, kenapa kamu menceritakan rahasia ini kepadaku?" Atmosfer berubah senyap dalam sekejap. Suara gemeletak kayu di perapian terdengar lebih keras dari sebelumnya. Maung menatap kosong wanita yang menunduk di dapur. "Sebab kamu adalah lelakiku." Mereka terperanjat setelah mendapati sosok wanita berkemban hijau berdiri di ambang pintu. *** to be continue .... *** NB : Ini hanya kisah fiktif belaka. Tidak ada kaitannya dg sejarah maupun mitos yang ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN